Ficool

Chapter 6 - Chapter 6:Menuju Akademi Roh Cahaya

Setelah menyempurnakan tekniknya, Wu Yan tampak sangat kelelahan. Penggunaan Spirit Mind Weaver telah menguras sebagian besar energi spiritual di dalam tubuhnya.

Perlahan, rasa lelah itu muncul dan merambat hingga ke kepalanya, memicu pening yang kuat dan membuat pandangannya berkunang-kunang. Pada akhirnya, tubuhnya tidak lagi sanggup bertahan. Wu Yan roboh dan terbaring di tanah, menyerah pada kelelahan yang begitu ekstrem.

Detak jantungnya berdetak cepat, memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Beberapa saat kemudian, aliran itu mulai stabil. Rasa lelah yang semula menekan dengan kejam perlahan mereda, menyisakan tubuh yang basah oleh keringat dan napas yang masih berat.

Selang beberapa waktu, dari arah timur, cahaya pagi mulai merambat naik, menyinari setiap sudut dan menyilaukan mata Wu Yan yang masih terbaring di tanah. Menyadari hal itu, ia mengangkat tangannya untuk menghalangi sinar matahari yang menusuk matanya.

"Hah… ini sangat melelahkan," gumam Wu Yan pelan.

Ia mencoba bangkit, meraih pilar bangunan di dekatnya sebagai penopang, lalu berdiri dengan tubuh yang masih terasa lemah, lengannya memeluk pilar itu sejenak untuk menstabilkan diri.

Dengan langkah yang terasa berat, Wu Yan membuka pintu dan perlahan melangkah masuk ke penginapan. Tangannya mendorong pintu untuk menutupnya, namun tenaga yang ia gunakan terlalu besar. Pintu itu menghantam dengan suara keras, membuat engselnya terlepas dan daun pintu rusak, tergeletak miring di tempatnya.

Setelah beberapa saat wuyan membuka pintu kamarnya, keluar dengan mengenakan tunika berlengan panjang berwara abu-abu gelap, dilengkapi baju putih yang terselip rapi dibalik tunika, serta sebuah bundel kain yang berisi perlengkapan dan pakaian milik wuyan, tergatung di sisi belakang bahunya.

wuyan menoleh sebentar kebelang memastikan bundel tergatung dengan rapi dan benar, dengan nafas yang masih berat wuyan menuruni tangga penginapan dengan langkah kaki yang ringan tapi cepat, bergegas keluar.

di luar seorang pria paruh baya, berumur sekitar lima puluh tiga tahun mengenakan topi flat cap, di tagannya sebatang tembakau yang sudah terbakar, ujungnya mengeluarkan asap tipis mengepul di udara, dengan kereta kuda berwara putih miliknya, pria itu dengan sabar menunggu wuyan keluar.

Pria paruh baya itu menarik napas panjang, asap tembakau mengepul tipis dari sebatang tembakau yang ia bakar di ujung mulutnya. Matanya menatap tajam ke arah Wuyan yang baru muncul di jalan.

"Anak muda!" teriaknya dengan suara serak namun tegas. "Kau terlambat! Cepat naik ke kereta ini sekarang juga! Jangan buang waktu lagi, atau kau akan menyesal!"

Ia menepuk-nepuk sisi kereta sambil menambahkan, "Aku tidak menunggu orang yang lambat. Ayo, gerak!"

Wuyan menoleh seketika, matanya menangkap pria paruh baya yang menatapnya tajam dari sisi kereta. Tanpa menunggu lama, ia menghela napas panjang, menyalurkan sisa tenaganya yang masih ada, lalu mulai berlari dengan langkah cepat menuju kereta.

"Maafkan aku, Pak!" teriak Wuyan sambil menapak tanah dengan gesit. "Aku akan segera naik!"

Debu beterbangan di belakangnya saat kakinya menghantam jalan setapak. Setibanya di sisi kereta, ia meloncat dengan satu gerakan yang luwes, mendarat di tangga kayu dengan sedikit terguncang, tapi tetap seimbang.

