Ficool

Chapter 886 - Melampaui Batas Bimasakti

Aula istana masih dipenuhi keheningan.

Tidak ada seorang pun yang segera menjawab pertanyaan mengenai siapa yang akan mewakili Bimasakti.

Namun kemudian—

Langkah kaki terdengar.

Storm maju ke depan.

Napstylea menatapnya.

"Storm?"

Storm tidak menjawab.

Ia memasukkan tangannya ke dalam bagian belakang perlengkapannya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang selama ini hampir tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Sebuah belati.

Bentuknya sederhana, tetapi bilahnya memancarkan garis-garis cahaya aneh seperti retakan pada ruang.

Storm menggenggamnya erat.

"Ini adalah Dimensional Travel Dagger."

Semua mata tertuju kepadanya.

Storm menatap belati itu sejenak.

"Ini peninggalan ayahku."

Suaranya terdengar tenang.

"Dia memberikannya kepadaku sebelum pergi."

Storm mengangkat belati tersebut.

"Senjata ini mampu membelah dimensi."

Sebuah garis cahaya muncul di udara ketika ujung belati bergerak sedikit.

SRET!

Ruang di depannya seolah terbelah.

Storm kemudian menutup kembali celah tersebut.

"Dengan ini, aku bisa berpindah tempat dalam sekejap."

Ia menatap Xyros, Meracles, dan Recluster.

"Bahkan berpindah dari satu dimensi menuju dimensi lainnya."

Aula kembali sunyi.

Storm kemudian berkata,

"Aku tidak takut menghadapi musuh berskala alam semesta."

Beberapa orang terkejut mendengarnya.

Storm melanjutkan,

"Karena aku sudah pernah mengalahkan makhluk dari dimensi keempat."

Mata Xyros sedikit melebar.

Meracles terdiam.

Recluster menatap Storm lebih serius.

Storm menyebut satu nama.

"Tesseract."

Keheningan seketika berubah menjadi keterkejutan.

"Tesseract...?"

Maxtis bahkan mengangkat kepalanya.

Tyrannos membeku.

Oreons menatap Storm tanpa berkedip.

Mereka mengetahui nama tersebut.

Tesseract bukan makhluk biasa.

Ia merupakan makhluk yang berasal dari dimensi keempat, jauh melampaui pemahaman makhluk dari dimensi biasa.

Dan Storm...

Pernah mengalahkannya.

Napstylea justru tersenyum kecil.

Ia melihat sesuatu yang sudah lama tidak terlihat dari Storm.

Semangat.

Semangat seorang penjelajah.

Sejak kehilangan Arabels, Storm seakan kehilangan sebagian dirinya.

Namun sekarang—

untuk pertama kalinya, matanya kembali memperlihatkan keinginan untuk melihat dunia yang jauh lebih luas.

Xyros tertawa kecil.

"Jadi kau pernah menghadapi Tesseract?"

Storm mengangguk.

Meracles tersenyum.

"Kalau begitu, kau memang pantas ikut."

Recluster mengangkat pedangnya.

"Tapi jangan terlalu bangga."

Storm menatapnya.

Recluster melanjutkan,

"Tesseract memang berasal dari dimensi lain."

"Namun dibandingkan makhluk yang berada jauh di atas sana..."

Ia tersenyum tipis.

"...Tesseract hanyalah makhluk yang lemah."

Storm terdiam.

Xyros mengangguk.

"Benar."

"Itu baru permulaan."

Meracles ikut menambahkan,

"Masih banyak makhluk yang kekuatannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Tesseract."

Storm justru tersenyum tipis.

"Bagus."

Ia menatap Dimensional Travel Dagger di tangannya.

"Memang itu yang kucari."

Kemudian Storm berjalan menuju singgasana.

Ia berhenti tepat di hadapan Oreons.

Tatapan keduanya bertemu.

"Aku akan pergi dari galaksi ini."

Oreons diam.

"Sebelum itu aku berpamitan kepada sang Kaisar."

Storm menggenggam Dimensional Travel Dagger.

"Aku akan pergi menuju tempat di mana ancaman itu berada."

"Dan aku akan melawannya."

