Ficool

Chapter 19 - Bab 19

"Siapa yang mengira bahwa kita bisa bertemu dengan orang yang kita cari ketika mencoba berbelanja senjata. Selain itu, lihat hasil kreasi ini, benar-benar kelas dunia." Ives berkomentar sembari memandangi pedang barunya. Miliknya adalah Long Sword dengan gaya abad pertengahan, ada aksen emas di pegangannya, hal ini menambah kesan mewah pedang ini. Tajam, tahan lama, dan tentunya indah, mungkin pedagang senjata itu melakukannya secara berlebihan, yang bukan berarti hal yang buruk.

Walaupun dia sangat menyukai tinjunya, tapi bukan berarti dia benci menggunakan senjata tajam.

"Kamu benar, milikku juga sangat indah. Ini begitu tajam, menyentuh ujungnya secara lembut sudah membuat jariku berdarah." Biskuit ikut berkomentar sambil mengagumi senjata miliknya. Berbeda dengan Ives, miliknya adalah katana. Tekstur gelombang serta serta bodi-nya yang tipis tentunya sangat memanjakan mata.

Sama seperti Ives, dia sebenarnya lebih suka menggunakan tinjunya. Jika Ives memilih Long Sword, dia cenderung memilih yang lebih pendek. Untuk gadis sepertinya, pedang yang terlalu panjang hanya akan menghambat pergerakan.

Sebelumnya saat senjata ini masih dalam proses penempaan, mereka menginap di sebuah penginapan yang dekat dengan toko senjata tajam milik maniak senjata itu. Sebenarnya aneh memikirkan senjata sebagus ini selesai hanya dalam waktu dua hari, tapi Ives menduga bahwa maniak itu mungkin seorang Jenius Nen. Apa itu Jenius Nen? Seperti namanya, mereka bisa menggunakan Nen bahkan tanpa mereka sadari, dan beberapa dari Nen Jenius itu adalah Benny Delon, Neon Nostrade, dan Komugi. Kebetulan Benny Delon merupakan ahli pembuat senjata juga.

Setelah bertransaksi dengan si maniak, mereka berdua dibimbing menuju sebuah ruangan dengan pintu rahasia di dalamnya. Pria itu menjelaskan bahwa di balik pintu itu ada terowongan pendek yang mengarah ke Arena Bawah Tanah. Setelah memberikan informasi yang perlu diketahui oleh peserta ujian sekaligus pelanggannya, maniak itu pamit pergi.

Ives dan Biscuit masuk dan berjalan melewati terowongan gelap, dan benar saja, di ujung terowongan terdapat sebuah ruangan besar dengan arena megah yang telah disinari oleh cahaya terang.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini mereka datang agak terlambat, karena di sana telah ada sejumlah peserta yang telah berkumpul. Dengan mereka berdua dihitung, totalnya ada dua puluh orang.

Dengan berkumpulnya semua peserta, Pengamat Ujian yang yakin tidak akan ada lagi peserta yang hadir langsung memberikan instruksi khusus.

Ini merupakan Tahap Terakhir dari Ujian Hunter. Di Tahap Terakhir ini para peserta diharuskan untuk bertanding di dalam arena melawan para peserta lain. Dari dua puluh peserta itu, mereka akan dibagi menjadi dua kelompok. Jadi pertandingan ini dilakukan di dua arena yang berbeda.

Dari sepuluh orang yang bertanding di dalam arena, hanya akan ada empat yang lolos, dan keempat yang lolos itu akan di tandingkan kembali dengan empat peserta lain yang lolos dari arena kedua.

Peraturannya sangat sederhana, kalahkan lawan, pembunuhan dilarang. Jadi dalam battle royal ini senjata diizinkan, tapi sekali lagi, pembunuhan dilarang, jika dilanggar, peserta akan didiskualifikasi.

Ives dan Biscuit yang mendengar nama mereka dipanggil merasa kecewa karena mereka perlu bertanding di arena yang berbeda. Tapi tidak masalah, selama mereka lolos, mereka dapat bertemu kembali di final.

Sepuluh orang yang ada di dalam arenanya datang dari berbagai background yang berbeda. Ada yang ahli bela diri, ada yang ahli berburu, ada yang ahli panjat tebing, dan sebagainya. Ives melirik mereka masing-masing dan mulai mengevaluasi kekuatan mereka.

Dari kesepuluh peserta, lima orang bisa dikatakan kuat. Jika kelima peserta itu dapat dieliminasi, maka kesempatannya untuk lolos ke tahap final akan sangat tinggi.

"Mulai!" Suara gong berbunyi nyaring. Kesepuluh peserta yang hadir di masing-masing arena langsung melancarkan serangan mereka.

'Tch!' Melangkah ke samping, Ives menghindari serangan lawan yang datang dari belakang. Menghadap pria itu, dia menjegalnya dengan kakinya.

"Sial!" Pria itu mengumpat saat dia kehilangan keseimbangannya.

Saat pria itu menghantam lantai, Ives mengepalkan tinjunya dan langsung menghantam telungkup leher pria itu. Dengan satu serangan, dia langsung pingsan.

Satu jatuh, tinggal sisa lima. Bergerak gesit, Ives berpindah ke sisi kanan arena, dia membaurkan dirinya agar lebih susah dilihat. Para peserta lain sudah saling hantam, bahkan ada yang main keroyokan.

Walaupun sudah mencoba semampunya untuk berbaur, tapi masih ada saja yang menyadari keberadaannya. Salah satu dari mereka bergegas sambil mengangkat tongkat baseball miliknya. Saat sudah masuk jarak ayunan, pria itu mengayunkan tongkatnya secara vertikal, dan Bang! Suara benturan benda keras terdengar keras dari dalam arena.

Ives mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke atas dan berhasil menggagalkan serangan itu. Meskipun begitu, dia masih merasakan sedikit rasa kesemutan dari lengannya, ayunan pria ini memang cukup kuat.

Menarik senjatanya kembali, Ives mundur dua langkah ke belakang untuk mengambil jarak dan ancang-ancang sebelum melancarkan serangan balasan. Menggunakan bagian bawah gagang pedang, dia membenturkan hal itu tepat ke arah pusar lawan.

"Ahh!!!" Lawan berteriak keras dan menyemburkan ludahnya. Serangan yang terarah ke perut tentunya sangat menyakitkan.

Memegang pedang dengan tangan kirinya, Ives mengepalkan tinju kanannnya lalu meng-uppercut lawan tepat bawah dagunya. Pria itu terhempas ke udara lalu jatuh dengan bunyi gedebuk yang nyaring.

"Dua jatuh... Tidak, empat telah jatuh." Melihat ada dua peserta lain yang terkapar di lantai, sekarang tinggal dua lagi agar dirinya bisa lolos ke tahap selanjutnya.

-----

read chapter 52 on;

patréon.com/mizuki77

More Chapters