Ficool

Chapter 869 - Kenangan Sang Navigator

Di dalam kapal Nexus, suasana terasa sangat sunyi. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Aryes, Violys, Zero, Lira, Jester, dan Roxis R-5 masih berdiri di dekat jendela kapal. Mereka semua melihat ke arah ruang angkasa. Tempat Arabels sebelumnya berada kini hanya menyisakan serpihan cahaya yang perlahan menghilang.

Aryes menundukkan kepalanya. "Arabels..." Tidak ada jawaban. Namun mereka semua tahu... Navigator mereka tidak akan kembali lagi.

Violys menghela napas panjang. "Dia selalu menjadi orang yang paling tenang ketika kita menghadapi masalah."

Zero menatap layar navigasi. "Dan selalu menjadi orang pertama yang menemukan jalan keluar."

Lira tersenyum kecil meskipun matanya terlihat sedih. "Dia navigator terbaik yang pernah dimiliki X.A.R.A."

Jester mengangguk pelan. "Kalau begitu... kita akan mengingatnya seperti itu."

Aryes menatap semua anggota tim. "Benar. Arabels akan selalu menjadi bagian dari X.A.R.A."

---

Tidak jauh dari sana... Di dalam Ginga Stars, Proxi berjalan perlahan menuju ruang navigasi. Ruangan itu masih menyimpan banyak data perjalanan mereka. Namun kursi Navigator kini kosong. Proxi berdiri di depan kursi tersebut. Di sana terdapat sebuah topi Navigator milik Arabels. Proxi mengambilnya dengan hati-hati. Ia menatap topi itu beberapa saat. Tidak ada perubahan ekspresi pada wajah mekanisnya. Namun sistem memorinya menyimpan begitu banyak data tentang Arabels. Percakapan. Perjalanan. Pertempuran. Dan berbagai keputusan yang pernah mereka ambil bersama.

Proxi akhirnya meletakkan topi tersebut di tempat yang aman. "Data Navigator Arabels akan tetap tersimpan." Ia berhenti sejenak. "Kami tidak mampu menyelamatkannya." Namun Proxi kemudian menatap topi tersebut. "Tetapi kami masih mampu mengingatnya." Pintu ruang navigasi tertutup perlahan.

---

Sementara itu... Di luar kapal Nexus, Libra masih melayang di angkasa. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Kedua matanya tetap tertutup kain hitam. Perhatiannya tertuju pada Storm. Storm masih berada dalam pelukan Napstylea. Tubuhnya terlihat lemah. Tangisnya belum berhenti sepenuhnya.

Libra terdiam. Ia mengingat pertarungan sebelumnya. Storm telah menghadapi tiga naga. Nyxdess. Zyron. Dargon. Ia bahkan mengeluarkan kekuatan yang mampu melampaui batas ruang dan waktu. Namun sekarang... Storm terlihat begitu rapuh.

Libra sedikit mengangkat kepalanya. "Menarik... Orang yang mampu mengalahkan tiga naga dengan kekuatan sebesar itu... ternyata masih bisa terlihat begitu lemah."

Libra kembali menatap Storm. Ia tidak menghakimi. Ia hanya mengamati. Bagi Libra... kekuatan seseorang bukan hanya diukur dari seberapa kuat mereka mampu bertarung. Terkadang... kelemahan seseorang justru terlihat ketika mereka kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Dan Storm... baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya.

Libra kemudian menurunkan tangannya. "Semoga kau bisa berdiri kembali."

Gamma Draconis kembali sunyi. Armada Kekaisaran dan Tartanos masih menunggu. Nexus tetap diam. Ginga Stars tidak bergerak. Sementara Storm masih berada dalam pelukan Napstylea.

More Chapters