Ficool

Chapter 14 - Bab 14 Palun Bintang

Mereka melangkah menapaki pasir halus Pulau Bayu, setiap jejak mengukir lengkungan cahaya di antara kepingan kerang berkilau. Di balik deretan menara‑menara batu berbalut daun‑perak, sebuah pintu gerbang kristal terbuka perlahan—seakan menunggu sentuhan mereka. Sebuah suara berbisik di antara dedaunan, lembut namun dalam, "Selamat datang, Penjaga Empat Angin."

Lyra menatap ke arah suara itu, lalu mengangkat gulungan "Wind‑Veil" yang ia lukis di kulit. Mantra berkilau membentuk lingkaran biru‑hijau di sekeliling tubuhnya, memantulkan kilau udara laut. Dari tengah gerbang muncul sosok tinggi berbalut jubah putih berembun, matanya berwarna kelabu berkilau seperti awan petir. Ia memperkenalkan diri sebagai Aeralis , Penjaga Angin Utara, pemilik kunci leyline pulau.

"Aku merasakan energi Sunblade, cahaya yang menembus kegelapan," Aeralis berbisik sambil mengangkat tangan. Sinar keemasan Sunblade menyatu dengan aura kuningnya, membuat seberkas cahaya meluncur menembus ruang‑ruang kristal, menandakan penerimaan. "Namun, kegelapan yang menempel pada bayangan Pulau ini tidak hanya sekedar 'Heart of the Abyss'. Ada satu yang lebih dalam, yang menunggu di dalam Palu Bintang—tempat di langit mana yang menempel di laut."

Kael mengerutkan alisnya. "Apakah itu semacam kuil?"

Aeralis menoleh ke arah menara tertinggi, tempat sebuah batu spiral terukir simbol bintang delapan. "Palun Bintang adalah inti leyline, satu sumber yang menyalurkan energi angin ke seluruh dunia. Di sana tersembunyi Lumen Scepter , tongkat yang pernah dipakai oleh Archon Angin pertama. Jika kegelapan menguasai tongkat, maka semua hembusan akan menjadi bisu."

Dian mengaktifkan kembali modul Sistema, menampilkan peta tiga‑dimensi yang memancarkan kilau biru‑hijau. "Menurut data, ada resonansi energi yang sangat kuat di Palun Bintang, tapi sepertinya terhalang oleh sebuah medan antimagik," sambil menambahkan, "Kita perlu memecah perisai itu terlebih dahulu."

Lyra menutup mata dan mengalirkan mantra "Tempest Cleave" kembali, mengundang angin kencang yang menari di antara pilar‑pilar menara. Angin berputar, menyingkirkan kabut gelap yang bersembunyi di balik batu, mengungkap sebuah pintu batu berukir rune kuno. Di atasnya terukir simbol "∞" yang berdenyut seiring dengan detak jantung mereka.

"Masuklah," seru Maelon, yang kini berdiri di samping mereka dengan tongkat kayu berukir, "Aku sudah menyiapkan 'Aetheric Lantern', lampu yang dapat menembus kegelapan terdalam. Bawalah cahaya kalian, karena di dalam kegelapan itu, ada sesuatu yang menunggu untuk diingat kembali."

Mereka menyalakan lentera itu. Cahayanya berwarna ungu‑emas, memantulkan kilau pada dinding batu, menyingkap panel-panel berisi gambar‑gambar kuno: para Penjaga Angin memegang Lumen Scepter, melawan siluet hitam yang menyerupai bayangan berwajah manusia. Pada satu panel, terlihat sosok berpakaian jubah gelap, memegang "Malaikat Kegelapan"—sebuah artefak berwarna merah kehitaman yang memancarkan aura mengoyak.

"Vesper, dulu seorang Archmage yang terjatuh karena memanfaatkan energi kegelapan untuk menguasai aliran angin," bisik Dian, mengenali simbol itu dari catatan lama. "Jika dia berhasil menemukan Lumen Scepter, maka dia bisa mengendalikan semua leyline sekaligus mengirimkan gelombang kegelapan ke seluruh dunia."