Pria paruh baya itu mengangguk singkat, mata masih menatap tegas, tapi nada suaranya melembut sedikit.

"Bagus, anak muda. Jangan ulangi lagi. Duduk di tempatmu, dan bersiaplah. Perjalanan panjang ini tidak menunggu siapa pun."

Wuyan mengangguk, menarik napas dalam-dalam, dan duduk di kursi kereta.

Kereta mulai bergerak, roda kayu beradu dengan jalan batu, menciptakan ritme yang stabil. Angin pagi menyapu wajah Wuyan, mengusir kantuk dan sisa lelah dari latihan tadi pagi.

Pria paruh baya menarik napas panjang, menyalakan sebatang tembakau kecil lagi, mengamati Wuyan dari jarak dekat. "Baiklah, anak muda… semoga kau mampu menghadapi apa yang menunggu di Akademi Roh Cahaya."

Wuyan duduk di kursi kereta, bundel kainnya tetap erat di sisi tubuh, matanya menatap jauh ke depan, penuh tekad. Napasnya mulai stabil, dan seiring kereta melaju, pikirannya sudah tertuju pada seleksi yang akan datang—ujian yang akan menguji kemampuan strategi, pengendalian energi, dan spirit yang dimilikinya.

Angin pagi membawa aroma tanah basah dan rumput, suara kereta dan hembusan angin seakan menyatu menjadi irama perjalanan. Wuyan, meski lelah, merasa semangatnya membara lebih kuat dari sebelumnya. Ia menutup mata sejenak, membiarkan tubuhnya sedikit beristirahat sebelum menghadapi hari yang menentukan.

~DUA HARI PERJALAN TELAH DITEMPUH~

Kereta bergerak pelan di jalan berbatu, suara roda beradu dengan ritme yang mantap. Angin pagi menyapu wajah Wuyan, membangkitkan semangat yang mulai memudar karena lelah. Ia menatap jauh ke depan, lalu akhirnya memutuskan untuk membuka percakapan.

"Pak… boleh aku bertanya?" ucap Wuyan, matanya menatap pria di depan yang sedang memegang tali kendali kuda.

Pria paruh baya itu menoleh, menyalakan sebatang tembakau kecilnya. "Tanya apa, anak muda?"

"Akademi Roh Cahaya… bagaimana tempatnya sebenarnya? Aku hanya mendengar cerita, tapi aku belum pernah melihatnya," tanya Wuyan, suara polos tapi penuh rasa ingin tahu.

Pria itu menghembuskan asap tembakau, wajahnya sedikit muram. "Akademi… tempatnya megah, penuh dengan para murid yang cerdas dan kuat. Tapi bukan sekadar megahnya bangunan, anak muda. Di dalamnya, kau akan diuji bukan hanya kekuatanmu, tapi strategi, kesabaran, dan pengendalian roh. Banyak yang datang, tapi tak semua mampu bertahan."

Wuyan mengerutkan kening. "Apakah kau… pernah belajar di akademi ini, Pak?"

Pria paruh baya tersenyum tipis, pandangannya menunduk sejenak. "Dulu… aku juga pernah bermimpi masuk akademi. Tapi… aku gagal, anak muda. Ada satu hal yang membuatku tidak pernah bisa melanjutkan."

Wuyan menatapnya dengan serius. "Apa yang terjadi?"

Pria itu menghela napas panjang, menyalakan sebatang tembakau lagi. "Ada kesalahan yang kulakukan. Aku terlalu percaya pada kekuatan, terlalu sombong, dan lalai dalam strategi. Di momen itu, kesempatan hilang selamanya. Aku gagal, dan sejak saat itu, aku tidak pernah melupakan pelajaran itu. Dunia ini… anak muda, tidak pernah memberi ampun pada yang lengah."

Wuyan menatapnya diam-diam, hatinya berdebar. "Jadi… kau tahu apa yang akan terjadi jika aku gagal?"

Pria itu menepuk bahu Wuyan dengan lembut. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, tapi aku tahu… jika kau tidak belajar dari pengalaman orang lain, kau akan mengulang kesalahan yang sama. Aku gagal karena sebuah pilihan bodoh, kau punya kesempatan untuk berbeda."

