Ficool

Chapter 4 - Chapter 4 Gema Si Munafik

Jeanne berdiri di ruangan yang gelap seolah tak berujung.

Mata Jeanne tertuju pada kursi kayu tua yang diatasnya diterangi cahaya. Dia berjalan sambil mengamati sekeliling, perasaan yang campur aduk menghantuinya.

Ketika sampai didekat kursi itu Jeanne melihat secarik kertas dengan seperti tulisan gadis kecil yang cukup bagus, dia mengambilnya dan membacanya.

"Duduklah.." Jeanne melirik dengan heran, namun pikirannya membujuknya untuk mengikuti tulisan.

Jeanne perlahan duduk. Suasana yang gelap dan sunyi.

BZZT.

Suara dan sinar lampu yang berkedip muncul tiga meter didepan Jeanne. Dia meliriknya dengan serius.

Gadis berusia delapan tahun, rambutnya putih dan panjang mengenakan bandana biru cyan serta pita kecil. Gadis itu menggunakan dress hitam sederhana dengan pita putih dibagian dada. Mata biru yang indah menatap Jeanne.

Dia duduk berhadapan dengan Jeanne dari jarak tiga meter. Mata Jeanne saling bertemu dengan gadis itu, sesaat membuatnya terkejut.

Gadis kecil itu tidak lain adalah Jeanne. Jeanne kecil tersenyum dan melambaikan tangan.

Jeanne kecil berkata dengan tenang."Kamu tidak melarikan diri seperti dulu." Ucapnya tersenyum lembut sambil mengayunkan kaki mungilnya.

"Seperti dulu?" Tanya Jeanne. Dia mengamati dirinya yang kecil.

Jeanne kecil mengangguk."Kenapa kamu bertanya?" Lalu dia menambahkan."Jadi kamu melupakanya...Kamu melarikan diri dari kenyataan." Jeanne kecil melompat dari kursinya.

"Aku tidak melarikan diri dari kenyataan!" Bantah Jeanne.

Gadis kecil itu berdiri diam, kepala menunduk seolah enggan menatap Jeanne di hadapannya. Rambutnya jatuh menutupi mata, memberi kesan rapuh. Kedua tangannya disembunyikan di belakang tubuh, sementara gaunnya tergerai pelan, bergerak mengikuti napasnya yang halus.

Dia tersenyum dan berkata."Kamu benar benar melupakannya." Ruangan gelap itu seakan menyusut, membuat jarak Jeanne dan Jeanne kecil berdekatan.

Seketika Jeanne melihat pemandangan yang tidak asing, dia melihat dirinya yang kecil berada di ruangan kelas. Ia mengenakan beret hitam berhias pita merah marun di sisi kanan kepalanya. Mengenakan pakaian sekolah dasar hitam putih dan pita ungu.

Jeanne kecil duduk sendirian di kursinya, sambil membaca buku. Perlahan dia menoleh ke arah Jeanne yang mengamatinya. Lalu berkata."Aku kesepian dan sendirian selama ini...Kenapa kamu memilih melarikan diri..." Lalu menambahkan."Kamu munafik". Kata itu menggema di sekitar hingga di kepala Jeanne

Jeanne menggelengkan kepalanya."Tidak..." Jawabnya pelan. Suara itu terus menggema dan mengulang dikepalanya, Jeanne menutup telinganya dengan kedua tangan, sambil berjongkok.

"TIDAK!" Teriak Jeanne.

...

Jeanne serentak terbangun sambil berteriak. Nafasnya terengah engah. Jeanne menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri.

Jeanne memperhatikan jari jarinya yang dibalut oleh perban, serta tangan kirinya yang dibalut gips. "Aku penuh dengan luka..." Jeanne menghela nafas.

"K-Kamu baik baik saja?" Suara yang lembut dan asing bertanya kepada Jeanne.

Jeanne menoleh ke arah sumber suara, Seorang wanita berkacamata bersembunyi di balik tirai biru rumah sakit. Dia sedikit mengintip. Matanya hijau zamrud

, rambut coklat sedikit ikal, usianya sekitar awal dua puluhan. Dia mengenakan mantel dokter.

"Aku dirumah sakit..benar, sebelumnya aku pingsan." Jeanne mengingat kejadian semalam, lalu melihat situasi. Rasa nyeri di kepala sesekali menggangunya, dia menyentuh kepalanya yang masih diperban.

"aku benar-benar selamat..." Jeanne sedikit lega. Melihat dirinya mengenakan piyama pasien, saat dia hendak bangun dari ranjangnya.

"T-tunggu!" Wanita itu keluar dari persembunyiannya dan menghentikan Jeanne yang hendak bangun.

