Ficool

Chapter 58 - chapter 58

──────────────────────────────

🔥 CHAPTER 58 — "Hari Kedua Latihan: Menyiksa Tubuh, Menghancurkan Ego, & Strategi Raviel"

──────────────────────────────

Kabut pagi di lembah latihan sudah mencerai sebelum matahari naik.

Damien berdiri dengan tangan terlipat, wajah setengah dingin, setengah kesal karena dua suara di kepalanya masih berdebat dari tadi pagi.

> Kael Arclight: "Cara latihannya SALAH, harus dari fondasi otot dulu!"

Suara Misterius: "Kau itu dewa tinju barbar! Ini era modern, bukan zaman batu!"

Damien menutup mata.

"Kalau kalian berdua tidak diam, aku sumpal pakai batu."

Keduanya langsung:

> "…lanjutkan saja latihannya."

Zura, Rex, dan Hana menahan tawa.

──────────────────────────────

🔥 Latihan Hari Kedua: Menguatkan Tubuh Core Formation Realm

──────────────────────────────

Damien berdiri di depan sungai deras yang dingin.

Zura mengangkat alis.

"Master, hari ini tantangannya apa?"

Damien menunjuk air sungai.

> "Kita melawan arus. Seribu langkah.

Siapa tersapu air duluan… ulang dari awal."

Rex langsung pucat.

"SERIBU…? L-Damai— maksudku Tuan Damien, sungainya ini level bencana alam—"

Damien berjalan ke sungai.

Air itu seperti mencoba menelan kakinya.

"Ini cara terbaik buat menguatkan inti energi."

Hana menggertakkan gigi.

"Aku… akan mencoba!"

Rex:

"Aku… tidak akan mencoba."

Hana:

"Kau akan kalau tidak mau aku seret."

Rex langsung masuk sungai.

──────────────────────────────

💧 Tekanan Arus yang Gila

──────────────────────────────

BRUUUAAASH—

Arus menghantam kaki Damien.

Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.

Aura Core Formation 1-nya memancarkan stabilitas intens.

Sementara itu…

Rex langsung hanyut.

"AKUUUUUUU—!!!"

Hana menariknya dari belakang baju.

"Jangan drama!"

Zura menahan senyum.

"Ini efektif. Tubuh mereka tertekan… tetapi meningkat."

Dan benar—

aura Hana & Rex makin stabil ketika melawan arus.

Keduanya perlahan mulai berkembang.

📈 Rex → Pulse Awakening 7 (masih panikan)

📈 Hana → Pulse Awakening 7 (lebih tenang)

Damien menatap mereka, terdiam.

Dalam hati:

> "Bagus. Mereka naik stabil. Mereka butuh ini kalau mau ikut aku sampai akhir."

──────────────────────────────

🔥 KAEL vs SUARA MISTERIUS — ROUND 2 (lebih kacau)

──────────────────────────────

Saat Damien mulai mencapai langkah ke–700, kepalanya kembali panas.

Kael:

> "Lihat? Cara ini terlalu lambat. Aku waktu muda sudah melawan arus LAVA."

Suara Misterius:

> "Oh ya? Dan kau MATI akhirnya."

Kael:

> "ITU NAMANYA PENGORBANAN MULIA!"

Suara Misterius:

> "Pengorbanan bodoh."

Damien meledak.

> "BISA NGGAK KALIAN BERTENGKAR SETELAH AKU NAIK TINGKAT?!"

Keduanya:

"…maaf."

Damien:

"Bukan minta maaf. Diam."

Keduanya:

"…baiklah."

Zura sampai menunduk menahan tawa.

──────────────────────────────

🔥 Raviel Menyusun Strategi

──────────────────────────────

Di kota Solara, Raviel duduk di atas bangunan tinggi, angin meniup rambut peraknya.

Di depannya, tiga anggota kelompoknya berlutut.

Raviel membuka catatan kompetisi Warisan Dewa Tinju.

> "Satu bulan lagi… Damien Valtreos harus ditumbangkan."

Anak buahnya bertanya:

"Tuan Raviel, dia naik ke Core Formation 1… apa masih bisa diatasi?"

Raviel tersenyum tipis.

> "Ya. Karena aku tahu kelemahannya."

Ia memejam mata.

> "Damien hanya bisa melawan musuh yang 1 tingkat di atas ranahnya.

Kalau aku memaksa naik ke Core Formation 3 dalam sebulan…

dia tidak akan bisa menyentuhku."

Para bawahan terkejut.

"Itu… gila, tuan!"

Raviel berdiri.

Aura Essence Flow 9-nya bergetar liar.

> "Gila adalah jalan menuju kemenangan."

Ia mengepalkan tangan.

> "Damien… mari kita lihat siapa pewaris sejati di kompetisi dewa tinju nanti."

──────────────────────────────

🔥 Akhir Latihan Hari Kedua

──────────────────────────────

Damien akhirnya mencapai langkah ke–1000.

Sungai berhenti seperti takut padanya.

Zura, Hana, Rex terkapar di pinggir.

Rex menatap langit.

"Damien… bukan manusia."

Hana kelelahan.

"Tapi… kita jadi makin kuat…"

Damien menghela napas.

> "Besok latihan lebih berat."

Rex:

"Tolong… bunuh saja aku sekarang…"

Damien menatap ke arah matahari terbenam.

> "Warisan Dewa Tinju.

Satu bulan lagi…"

Namun Kael Arclight terdengar lagi.

> "Tenang saja, anakku. Aku yang akan membuatmu memenangkan kompetisi ini."

Suara Misterius membalas:

> "Tidak! Aku yang membimbingnya! Kau sudah mati!"

Damien mengangkat batu dan mengancam:

> "Siapa yang ribut, aku timpuk."

Keduanya:

"…baik, ayolah bekerja sama sebentar saja."

Damien tersenyum kecil.

> "Ini baru tenang."

Ia menatap langit.

> "Kompetisi… aku siap."

──────────────────────────────

🔥 END CHAPTER 58

──────────────────────────────

More Chapters