Aeralis mengangguk, "Vesper masih hidup di dalam bayang‑bayang. Ia menunggu kesempatan untuk kembali, dan Palun Bintang adalah gerbangnya."

Dengan tekad membara, Kael mengangkat Sunblade, memfokuskan cahaya ke ujung tombaknya, mengubahnya menjadi pancaran kuning‑merah yang menembus kegelapan. Liason energi mereka – Sunblade, Wind‑Veil, dan Aetheric Lantern – bersatu dalam satu melodi, membentuk Harmoni Cakrawala, sebuah resonansi yang menembus lapisan antimagik.

"Berpadu!" seru Lyra, menekan simbol rune pada pintu. Sebuah gelombang energi berwarna biru‑hijau meluncur, menghancurkan perisai, memecah selubung gelap. Sebuah cahaya putih terang merembes, menampakkan Lumen Scepter berkilau di tengah ruangan, dikelilingi oleh bayangan Vesper yang berusaha menghalangi.

Pertarungan baru pun dimulai. Vesper muncul dalam wujud kabut hitam bergelombang, suaranya berderak seperti pecahan kaca. "Kau tidak mengerti, manusia! Angin bukan untuk dibagi. Aku akan menguasainya!" teriaknya.

Kael menahan Sunblade, memancarkan sinar matahari yang menembus ruangan. Dian, melalui Sistema, memproyeksikan gelombang frekuensi resonansi yang meresap ke dalam jiwa Vesper, menenangkan kegelisahan energi gelapnya. Lyra mengatur angin menjadi lingkaran pelindung di sekitar Lumen Scepter, sementara Maelon memutar Aetheric Lantern, menghasilkan cahaya yang mengikat Vesper dalam kisi‑kisi cahaya.

Setelah pertarungan yang terasa selamanya, Vesper merengus, tubuhnya terurai menjadi serpihan cahaya redup yang menyatu kembali ke leyline, menutup luka yang sempat terbuka. Lumen Scepter bergetar, memancarkan cahaya ke seluruh menara Pulau Bayu, menghidupkan kembali jaringan angin yang sebelumnya terhenti.

Aeralis menurunkan tangannya, menatap ketiga pahlawan dengan rasa hormat. "Kalian telah membuktikan bahwa cahaya, angin, dan teknologi dapat bersatu. Lumen Scepter kini aman, tetapi pertempuran yang lebih besar belum usai. Bayangan Vesper hanyalah satu dari banyak yang mengintai di luar cakrawala."

Kael memegang Sunblade, kini bersinar lebih kuat. Lyra menatap Wind‑Veil yang berkilau, dan Dian menyalakan kembali Sistema, menyiapkan sinyal ke Nasihat Arcana . Maelon mengangkat lentera, memancarkan cahaya ke seluruh pulau, mengundang para Penjaga Angin lainnya untuk berkumpul.

Dengan langkah mantap, mereka meninggalkan Palun Bintang, menutupi jembatan cahaya yang terbentuk di antara menara‑menara batu, berlayar kembali ke laut. Di balik mereka, lampu Lumen Scepter bersinar seperti bintang, menandakan sebuah harapan yang tak mudah padam.

Di ufuk, awan gelap kembali berputar, namun kini terdapat sekeping cahaya biru‑emas yang menembusnya—tanda bahwa tiga pahlawan itu telah menyalakan lentera baru. Mereka tidak hanya menyelamatkan Pulau Bayu; mereka telah menyalakan simfoni perlindungan yang akan menggema melalui setiap hembusan angin, setiap gelombang laut, dan setiap denyut leyline di seluruh dunia.

Dengan hati penuh tekad, mereka mempersiapkan diri untuk pertempuran yang lebih besar—pertarungan melawan bayang‑bayang yang mengintai di ujung dunia, di mana cahaya, angin, dan ilmu pengetahuan akan bersatu demi menjaga napas Eldoria. Cerita baru mereka saja dimulai.

More Chapters