"Ada apa?" Tanya Jeanne, bingung.

Tanpa menjawab pertanyaan Jeanne, gadis itu menarik pelan selimut jeanne dan menunjukan kakinya yang dibalut gips.

Jeanne sedikit terkejut, namun itu sedikit membuatnya lega. Mengungkapkan bahwa luka ini nyata dan tidak ada pengulangan.

"Kamu siapa?" Tanya Jeanne, dia mengamati dokter wanita di hadapanya.

"Oh...Namaku Selena Royle" Jawab Selena, sambil memperkenalkan dirimya. Tersenyum Lembut.

Jeanne mengangguk. "Namaku Jeanne Weels." Lanjut Jeanne, sambil tersenyum.

"Miss. Royle, terima kasih telah mengobatiku.." Jeanne merebahkan dirinya kembali ke ranjang, melihat ke atap atap rumah sakit.

Selena Terseyum."Tidak apa apa..ini tugas kami sebagai detektif khusus divisi medis." Jawab Selena, dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

Sesaat langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.

Srekk!

Tirai di geser, Johan berambut biru gelap melirik Jeanne yang telah siuman, serta wanita berambut pirang berdiri di sampingnya, serta pria berambut hitam berdiri di tengah mereka, melirik Jeanne sambil tersenyum.

"Kamu sudah siuman, sebelum itu aku, Leo Tolstoy direktur detektif khusus meminta maaf karena tidak sengaja melibatkanmu dalam pekerjaan kami." Ungkap Leo, rambut hitamnya yang disisir rapih kebelakang dengan jambang keputihan, usianya sekitar tiga puluhan.

"T-tidak apa apa..." Jeanne menanggapi pelan, namun tatapannya masih tertuju pada atap ruangan. Sebelum Leo berbicara, Jeanne melanjutkan."Apakah pria berambut merah itu masih hidup?" Tanya Jeanne, lalu menambahkan."Maksudku..dia baik baik saja? atau sudah tiada?"

"Dia masih di terbaring di ruanganya akibat luka tusukan, pisau bedah itu menembus balon hingga menusuknya sendiri, dia memang ceroboh!" Jawab Johan.

"Mungkin dia mati!" Cetus Gadis berambut pirang, sambil tersenyum. Kemudian menambahkan."Setelah kamu pingsan, Eugene bodoh itu terkena efek racun, dan berteriak minta tolong seperti orang gila dengan mulut berbusa." Gadis itu menjelaskan sambil memperagakan situasi, dia menutup mulutnya dengan tangan, seolah mengingat hal yang lucu.

"Begitu...semoga yang diatap itu hanya halusinasiku saja..bukan arwah badut aneh itu." Jeanne menutup matanya sambil menghela nafas.

Selena dan yang lainya bingung dengan perkataan Jeanne, kemudian mengangkat kepala mereka menatap langit-langit ruangan.

"Hai" Sapa Eugene sambil tersenyum, dia mengenakan piyama pasien dan menempel di atap ruangan layaknya laba-laba.

Johan mengelus dahinya kemudian menargetkan kekuatan massanya kepada Eugene yang di atap.

"Heh?" Eugene terkejut karena Tubuhnya menjadi berat dan mulai terjatuh dari atap. Jeanne yang melihat itu terkejut dan ingin menghindar namun tidak sempat.

Crak!

Dengan cepat gadis berambut pirang itu mengeluarkan tongkat lipatnya, sebelum Eugene jatuh menimpa Jeanne gadis itu mendorong Eugene dengan tongkatnya hingga terpental ke jendela

PRANG!

Eugene menabrak jendela hingga pecah dan terjatuh keluar.

Melihat Eugene jatuh Jeanne menjadi semakin terkejut dan melirik ke arah tiga orang, dan berkata."Apa dia baik baik saja?" Tanya Jeanne.

Leo tersenyum masam dan menjawab."Tidak apa apa....itu hal yang sering terjadi disini."

Melihat Selena yang tersenyum seolah hal seperti itu sering terjadi. Kemudian Jeanne melirik Johan dan Gadis berambut pirang memasang ekspresi biasa saja, dia menghela nafas lega."Ini bukan lantai satu, kan?" Tanya Jeanne.

"Ini lantai tiga" Jawab Selena pelan.

"Mereka benar-benar terbiasa..." Pikir Jeanne.

...

"Baik, biar mereka perkenalkan diri..." Leo menoleh ke arah johan dan gadis berambut pirang.

"Johan Goethe" Ucapnya tenang."Aku—" perkataannya dipotong."Aku Isabella Goodwin, keluarga bangsawan, aku menjadi detektif karena itu menarik" Isabella memperkenalkan dirinya sambil mengangkat gaun berwarna hijau-putih dengan ukiran rumit.

