Ficool

Chapter 1 - Darah Di Ujung Pengakuan

Hujan deras mengguyur atap seng gudang belakang rumah keluarga Wangsa, menyamarkan suara tangisan tertahan yang keluar dari bibir pecah-pecah Elisa. Di sudut ruangan yang lembap dan berbau apek itu, tubuh mungilnya tergeletak di atas lantai beton yang dingin. Memar ungu menghiasi lengan, punggung, dan wajahnya—peta rasa sakit yang digoreskan oleh tangan orang-orang yang dulu ia panggil "Ayah" dan "Ibu".

"Dasar anak tidak tahu diri! Kami sudah membesarkanmu! Memberimu makan, pakaian, sekolah! Ini balasanmu? Membawa malu pada keluarga dengan berteman dengan anak-anak jalanan? Dengan menolak makan daging di depan tamu penting?" teriak Suryo, ayah angkatnya, sambil melemparkan sapu lidi yang mengenai rusuk Elisa. Wanita itu menjerit kesakitan, namun suaranya tercekat oleh darah yang mengalir dari sudut mulutnya.

Di samping Suryo, berdiri Linda dan Michael, anak-anak lainnya yang menatap dengan pandangan dingin. Mereka tidak membela. Bahkan, di mata Michael tersirat kepuasan melihat Elisa hancur. "Sudahlah, Pa! Biarkan dia sadar diri. Lagipula, dia memang sampah dari panti asuhan. Tidak punya darah bangsawan seperti kita." ucap Michael santai sambil memeriksa kuku-kukunya.

Elisa mencoba merangkak, tapi kakinya lumpuh karena tendangan keras Rado tadi siang. "Aku ... bukan sampah ... Aku ... punya hak ... hidup ..." bisiknya parau.

"Hak? Satu-satunya hakmu adalah melayani kami sampai kau mati! Atau lebih baik, kau mati saja hari ini! Biar dunia lupa pernah ada anak durhaka sepertimu!" tawa Suryo meremehkan, lalu menendang perut Elisa hingga wanita itu terguling dan memuntahkan darah segar.

Pukulan demi pukulan terus menghujani tubuh rapuh Elisa. Kesadarannya mulai melayang. Rasa sakit yang tadinya tajam kini berubah menjadi mati rasa. Dingin menjalar dari ujung kaki ke kepala. Dalam kegelapan yang semakin pekat itu, pikiran Elisa melayang pada satu benda yang ia temukan secara tidak sengaja tiga hari lalu: sebuah kotak kayu tua tersembunyi di loteng rumah, yang jatuh saat badai kemarin.

Di dalam kotak itu, terdapat surat wasiat lama, foto bayi, dan sebuah hasil tes DNA yang belum sempat dikirim. Surat itu ditulis oleh seorang pria bernama Jonathan Suryahadiatmaja. Pria yang namanya sering terpampang di majalah Forbes sebagai salah satu dari lima orang terkaya di negeri ini. Pria yang selama dua puluh tahun mencari anak perempuannya yang diculik dari panti asuhan.

"Untuk putriku tercinta, Elisa. Jika kau membaca ini, berarti Ayah gagal melindungimu. Tapi ketahuilah, darahmu adalah darah pejuang. Jangan pernah menyerah. Ayah akan datang jemput kau, walau harus membakar seluruh kota ini."

Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Elisa, menjadi satu-satunya kehangatan di tengah siksaan neraka ini. Ternyata, selama ini ia bukanlah anak buangan. Ia adalah putri dari raja bisnis yang paling ditakuti dan dihormati. Ia memiliki ayah yang mencarinya dengan segenap jiwa. Andai saja ... andai saja ia bisa bertahan sedikit lebih lama. Andai saja ia bisa mengirim pesan itu.

"Bangun! Jangan pura-pura mati!" bentak Linda, menyiramkan air es ke wajah Elisa.

Elisa tersentak batuk, darah menyembur lebih deras. Pandangannya kabur. Ia melihat sosok Suryo yang kini tampak seperti monster berwajah manusia. "Pa ... Jonathan..." desisnya, bukan memanggil Suryo, tapi memanggil nama yang baru ia ketahui.

"Apa? Kau masih berani menyebut nama orang lain? Mati kau!" maki Suryo sambil memukulkan besi pemukul baseball ke atas kepalanya.

KRAK!

Pemukul baseball itu menghantam kepala Elisa dengan kekuatan penuh. Dunia berputar hebat. Langit-langit gudang seolah runtuh menimpanya. Rasa sakit yang luar biasa itu tiba-tiba hilang, digantikan oleh keheningan yang absolut. Elisa merasa tubuhnya menjadi ringan, melayang naik meninggalkan tumpukan daging yang hancur di lantai.

