Ficool

Chapter 43 - Chapter 43

🔥 CHAPTER 43 — "Kuil Cahaya Kuno, Malaikat Turun, & Jejak Pertama Ayah Damien"

(Lanjutan langsung dari akhir Chapter 42 — tanpa pengulangan satu pun)

---

🌙 ADEGAN PEMBUKA — GETARAN DARI LANGIT ATAS

Begitu Damien berkata, "Berikutnya… inti cahaya,"

seluruh langit mendadak bergetar.

Rex menatap ke atas sambil goyang-goyang bahu.

"Bro… jangan bilang gara-gara lo ngomong, langit langsung nyerah."

Damien mengabaikannya. Ia memejamkan mata, fokus pada suara Misterius.

Suara Misterius muncul lagi, kini lebih berhati-hati:

> "Untuk inti cahaya… kau harus pergi ke Kuil Luminara, kuil kuno yang dijaga ras malaikat kecil tingkat rendah." "Tapi… hati-hati. Cahaya tidak selalu suci."

Rex menyikut Damien. "Kalau ada malaikat, berarti ada bidadari… kan?"

Hana menatap sinis: "Cintamu jangan ngesot di depanku."

Damien: "Ayo berangkat."

Dan tanpa menjelaskan apa pun, ia mengeluarkan petir lunar dari kakinya.

Dalam sekejap mereka melesat ke arah timur.

---

🌟 ADEGAN 1 — KUIL LUMINARA & KEHADIRAN YANG MENGAWASI

Perjalanan dua jam terasa seperti lima menit karena Damien memaksa tubuhnya hingga batasnya.

Akhirnya mereka tiba di depan Kuil Luminara, sebuah kuil putih raksasa yang melayang beberapa meter di atas tanah, memancarkan cahaya lembut tapi menakutkan.

Hana menelan ludah.

"Aura ini… bukan aura manusia."

Rex mengangguk cepat. "Bro… kalau tiba-tiba gua jadi suci, bunuh gua ya."

Damien melangkah mendekat. Begitu ia menyentuh gerbang cahaya…

BRUKKK!

Sebuah tekanan turun dari langit.

Bukan sekadar tekanan spiritual—

tapi tekanan kesucian yang mencoba menelan energi gelap dalam tubuh Damien.

Damien: "…Tch."

Di dalam tubuhnya, suara ayahnya muncul lagi, tenang namun memerintah:

> "Jangan tunduk. Cahaya tidak berhak menilaimu." "Tunjukkan petirmu."

Damien mengepalkan tangan—

petir hitam-ungu meledak, menghancurkan tekanan cahaya.

Gerbang kuil pun terbuka.

---

👼 ADEGAN 2 — TURUNNYA MALAIKAT PENJAGA

Begitu mereka masuk, cahaya berputar dan berkumpul.

Sosok cantik dengan rambut emas panjang, mata putih-bercahaya, dan enam sayap kecil melayang turun.

Rex langsung ternganga. "BROOOO MALAIKAT CANTIK—"

Hana mencubit kuping Rex sampai merah.

Malaikat itu menatap Damien tajam.

Malaikat: "Manusia… dengan energi kegelapan, petir lunar, dan aura ilahi…" "…siapa kau sebenarnya?"

Damien tetap tenang. "Aku hanya butuh inti cahaya."

Malaikat itu terdiam sejenak, menatap dalam seolah membaca jiwanya.

Kemudian ia berkata:

"Tidak semua yang membawa gelap adalah jahat." "Tapi tidak semua cahaya membawa kebaikan."

Damien: "Simpelnya… boleh atau tidak?"

Malaikat mengangkat tangan.

Tiba-tiba empat pedang cahaya menodong leher Damien.

Malaikat: "Ambil jika kau bisa." "Inti cahaya dijaga oleh kami—ras Aetherial." "Jika kau ingin itu, kalahkan aku."

Rex panik. "Hah?! Bro dia enam sayap! Itu pasti level gede!"

Suara Misterius muncul:

> "Hati-hati. Itu malaikat kelas menengah." "Ranahnya Pulse Awakening Realm tingkat puncak." "Kau bisa menang… tapi jangan ceroboh."

---

⚡ ADEGAN 3 — PERTARUNGAN: CAHAYA MELAWAN BULAN & PETIR

Malaikat menyerang duluan. Puluhan tombak cahaya terbang seperti hujan meteor.

Damien mengaktifkan Moonline Burst — Step One.

SRAAK! Ia menghindar dengan kecepatan yang membuat ruang bergetar.

Malaikat mengerutkan kening. "…cepat."

Damien muncul di atasnya. Petir lunar menghantam sayapnya—

DUARRR!!

Cahayanya goyah.

Malaikat kaget. "Kekuatan… campuran?!"

Damien ingin menutup jarak, tapi malaikat membuka lingkaran cahaya di bawahnya.

"Sanctified Zone."

Seketika seluruh ruangan menjadi putih.

Tubuh Damien bergerak lebih berat. Petirnya seperti ditekan.

Damien: "Tch…"

Suara ayahnya muncul lagi, kecil tapi jelas:

> "Biar aku bantu sedikit… hanya 0,5%."

Tiba-tiba—

petir Damien berubah wujud.

Warnanya lebih pekat.

Auranya jauh lebih berat.

Malaikat membelalakkan mata.

"Aura… DEWA?!"

Dalam sepersekian detik—

TRAAAAAAAAK!!!

Damien menembus pertahanan cahaya malaikat dan memukul inti energinya.

Malaikat jatuh berlutut, sayapnya goyah.

Damien berdiri di depannya, petir lunar masih menyala.

Malaikat menurunkan wajah…

kemudian tersenyum kecil.

"Kau… pantas."

Ia mengangkat telapak tangan, cahaya berkumpul menjadi bola suci berukuran telapak tangan.

Inti Cahaya — Luminara Core.

Malaikat: "Ambil. Tapi ingat…" "…kegelapanmu akan selalu coba ditolak oleh dunia ini." "…hingga suatu hari, dunia akan tunduk padamu."

Damien mengambil inti cahaya itu tanpa banyak bicara.

---

🌙⚡ ADEGAN 4 — PETUNJUK TENTANG AYAH DAMIEN

Saat mereka keluar dari kuil, Suara Misterius terdengar sedikit gugup.

> "Damien… kau harus tahu sesuatu." "Ras malaikat tidak tunduk pada siapa pun." "Kecuali… pada sosok tertentu."

Damien berhenti berjalan. "Ayahku?"

Suara Misterius: "…benar." "Kael Arclight… adalah entitas yang pernah disembah ras Aetherial di masa lalu."

Rex melongo. "BRO… ayah lo Dewa Cahaya juga???"

Suara Misterius: "Bukan cahaya." "Lebih tinggi dari itu."

Damien tidak merespons.

Ia hanya menggenggam inti cahaya lebih erat.

Damien: "Tersisa satu: inti kegelapan."

Rex langsung pucat. "Bro… kita mau ke dunia gelap?! GUA BELUM SIAP JADI ZOMBIE!"

Hana: "Aku ikut. Kalian berdua pasti mati kalau ditinggal."

Damien: "Ayo jalan."

Dan saat mereka meninggalkan kuil…

di kejauhan, dari balik bayangan pohon—

dua sosok berjubah hitam mengintai.

Orang 1: "Target cahaya telah turun tangan."

Orang 2: "Laporkan pada organisasi." "Kita harus menangkap gadis bernama… Lyanna."

Sosok itu menghilang.

---

🔥❄️⚡✨

END OF CHAPTER 43

More Chapters