Leo tersenyum dan berkata."Mereka anggota detektif khusus, termasuk Eugene." Leo melirik Jeanne dengan tenang.

"B-baik.." Jeanne mengangguk canggung.

Suara langkah kaki terdengar dari lorong, dan pintu terbuka dengan keras."Aku Eugene Vidocq, detektif terhebat.." Ungkap Eugene dengan suara bangga sambil membungkuk memperkenalkan diri. Piayamanya kotor dan rambutnya berantakan

"Kami akan memberikan kompensasi karena telah melibatkan warga sipil seperti kamu, nona Weels." Ucap Leo, sambil tersenyum. Lalu menambahkan."Sebelum itu bisa ikut denganku?"

"Eee..Baik" Jawab Jeanne

Selena mengambil kursi kursi roda dan membantu Jeanne duduk, kemudian membantu mendorong mengikuti Leo.

...

Dilorong rumah sakit yang tergolong sunyi. Jeanne bertanya."Miss Royle, ini rumah sakit detektif khusus?"

Selena yang mendorong kursi roda Jeanne, mengangguk."Benar, jika anggota dari detektif khusus terluka, rumah sakit yang—" Ucapannya terhenti ketika Leo melirik kebelakang. Selena mencoba tersenyum, kemudian melanjutkan."Panggil aku selena saja"

Jeanne mengangguk."Baik.." Jawabnya."Sepertinya aku dicurigai?....ini sedikit masuk akal....Karl mungkin telah ditangkap dan diinterogasi, aku dicurigai karena bisa menebak bahwa karl pelaku keduanya." Pikir Jeanne.

Setelah melalui lorong panjang, Jeanne melihat pintu besi di ujung lorong."Aku akan diinterogasi?" Pikirnya, Sesaat membuat jantungnya berdegup, canggung.

Mekanisme Kunci yang terlihat rumit di pintu terbuka, Selena membawa masuk Jeanne kedalam ruangan interogasi yang di pisahkan dengan kaca tebal.

Jeanne melihat sekeliling ruangan yang kedap, membuat jantungnya berdetak sedikit cepat.

Beberapa detik kemudian pintu di ruangan di sebelah terbuka, Leo memasuki ruangan dan menatap Jeanne, dia berjalan menuju kursi, lalu Eugene memasuki ruangan dan berdiri di belakang Leo.

"Baik...mari kita mulai.." Ucap Leo tenang, matanya mengamati gerak gerik Jeanne. Kemudian dia berkata."Aku ingin tahu bagaimana kamu mengetahui bahwa Karl Ryker adalah Pembunuh kedua?"

Jantung Jeanne berdetak kencang dan semakin kencang, ini adalah pertama kali di hidupnya diinterogasi."Haruskan aku berkata bahwa aku hidup kembali setelah di bunuh oleh Karl?....tidak ini tidak masuk akal untuk di katakan sebagai jawaban.." Pikir Jeanne.

"Aku bermimpi...." Jeanne menjawab asal dan tanpa sadar."Aku bodoh!!" Gerutunya dalam hati.

"Mimpi?" Leo mengulangi kata-kata Jeanne.

Jeanne memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya. Dia perlahan mengangguk. Dan berkata."Aku bermimpi, aku akan di kejar oleh Karl Ryker dan Pembunuh bertudung itu, dan aku yakin jika kejadian ini menjadi nyata, aku sempat berpikir bahwa aku ini memiliki kemampuan melihat masa depan...." Ungkap Jeanne, pelan dan mencoba menyembunyikan ekspresinya.

Eugene mengambil kertas dari saku piyamanya dan memberikannya kepada Leo. Lalu Leo menunjukan surat yang ditulis oleh Jeanne.

"Apa kamu yang menulis surat ini dan mengirimkannya kepada polisi secara anonim, nona weels?" Tanya Leo, suaranya dalam dan tenang.

Jeanne mengangguk."Yah..aku yang menulisnya." Jeanne yang duduk di kursi rodanya menatap Leo.

"Apa kamu percaya bahwa kekuatan itu nyata?" Tanya Leo, tiba tiba.

"Eh?....M-mungkin iya.." Jawab Jeanne.

Mata coklat Leo melirik Jeanne dengan dalam dan menyelidik. Dan berkata."Kamu bukan Night Order?" Tanya Leo kepada Jeanne.

"Night Order?" Ulang Jeanne dalam pikiranya. "Apa itu Night Order?" Tanya Jeanne dalam hatinya. Jeanne menggelengkan kepalanya."Aku tidak tahu itu." Jawab Jeanne, jujur dan terus terang.