Wuyan mengangguk pelan, menatap ke luar jendela kereta. Cahaya pagi menyinari jalanan, membuat bayangan kereta dan kuda berlari terlihat panjang di atas tanah basah.

"Pak… dulu… apakah kau menyesal?" tanya Wuyan pelan.

Pria itu tersenyum getir. "Menyesal? Tidak sepenuhnya. Aku belajar banyak, tapi kesempatan itu… hilang selamanya. Ingat, anak muda… di dunia ini, kita tidak selalu diberi kesempatan kedua. Jadilah lebih kuat dari aku, dan jangan sia-siakan apa yang kau miliki sekarang."

Wuyan menunduk, menggenggam erat bundel kain di bahunya. "Aku akan berusaha sekuat tenaga… dan aku akan membuat diriku layak di akademi itu."

Pria paruh baya tersenyum tipis, menepuk kepala Wuyan. "Itulah sikap yang tepat. Sekarang… istirahatlah sebentar. Perjalanan masih panjang, dan seleksi tidak akan menunggu siapapun."

Wuyan menutup matanya, membiarkan tubuhnya tertidur sejenak. Tapi di dalam hatinya, api semangat semakin membara. Ia tahu, perjalanan menuju Akademi Roh Cahaya tidak akan mudah. Banyak rival kuat menunggu, dan tantangan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

"Bangun, anak muda!" suara tegas pria paruh baya itu memecah kesunyian.

Sontak, tangan pria itu menampar pipi Wuyan dengan ringan namun cukup membuatnya terjaga. "Hah!" Wuyan terkejut, matanya membuka lebar, napasnya masih tersengal karena hampir tertidur.

Pria itu menepuk pipi Wuyan sambil menatapnya serius. "Kau tidak boleh tidur lagi sekarang. Lihat ke depan, kita akan segera tiba setelah melewati Menara Jam. Itu menara yang sangat tinggi, tak ada yang bisa melewati gerbang akademi tanpa melihatnya."

Wuyan mengusap pipinya, sedikit kesal namun mengerti maksud pria itu. "Baik… Pak, aku mengerti."

Pria itu tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya ke depan. "Bagus. Menara Jam itu bukan hanya tanda, tapi juga pengingat. Setiap detik yang berlalu, anak-anak di akademi belajar sesuatu. Kau harus siap, karena seleksi tidak menunggu siapapun."

Wuyan mengangguk, mengatur napasnya, dan duduk lebih tegak. Matanya menatap jauh ke depan, menara jam yang menjulang tinggi tampak samar di kejauhan, memantulkan cahaya matahari pagi. Setiap batu dan jamnya memancarkan aura keagungan yang membuat Wuyan merasakan campuran gugup dan semangat.

"Menara itu… tinggi sekali," gumam Wuyan dalam hati.

Pria paruh baya menepuk bahunya sekali lagi. "Persiapkan dirimu, anak muda. Apa yang akan kau hadapi setelah gerbang itu berbeda dari apa pun yang pernah kau alami. Para peserta lain… tidak semuanya bersahabat. Mereka kuat, dan beberapa bahkan arogan. Tapi jangan takut. Gunakan semangatmu, strategi, dan yang paling penting… kendalikan Spirit-mu dengan bijak."

Wuyan menarik napas dalam-dalam, menatap bundel kain di bahunya yang berisi pakaian dan perlengkapan untuk seleksi. "Aku akan melakukan yang terbaik," bisiknya pelan, matanya menyala dengan tekad yang mulai membara.

Kereta semakin mendekati Menara Jam. Suara detak jam yang besar mulai terdengar samar, bergaung di udara pagi. Wuyan merasakan adrenalin dan semangat yang mengalir di dalam dirinya.

"Segera setelah kita melewati menara itu… semuanya akan dimulai," kata pria paruh baya dengan nada serius, menatap Wuyan seolah menegaskan sebuah janji.

Wuyan mengangguk sekali lagi, mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang menunggunya di depan, dengan semangat yang kini lebih membara dari sebelumnya.

More Chapters