Ficool

Chapter 7 - Bab VI Awestern IV

Tambang tua Vesthall kini telah hidup kembali. Suara dentang beliung yang beradu dengan batu dan gemuruh kereta dorong yang membawa bijih besi serta perak menggema siang dan malam.

Namun, di balik dinding-dinding batu yang dingin itu, sebuah riak ketidakpuasan mulai merayap.

​

​Meskipun tambang tersebut menghasilkan kekayaan yang luar biasa, upah harian yang diterima para pekerja sangatlah minim hanya beberapa koin perunggu murah dan jatah roti gandum sederhana.

​Di sudut-sudut gelap kedai dan area peristirahatan tambang, bisik-bisik kemarahan mulai menyebar seperti wabah.

​"Lihatlah kereta-kereta emas itu pergi ke kastil," gerutu seorang penambang bertubuh kekar, menatap telapak tangannya yang pecah-pecah.

"Tambang ini menghasilkan ribuan koin perak, tapi kita hanya diberi remah-remah. Lord Aeon tidak ada bedanya dengan penguasa lama yang serakah!"

​Mereka tidak tahu tentang kontrak rahasia dengan Duchess Charlotte. Mereka tidak tahu bahwa tujuh puluh persen dari seluruh keringat mereka langsung dialirkan ke ibukota wilayah barat untuk membayar harga dari sebuah keselamatan.

​

​Di ruang kerja kastil yang sunyi, Escarlate berdiri di dekat jendela kaca besar. Matanya menatap tajam ke arah gerbang halaman luar, di mana puluhan penduduk desa dan pekerja tambang berkumpul.

​Mereka membawa obor dan beliung berkarat, meneriakkan tuntutan untuk kenaikan upah. Sebuah demonstrasi kecil yang dipicu oleh rasa frustrasi yang mendalam.

​"Mereka mulai berani berteriak di depan gerbang Anda, My Lord," ucap Escarlate, suaranya bergetar menahan amarah yang tertahan.

​Aeon tetap duduk tenang di kursi mahoninya, perlahan menyesap teh chamomile yang sudah mendingin. Wajahnya yang rusak oleh luka bakar tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

​"Biarkan saja mereka berteriak, Scarlet," jawab Aeon datar.

​Escarlate berbalik dengan cepat, jubah penyihirnya berkibar.

​"Bagaimana Anda bisa sepasrah ini?!" desis Escarlate, kedua tangannya mengepal erat.

​"Mereka menyebut Anda penguasa kikir! Mereka mengutuk nama Anda! Padahal... padahal Anda merelakan tujuh puluh persen kekayaan tambang itu kepada Duchess Charlotte hanya demi mengamankan hak evakuasi dan pasokan makanan mereka saat Musim Dingin Monster tiba! Anda mengorbankan reputasi Anda sendiri demi menyelamatkan nyawa mereka!"

​Aeon meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Tatapannya lurus menatap mata safir sang penyihir.

​"Rakyat tidak perlu tahu detail dari sebuah perang politik, Scarlet," ucap Aeon dengan nada baritonnya yang berat.

"Tugas seorang pemimpin bukan untuk dipuji, melainkan untuk memastikan mereka tetap bernapas saat badai salju meratakan wilayah ini."

​Escarlate menggertak rahangnya. Napasnya memburu, matanya memancarkan rasa frustrasi yang mendalam pada ketidakpedulian rakyat yang tidak pernah memahami niat suci dari tuan mereka yang terluka.

More Chapters