Leo menoleh ke arah Eugene, lalu menjentikkan jarinya dan sesaat ruangan Jeanne menjadi kedap dan sunyi, namun Jeanne dapat melihat percakapan Leo dan Eugene dari mulut mereka.

"Kekuatan?" Pikir Jeanne, bingung. Sementara tatapanya masuk lurus, melirik percakapan Leo dan Eugene."Kekuatan yang bisa membuat indra pendengaran tumpul?" Pikir Jeanne. Jari-jarinya masih bergetar gugup.

Beberapa saat berlalu, Jeanne kembali bisa merasakan dan mendengar suara Leo.

"Baiklah...." Kata Leo sambil tersenyum."Sekali lagi aku memperkenalkan diri, aku Leo tolstoy sekaligus direktur Detektif khusus di kota Gheena. Meminta maaf karena melibatkan warga sipil." Ujarnya dengan tenang, lalu menambahkan."Mari kita buat kesepakatan, kamu bisa merahasiakan Kejadian semalam serta kekuatan detektif Khusus yang kamu lihat." Leo tersenyum.

"Baik.." Jawab Jeanne, pelan. Matanya melirik Eugene yang tersenyum kepadanya dan berjalan keluar dari ruangan.

Leo mengangguk."Kamu akan di berikan kompensasi setelah ini.." Lalu dia melanjutkan."Eugene merekomendasikanmu untuk masuk kedalam detektif khusus." Kata Leo, sebelum Jeanne menjawab Leo menambahkan."Kamu bisa menolaknya."

"Apa?" Jeanne terkejut."Pria Aneh!!" Cela Jeanne dalam hatinya. Jeanne hanya terdiam.

Melihat itu Leo tersenyum."Kamu bilang, kamu bermimpi tentang kejadian yang akan datang, mungkin itu kekuatanmu....dan kamu bisa menggunakannya untuk menyelamatkan orang-orang." Leo bangun dari kursinya.

"Aku akan memikirkanya.." Jawab Jeanne pelan, Leo berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan ruangan. Lalu pintu terbuka selena masuk dan membantu mendorong Jeanne keluar dari ruangan.

"Bagaimana?" Tanya Isabella yang menunggu di depan pintu.

Jeanne meliriknya, bingung."Maksudnya?" Isabella menhela nafas. Dan berkata."Apa kamu menerimanya?" Tanya Isabella. nada suaranya masih sama.

"Ah..itu, aku akan memikirkannya." Jawab Jeanne pelan.

Isabella melirik Jeanne."Cih..begitu..."Dia memalingkan wajah, kemudian dia pergi begitu saja.

Selena tersenyum, dan berkata."Miss Isabella sebenarnya baik.." Ucap Selena mencairkan suasana. Dan perlahan mendorong kursi roda Jeanne, menuju ruang rawatnya.

"Miss selena...apa luka ini akan lama?" Tanya Jeanne melirik tangan dan kakinya yang di gips.

Selena menjawab."T-tidak...lukanya akan sembuh dalam tiga hari saja, aku menggunakan kekuatanku." Jawabnya pelan sambil tersenyum.

...

Setelah kembali keruanganya, Jeanne melihat bahwa kaca yang telah pecah sudah diperbaiki."Mereka langsung memperbaikinya." Puji Jeanne.

Setelah membantu Jeanne kembali ke ranjangnya, Selena berkata."Tuan Tolstoy sudah memberitahuku bahwa kami sudah menghubungi kerabat terdekatmu."

"Kerabat?....Aku tidak punya" Pikir Jeanne, dia mengangguk, heran."Tunggu? mungkin, mereka menghubungi Anna?." Setelah memikirkan itu pintu ruangan terbuka.

"Permisi.." Suara yang tidak asing bagi Jeanne terdengar. Jeanne menoleh dan melihat Gadis berambut pirang kecoklatan, matanya merah ruby, dia mengenakan gaun biru tua dan topi bonnet berwarna biru tua.

"Anna.." Panggil Jeanne pelan, hatinya merasa lega. Anna menoleh dan berlari kemudian memeluk Jeanne.

"Syukurlah..." Anna menangis sambil memeluk Jeanne.

Selena tersenyum dan keluar dari ruangan.

"Aku baik baik saja...Syukurlah.." Dia memeluk anna, tanpa sadar air matanya mengalir."Syukurlah.." Ulangnya lagi. dan mengulangnya dalam hati.

"Aku...aku langsung menuju kesini saat seseorang meneleponku lewat ponselmu dan menjelaskan situasinya." Suaranya pelan. Dia menghapus air matanya dan air mata Jeanne, menatap Jeanne layaknya seorang ibu yang melihat putrinya terluka.

"Terima kasih, anna.." katanya Jeanne

More Chapters