Ficool

Chapter 888 - Cosmic Web

Di luar batas galaksi.

Jauh melampaui Bimasakti, Andromeda, dan Tringgulung.

Terdapat sebuah kerajaan yang tidak menyerupai kerajaan mana pun yang pernah dikenal oleh makhluk biasa.

Namanya—

Cosmic Web.

Sebuah kerajaan yang mencakup wilayah Universe.

Bentuknya sangat unik.

Di ruang yang seolah tidak memiliki ujung, terbentang jaring-jaring kosmik raksasa seperti jaring laba-laba.

Namun setiap untaian jaring tersebut bukan sekadar kumpulan energi.

Di dalam setiap jaringan terdapat sebuah alam semesta.

Galaksi-galaksi bergerak.

Bintang-bintang lahir dan mati.

Kehidupan berkembang.

Peradaban muncul.

Dan seluruhnya terhubung melalui jaringan kosmik yang sangat luas.

Cosmic Web tidak memiliki seorang Raja.

Tidak ada Kaisar.

Tidak ada penguasa tunggal.

Sebagai gantinya, wilayah tersebut dijaga oleh para Supercluster.

Mereka adalah pilar-pilar penguasa sekaligus penjaga Universe.

Makhluk yang keberadaannya berada jauh di atas sebagian besar kehidupan di alam semesta.

Di salah satu altar terbesar Cosmic Web—

dua sosok duduk saling berhadapan.

Altar tersebut begitu luas hingga batasnya hampir tidak terlihat.

Di belakang mereka, jaring-jaring kosmik membentang ke segala arah.

Salah satunya adalah seorang gadis.

Ia mengenakan pakaian sederhana dengan sebuah topeng emas yang menutupi wajahnya.

Namanya—

Laniakea.

Salah satu Supercluster yang bertanggung jawab atas wilayah Universe miliknya.

Di hadapannya duduk seorang pria dengan tombak berwarna gelap.

Namanya—

Shapley.

Ia memegang tombaknya sambil menatap Laniakea dengan serius.

"Aku merasakan sesuatu."

Laniakea tidak langsung menjawab.

Shapley melanjutkan.

"Ada pergerakan di wilayahmu."

Laniakea sedikit memiringkan kepalanya.

"Wilayahku?"

"Ya."

"Tapi aku tidak merasakan apa pun."

Laniakea memandang jaringan Universe yang berada di belakang Shapley.

"Semua berjalan seperti biasa."

"Kehidupan berkembang."

"Galaksi bergerak."

"Tidak ada perang besar."

"Tidak ada kehancuran."

Shapley tetap diam.

Ia kemudian menancapkan ujung tombaknya ke lantai altar.

TOK.

"Aku tahu."

"Justru itu yang membuatku khawatir."

Laniakea terdiam.

Shapley mengangkat kepalanya.

"Aku merasakan seseorang akan datang."

"Datang ke sini?"

"Ya."

Laniakea menatapnya.

"Siapa?"

Shapley tidak langsung menjawab.

Tatapannya menjadi semakin serius.

"Storm Realms."

Nama itu terdengar asing bagi Laniakea.

"Storm... Realms?"

Shapley mengangguk.

"Dia akan datang."

Laniakea menyandarkan tubuhnya.

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena aku merasakan aliran takdirnya."

Shapley menggenggam tombaknya.

"Alam semesta berada dalam bahaya."

Laniakea terdiam.

Shapley kemudian melanjutkan.

"Akan ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang antarplanet."

"Dan ketika ancaman itu muncul..."

Ia menatap jaringan Universe.

"Storm akan berada di sana."

Laniakea bertanya,

"Dia datang untuk melawan ancaman tersebut?"

"Kurasa begitu."

Shapley menghela napas.

"Namun masalahnya bukan hanya kedatangannya."

Laniakea sedikit mengernyit.

"Masalahnya adalah?"

Shapley menatap lurus ke arahnya.

"Storm selalu lolos dari takdir kematiannya."

Keheningan turun di altar.

"Takdir sudah berkali-kali membawanya menuju akhir."

"Tetapi dia selalu menemukan jalan untuk melewatinya."

Shapley mengangkat tombaknya.

"Aku bahkan tidak bisa begitu saja menghapus keberadaannya."

Laniakea diam.

Sebagai Supercluster, ia tahu betapa luar biasanya pernyataan tersebut.

Shapley bukan makhluk biasa.

Ia adalah salah satu penjaga Universe.

Namun seorang manusia dari Bimasakti mampu membuatnya berhati-hati.

Laniakea perlahan menatap jaring-jaring kosmik.

Di salah satu bagian yang sangat jauh—

sebuah Universe berdenyut dengan cahaya.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya Laniakea merasa penasaran.

"Storm Realms..."

Ia mengucapkan nama itu perlahan.

Seorang manusia biasa.

Namun mampu membuat salah satu Supercluster merasa waspada.

Laniakea tersenyum tipis di balik topeng emasnya.

"Menarik."

Shapley menatapnya.

"Kau tertarik?"

"Sedikit."

Laniakea berdiri.

"Aku ingin melihatnya sendiri."

Shapley terdiam.

"Jangan meremehkannya."

"Aku tidak meremehkannya."

Laniakea menatap luasnya Cosmic Web.

"Aku justru ingin tahu..."

Ia menyentuh salah satu jaring kosmik di hadapannya.

"...seperti apa manusia yang mampu membuat Supercluster merasa terancam."

More Chapters