Ficool

Chapter 844 - Ice Dragon

Storm berdiri di tengah ruang angkasa yang mulai dipenuhi kristal es. Napasnya semakin berat. Tubuhnya sudah berada di batas kemampuan. Namun ia masih belum berniat berhenti.

Storm mengangkat pedang esnya ke langit. Aura Ice Emperor yang mengelilinginya tiba-tiba melonjak. "Kalau begitu... Aku akan mengakhiri pertarungan ini."

Energi biru berkumpul di belakang tubuhnya. Awalnya hanya berupa cahaya kecil. Namun cahaya itu terus membesar. Semakin besar... Semakin besar... Hingga memenuhi sebagian ruang di sekitar Gamma Draconis.

*FROOOOOOM! *

Dari dalam pusaran energi tersebut... Sesuatu mulai muncul. Sebuah kepala naga raksasa. Kemudian lehernya. Tubuhnya terus keluar dari pusaran es. Sampai akhirnya... Seekor Ice Dragon berukuran luar biasa muncul di ruang angkasa.

Ukurannya hampir menyamai sebuah planet di sistem bintang Gamma Draconis. Tubuhnya diselimuti kristal es. Puluhan sayap terbentang di belakang tubuhnya. Setiap kepakan sayap menciptakan gelombang dingin yang menyebar ke seluruh medan perang.

Zyron membeku sesaat melihat kemunculan makhluk tersebut. "Apa..."

Ice Dragon perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju kepada Zyron. Seolah-olah... Ia telah mengenali targetnya.

Storm mengangkat tangannya. "Target... Zyron."

Ice Dragon mengeluarkan raungan dahsyat.

*ROOOOOOAR! *

Suara itu mengguncang ruang angkasa.

Setelah memanggil makhluk tersebut... Tubuh Storm tiba-tiba bergetar. Ia kehilangan keseimbangan.

"Kh..." Storm menutup mulutnya. Sedikit darah keluar. Ia segera mengusapnya. Memanggil Ice Dragon berukuran sebesar itu telah menghabiskan energi yang sangat besar. Napas Storm semakin berat. Namun ia tetap memaksa dirinya berdiri. "Aku masih... bisa bertarung."

Zyron menatap Ice Dragon dengan waspada. Ia menghadapi sesuatu yang ukurannya hampir setara dengan planet. Ice Dragon kembali mengarahkan pandangannya kepadanya. Storm menurunkan tangannya. "Pergilah. Habisi dia."

Puluhan sayap Ice Dragon mulai bergerak. Ruang di sekitar Gamma Draconis kembali membeku.

More Chapters