Ficool

Chapter 106 - Chapter 106

i

⚡ CHAPTER 106 — "Jeritan Pertama Zura, Amukan Damien, dan Pembunuh Dewa Es"

---

❄️ ADEGAN 1 — Alam Es Rahasia Dewa Es

Zura tergeletak di lantai es jernih.

Tubuhnya dibelenggu rantai spiritual yang menyala biru.

Ruangannya seperti penjara surgawi—dingin, sunyi, tidak ada sedikit pun panas.

Pembunuh Dewa Es berdiri di depan Zura sambil memegang tombak es yang berdenyut seperti jantung.

> "Sial sekali. Boneka sepertimu dibuat dari inti petir dan kegelapan tingkat tinggi.

Sayangnya… kau masih punya kelemahan."

Zura menatapnya tanpa ekspresi.

> "Aku… tidak punya rasa sakit."

Pembunuh itu tersenyum kecil, sadis.

> "Itu sebelum teknik ini."

Ia menancapkan tombak itu ke lantai.

Gelombang dingin membanjiri seluruh ruangan.

Zura menggigil untuk pertama kalinya.

Rantai spiritual berubah menjadi rantai penarik jiwa.

---

⚠️ ADEGAN 2 — Zura Mengalami "Sakit" Pertama Kali

Tiba-tiba—

SHRRRRAAAKK—!!!!

Rantai itu menarik energi di dalam tubuh Zura.

Petirnya melesat keluar seperti disedot paksa.

Api merah gelap dari inti dalam tubuhnya menyala liar tapi dipaksa mati.

Kegelapan yang melindungi tubuhnya dihancurkan.

Zura mengerang—

tapi masih menahan.

> "Ghh… aku tidak… akan… berteriak…"

Pembunuh itu menekan tombaknya sedikit.

Gelombang dingin langsung menghancurkan sambungan jiwa yang menghubungkan Zura dengan Damien.

Akhirnya—

"AAAAAAAAAAAAAAAAH—!!!"

Jeritan Zura pecah.

Jeritan yang tidak pernah seharusnya muncul dari makhluk sekuat itu.

Pembunuh itu mengangguk puas.

> "Begitu.

Boneka tetaplah boneka.

Bahkan jiwa buatan bisa dihancurkan."

Zura menunduk, napasnya tersengal.

Matanya yang biasanya datar… sekarang bergetar.

> "…Damien…"

"…aku… minta maaf…"

---

🌘 ADEGAN 3 — Dampaknya pada Damien

Damien tiba di gerbang dimensi es.

Saat Zura menjerit,

jiwa Damien sendiri terasa seperti terkoyak.

Damien langsung bersujud menahan rasa sakit.

Rex & Hana yang ikut tertarik ke tepi portal terhuyung mundur.

Hana: "Damien?! Apa yang terjadi?!"

Damien menunduk, wajahnya gelap.

Suara Misterius terdengar panik.

[Itu… Zura. Jeritannya masuk langsung ke jiwa Damien.

Itu teknik penghancur jiwa—DAMIEN, JANGAN MASUK DENGAN EMOSI—]

Kael memotong sambil berteriak:

"KALAU ANAKKU MAU MARAH, BIARKAN!!"

Damien berdiri.

Aura bulan hitam + petir ungu + api darah menyala bersamaan.

Tatapan Damien bukan manusia lagi.

> "Siapa pun…

yang membuat Zura menjerit—

AKAN KUMUSNAHKAN."

Portal pecah terbuka.

---

❄️ ADEGAN 4 — Damien Tiba, Pembunuh Menyambut

BAM!!

Damien muncul di tengah penjara es, langsung diselimuti hawa dingin.

Pembunuh itu menoleh pelan.

> "Akhirnya datang, Valtreos."

Damien melihat Zura— terikat, terluka, retak, nyaris kehilangan energi.

Zura mendongak, lemah.

> "Maaf… Damien… aku… tidak cukup kuat…"

Damien perlahan berjalan maju.

> "Zura…"

"Kau tidak salah. Kau tidak pernah salah."

Ia mengangkat kepala, menatap pembunuh itu.

> "Satu-satunya yang salah… adalah orang yang menyentuhmu."

Petir menggila di tubuhnya.

Lantai es retak hanya karena langkahnya.

---

⚔️ ADEGAN 5 — Pertarungan Dimulai

Pembunuh mengangkat tombaknya.

> "Tugas utamaku membunuhmu.

Boneka-mu hanya bonus."

Damien muncul tepat di hadapannya tanpa suara.

Pembunuh terkejut.

"—?!"

CRAAACK—!!!

Tangan Damien menggenggam tombak es itu…

dan menghancurkannya seperti kaca.

Pembunuh: "Tombak itu dibuat oleh Dewa Es sendiri—"

Damien menatap dingin.

> "Aku tidak peduli."

Damien menghantam dadanya.

BOOOOOM—!!!

Pembunuh mental menabrak dinding es sampai 3 lapis.

---

🌑 ADEGAN 6 — Damien Mengaktifkan Mode Petir-Darah

Aura merah dan ungu menyala di tubuhnya.

Suara Misterius: [Damien, itu mode yang belum stabil!]

Damien: "Diam. Aku tidak butuh stabil."

Kael: "UH OH—INI MIRIP WAKTU IBU-NYA MARAH—SEMUA ORANG MATI—"

Damien:

> "…Zura menjerit karena dia.

Aku tidak akan membiarkan itu terulang."

Petir darah mengalir dari matanya.

Pembunuh bangkit, tubuhnya retak-retak.

> "Tch… kau monster!"

Damien tersenyum tipis, dingin:

> "Aku?

Kau bahkan belum melihat setengahnya."

---

❄️ ADEGAN 7 — Zura Menangis "Tanpa Air Mata"

Zura melihat Damien yang mengamuk.

Meskipun tidak bisa menangis…

bagian wajahnya retak halus seperti pecahan kaca.

> "…Damien… terima kasih…"

Itu bukan rasa sakit.

Itu… lega.

Untuk pertama kalinya, Zura merasakan "takut kehilangan"—

dan ketika Damien datang, semuanya hilang.

---

🔥 ADEGAN PENUTUP — Damien Menari di Atas Es dengan Amarah

Damien menghilang.

Kemudian muncul di belakang pembunuh.

SLASH—!!

Dengan tangan kosong, ia merobek lapisan es pelindung pembunuh.

Pembunuh itu terkejut dan berteriak.

Damien berceloteh tipis:

> "Tenang.

Aku belum membunuhmu."

Ia menatap pembunuh itu dengan mata merah-ungu.

> "Kau akan tetap hidup…

sampai aku selesai menghancurkan setiap bagian dari teknik yang kau pakai pada Zura."

Pembunuh itu akhirnya merasa… takut.

---

🔥 END CHAPTER 106 🔥

More Chapters