Dari sudut ruangan, ia melihat "diri"-nya sendiri tergeletak tak bergerak. Darah menggenang luas, membentuk kolam merah yang mengerikan. Suryo terengah-engah, menurunkan pemukul baseballnya, wajahnya pucat pasi menyadari apa yang baru saja ia lakukan. "Dia ... dia tidak bangun?" tanya Linda gemetar.

Michael mendekat, mengecek denyut nadi di leher Elisa yang sudah tak teraba. Wajahnya berubah pucat. "Dia ... dia mati, Pa. Kita ... kita sudah membunuhnya!"

Kepanikan melanda ruangan itu. Teriakan histeris ibu angkatnya terdengar, disusul langkah kaki mereka yang lari keluar meninggalkan mayat Elisa sendirian di tengah genangan darah.

Elisa, dalam wujud roh yang bingung, menatap jasadnya sendiri dengan perasaan hampa. Jadi, begini akhirnya, batinnya pilu. Mati dalam siksaan, dibenci oleh keluarga yang dia banggakan, dan tidak sempat bertemu ayah kandungnya. Air mata—jika roh bisa menangis—mengalir deras. Bukan karena sakit fisik, tapi karena penyesalan yang terlambat. Ia menyesal tidak lebih kuat. Menyesal tidak segera lari mencari Jonathan Suryahadiatmaja.

Tiba-tiba, pintu gudang didobrak kasar. Bukan polisi, bukan tetangga. Seorang pria tinggi besar dengan jas basah kuyup menerobos masuk, diikuti oleh puluhan pengawal bersenjata. Wajah pria itu tampan namun dipenuhi garis-garis kelelahan dan kemarahan yang membara. Matanya yang tajam langsung terkunci pada jasad kecil di lantai.

"ELISA!" teriak pria itu, suaranya memecah keheningan malam, penuh rasa sakit yang begitu dalam hingga membuat para pengawal menunduk hormat. Itu Jonathan Suryahadiatmaja. Ayah kandungnya.

Jonathan jatuh berlutut di samping jasad Elisa, tangannya yang biasanya menandatangani kontrak miliaran rupiah kini gemetar hebat saat menyentuh wajah putrinya yang berlumuran darah. "Maafkan Papa! Maafkan Papa, Nak!" Papa terlambat ... Papa bodoh ... seharusnya aku menemukanmu lebih cepat!" isaknya pecah, air mata pria berkuasa itu tumpah ruah membasahi wajah pucat Elisa.

Para pengawal segera mengamankan TKP. Suryo, Linda, dan Michael yang baru saja kembali karena lupa mengambil dompet, ditangkap kasar di depan pintu. Teriakan mereka meminta ampun tidak didengar oleh Jonathan yang kini hanya fokus pada putri semata wayangnya.

"Nona Elisa meninggal! Pelaku sudah diamankan, Tuan." lapor salah satu pengawal dengan suara berat.

Jonathan tidak menjawab. Ia mengangkat tubuh ringkih itu ke pelukannya, memeluknya erat seolah ingin mengembalikan nyawa lewat hangatnya dekapan. "Kau tidak mati, Lisa. Kau tidak boleh mati. Ayah punya uang, ayah punya kekuasaan. Dokter terbaik akan datang. Kau harus bangun ..."

Namun, tubuh di pelukannya tetap dingin. Kaku. Nyawa telah pergi.

Di sisi lain, roh Elisa menyaksikan pemandangan itu dengan hati hancur berkeping-keping. Ia melihat cinta murni yang terlambat datang. Ia melihat ayah yang rela menghancurkan dunia demi dirinya. 'Terima kasih, Ayah, Terima kasih sudah mencariku. Maafkan aku yang pergi terlalu cepat.' batin Elisa lirih.

Cahaya putih mulai menyelimuti pandangannya. Rasa sakit, dendam, dan penyesalan bercampur menjadi satu energi yang kuat. Sebuah keinginan besar membuncah di dalam jiwanya. 'Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Aku ingin kesempatan kedua. Aku ingin membalas semua sakit ini. Aku ingin memeluk Ayah selagi dia masih ada. Aku ingin hidup lagi!'

"Jika dewa mendengar doaku. Kirimkan aku kembali ke masa lalu. Sebelum semuanya terjadi. Kali ini, aku tidak akan menjadi korban. Kali ini, akulah yang akan memegang kendali atas takdirku. Dan bagi mereka yang menyakitiku ... siapkan diri kalian untuk neraka yang kubawa." bisik Elisa di alam sana, suaranya bergema penuh tekad baja.

Cahaya putih itu semakin terang, menelan segala sesuatu. Tubuh jasmaniah Elisa di pelukan Jonathan perlahan menghilang dari pandangan dunia, namun jiwanya sedang melakukan perjalanan melintasi waktu, menuju titik di mana semuanya masih bisa diperbaiki.

Gelap. Lalu, sebuah tarikan napas panjang.

More Chapters