Oreons tidak segera menjawab.

Sebagai Kaisar Galactic Empire, ia tahu keputusan tersebut sangat berbahaya.

Namun ia juga tahu siapa Storm.

Akhirnya Oreons mengangguk.

"Pergilah."

"Aku percaya kepadamu."

Tyrannos memandang Yllarxa.

Yllarxa mengangguk kecil.

Tyrannos kemudian ikut mengangguk.

"Pergilah, Storm."

Rangers berdiri diam.

Tangannya perlahan menyentuh gagang pedangnya.

Bukan untuk bertarung.

Melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang yang akan menjalani perjalanan besar.

Kemudian—

Napstylea maju.

Ia berdiri tepat di samping Storm.

Storm menoleh kepadanya.

Tanpa banyak kata, Storm mengulurkan tangannya.

Napstylea memandang tangan tersebut beberapa detik.

Kemudian ia menggenggamnya.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

"Kita pergi bersama."

Storm mengangguk.

"Ya."

Dari sisi lain aula—

Aryes maju.

Proxi mengikutinya.

Aryes menatap Storm.

"Kalau kau pergi, X.A.R.A. juga pergi."

Proxi menampilkan ekspresi tersenyum pada layar wajahnya.

"Dan tentu saja, Ginga Stars."

Di belakang mereka, anggota tim X.A.R.A. lainnya ikut memberikan persetujuan.

Jester mengangguk.

Violys tersenyum.

Zero mengepalkan tangan.

Lira dan Roxis berdiri siap.

Mereka semua tahu perjalanan berikutnya tidak akan sama seperti sebelumnya.

Mereka tidak lagi sekadar menjelajahi planet.

Bukan lagi konstelasi.

Bukan sebagai bintang.

Bukan sekadar galaksi.

Mereka akan menuju wilayah yang belum pernah mereka kenal.

Batas Universe.

Storm kemudian berjalan keluar dari aula.

Napstylea mengikutinya.

Aryes, Proxi, dan anggota X.A.R.A. lainnya berada di belakang mereka.

Xyros, Meracles, dan Recluster juga menyusul.

Di luar istana, Storm berhenti.

Ia mengangkat wajahnya.

Langit Urco Tastarius terbentang luas di atas kepalanya.

Bintang-bintang berkilauan.

Untuk sesaat, Storm hanya diam.

Ia teringat Bumi.

Tempat asalnya.

Bimasakti.

Tempat semua perjalanan panjangnya dimulai.

Kemudian sebuah nama muncul dalam pikirannya.

Arabels.

Storm menutup matanya.

"Selamat tinggal..."

Tidak ada seorang pun yang mendengar kata itu.

"Selamat tinggal, Bumi."

Angin malam berembus melewati tubuhnya.

"Selamat tinggal, Bimasakti."

Storm membuka mata.

Tatapannya kembali mengarah ke langit.

Dan untuk terakhir kalinya—

ia mengingat senyum Arabels.

"Dan... selamat tinggal, Arabels."

Storm tahu perjalanan ini mungkin akan membawanya semakin jauh dari rumah.

Semakin jauh dari tempat ia berasal.

Semakin jauh dari semua kenangan yang selama ini mengikat dirinya.

Jika ingin mencapai batas Universe—

ia harus berani meninggalkan semuanya.

Rumah.

Asal-usulnya.

Masa lalunya.

Bahkan kenangan yang paling berharga dalam hidupnya.

Storm menggenggam Dimensional Travel Dagger.

Cahaya tipis muncul di sepanjang bilahnya.

Di sampingnya, Napstylea tetap menggenggam tangannya.

Dan di belakang mereka, seluruh tim X.A.R.A. bersiap.

Storm menatap ruang angkasa.

Dulu, ia menjelajah karena ingin mengetahui apa yang ada di balik bintang.

Kini alasannya berbeda.

Ia akan pergi lebih jauh dari sebelumnya.

Bukan hanya untuk menjelajah.

Bukan hanya untuk menjadi lebih kuat.

Tetapi untuk menghadapi sesuatu yang bahkan mengancam seluruh alam semesta.

More Chapters