Ficool

Chapter 85 - Chapter 85

---

⚔️ CHAPTER 85 — "Ujian Dewa, Void Resonance Aktif, & Dua Calamity Bertabrakan"

(Lanjutan langsung — tanpa skip, tanpa recap)

---

❖ ADEGAN AWAL — AURELIUS MENGIRIM UJIAN DEWA

Frostveil Palace —

Aurelius membuka mata ketiganya Glacial Divinity Eye penuh-penuh.

WUUUMMM—

Suhu ruangan turun ratusan derajat.

Dalam penglihatan itu, cahaya perak Damien semakin terang…

dan sesuatu bergemuruh jauh di balik ruang.

Aurelius mengepal tangan.

"Jika kau bukan ancaman… kau akan bertahan.

Jika kau ancaman… aku akan menghapusmu."

Ia mengangkat telapak tangan.

❄ Frozen Judgement Seal ❄

Tanda es berbentuk bulan pecah menjadi serpihan mikro.

Serpihan itu melesat menembus ruang dan dimensi—

mencari Damien.

---

❖ ADEGAN 2 — DAMIEN MERASAKAN TEKANAN DARI LANGIT

Di padang rumput tempat mereka keluar portal—

Damien duduk, tubuh masih hancur dalam.

Zura berdiri santai, nyemilin buah dimensi yang entah dari mana.

Rex lagi latihan kuda-kuda yang salah total.

Hana memandang Damien penuh kekhawatiran… sambil menyembunyikan blush.

Tiba-tiba—

🌑 LANGIT MENGHITAM.

Tiga lapis awan es turun seperti tirai kematian.

Rex langsung jatuh terduduk.

"BROOOO KENAPA LANGIT JADI ERROR???"

Hana memukulnya.

"Itu bukan error! Itu—"

Ia berhenti.

Matanya membesar.

"…itu aura DEWA."

Zura menggigit buahnya… lalu berhenti.

Tatapannya berubah serius setengah detik—lalu balik santai lagi.

Zura (mengunyah pelan):

"Hmm. Dewa marah level medium.

Rating 6/10.

Agak ribet."

Damien berdiri dengan susah payah.

Matanya menatap langit dengan dingin.

"Aurelius…"

Awan es retak.

Turunlah sebuah pecahan es berbentuk simbol bulan—

menuju Damien.

Kael Arclight di kepalanya menjerit:

> "ITU UJIAN DEWA, BUKAN SNOWBALL!!"

Dewa Misterius hanya berdesis:

> "Jika kau gagal, jiwamu pecah. Simpel."

Damien menarik napas.

"…baik."

Ia membuka kedua matanya—

warna peraknya memudar…

berganti hitam pekat.

---

❖ ADEGAN 3 — VOID RESONANCE AKTIF

BUUUM—

Aura gelap namun elegan keluar dari Damien.

Terjadi resonansi di seluruh tubuhnya.

Void Resonance (Lv.1) — Aktif.

Tanah di bawahnya terangkat.

Rex terseret angin sampai berputar seperti kipas.

Rex:

"ZURAA TOLONG AKUUU AKU MUTER KAYAK BESEEK!!"

Zura mengangkat tangannya santai.

"Berhenti dikit." TAP

Rex langsung jatuh ke tanah.

Zura melirik Damien.

"…Aneh. Anak ini cuma Spirit Manifest Realm 4 tapi void-nya bangun."

Hana menelan ludah.

"Itu… bagus atau buruk?"

Zura:

"Hmm… 70% buruk. 30% keren."

---

❖ ADEGAN 4 — BENTURAN: VOID VS FROZEN JUDGEMENT

Frozen Judgement Seal turun seperti bintang es raksasa.

Damien mengangkat tangannya.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada serangan pedang.

Hanya… kegelapan yang diam.

Damien:

"Void Art — Resonance Break."

SEKETIKA—

Segala udara menghilang.

Suara hilang.

Waktu seakan menahan napas.

Bintang es itu menabrak resonansi hitam—

BOOOOOOOOMMMMMMMMM!!

Shockwave menghantam radius 10 km.

Rex mental 300 meter.

Hana terbang dan ditangkap Zura dengan satu tangan sambil tetap makan buah.

Zura:

"Hmm. Ledakannya lumayan."

Ledakan berhenti…

dan Damien tersungkur, napas kacau.

Namun—pecahan es itu terbelah dua.

Ujian Dewa DITAHAN.

Aurelius—jauh di Frostveil—membelalak sedikit.

"…dia memecahkannya?"

Untuk pertama kalinya, tatapan Aurelius kehilangan dinginnya.

---

❖ ADEGAN 5 — DAMIEN TERJATUH, TAPI TIDAK KALAH

Void Resonance mati.

Damien jatuh berlutut.

Ia belum naik ranah—

kondisinya hanya menipis sampai batas.

Lyanna—yang melihat dari kejauhan melalui penglihatan es Aurelius—berteriak lirih:

"Damien…!"

Aurelius menutup mata ketiganya.

Aura esnya menggeram.

"Baik.

Jika ujian pertama gagal membunuhmu…

Ujian kedua akan melumatmu."

Ia menyiapkan Frozen Cataclysm Trial, yang jauh lebih mematikan.

---

❖ ADEGAN 6 — ZURA MASUK DAN MEMBANTU DAMIEN (CARANYA KOCAK)

Zura menatap Damien yang pingsan setengah.

Ia menghela napas pelan.

"Yah. Anak ini keras kepala."

Ia membungkuk—

MENGGENDONG DAMIEN DI BAHU SEPERTI KARUNG BERAS.

Rex: "Zura bro… itu agak kasar…"

Zura:

"Kalau aku gendong terlalu lembut, dia bangun dan sok kuat lagi."

Hana tertawa kecil.

"…benar juga."

Zura berjalan santai sambil bawa Damien di bahunya.

"Kita pergi sebelum ujian kedua turun.

Aurelius lagi moodswing."

Rex: "Ujian kedua itu apa?"

Zura menggigit buahnya lagi.

"Hmm…

Semacam meteor es seukuran gunung.

Nggak besar-besar amat."

Rex: "GUNUNG APA NGGAK BESAR?!"

Zura: "Gunung kecil."

Hana: "Zura tolong jangan ngomong santai begitu!"

Zura: "Santai saja. Selama aku ada, kalian aman.

Mungkin."

Rex: "MUNGKIN?!!"

---

❖ ADEGAN PENUTUP — AURELIUS MENJATUHKAN UJIAN KEDUA

Aurelius membuka tangan.

Di langit Frostveil—

❄ A meteor of glacial judgment is formed. ❄

Bahkan Dewa lain pun terbangun dari tidurnya.

Aurelius bergumam dingin:

"Damien Valtreos…

Ujian kedua dimulai."

Meteor itu jatuh, menembus tujuh lapis ruang—

menuju lokasi Damien…

dan arc baru dimulai.

---

🔥 END CHAPTER 85

More Chapters