Di tengah kekacauan perang Gamma Draconis... Dargon masih melayang dengan tenang. Tatapannya mengawasi setiap pertempuran yang terjadi di sekelilingnya.
Tiba-tiba ruang di sisi kanan tubuhnya bergetar.
*Krrrkk... *
Ruang hampa tampak terlipat, seolah ada dimensi lain yang memaksakan diri untuk terbuka. Retakan tipis membentuk sebuah celah. Dari dalam celah itu... Dua pedang kembar melesat dengan kecepatan luar biasa.
*Sreett! *
Serangan itu datang tanpa suara. Tanpa peringatan. Seolah kedua pedang tersebut muncul dari balik teleportasi.
Dargon bahkan tidak mengubah ekspresinya. Ia hanya mengangkat satu tangan.
*Wuuusshh! *
Aura naga berwarna emas meledak dari tubuhnya. Gelombang energi itu menghantam kedua pedang sebelum sempat mengenainya.
*Dooom! *
Kedua pedang terpental jauh. Beralih arah beberapa kali sebelum akhirnya berhenti berputar. Sesosok pria melesat cepat. Dengan santai, ia menangkap kedua pedang itu. Maxtis Xorgat. Seringai lebar muncul di wajah sang jenderal.
"Hahaha... Sungguh hebat. Serangan mendadak seperti itu saja mampu kau hentikan." Ia memutar kedua pedang kembarnya. Demonic Twin Swords memancarkan aura gelap yang perlahan menyelimuti ruang di sekitarnya. Maxtis mengarahkan salah satu pedangnya ke Dargon. "Tapi... Jangan salah paham. Kau bukan ancaman besar bagiku."
Dargon tetap diam. Maxtis melanjutkan. "Aku pernah bertarung melawan para dewa. Meskipun aku kalah... Aku mengetahui seperti apa kekuatan mereka." Ia menyeringai. "Kalau dibandingkan dengan dewa... Ras naga hanyalah makhluk yang lebih lemah. Bahkan... Aku bisa menghabisimu dengan mudah."
Baginya... Pengalaman menghadapi para dewa telah membuatnya memahami batas kekuatan banyak ras di galaksi. Dan menurut penilaiannya... Naga masih berada di bawah para dewa.
Dargon tidak marah. Ia justru menganggukkan kepala pelan. "Kau benar. Naga memang tidak sekuat dewa." Jawaban itu membuat Maxtis sedikit terkejut. Dargon melanjutkan dengan suara tenang. "Tapi... Jangan terlalu percaya diri hanya karena masa lalumu. Pengalaman bukan jaminan kemenangan. Kesombongan sering kali menjadi awal dari kekalahan."
Tatapan Dargon berubah tajam. Perlahan... Ia mengangkat tangan kanannya. Di hadapannya muncul lingkaran sihir berwarna emas. Cahaya itu semakin terang. Lalu... Sebuah pedang perlahan keluar dari dalamnya. Gagangnya menyerupai kepala naga emas. Bilahnya memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti ruang angkasa. Aura yang dipancarkannya membuat banyak naga secara naluriah menundukkan kepala.
"Itu..." gumam beberapa naga.
Dargon menggenggam pedang tersebut. *Eternal Golden Dragon Sword. * Pedang legendaris milik Raja Naga. Senjata yang dahulu digunakannya untuk menaklukkan para naga terkuat di Konstelasi Draco. Pedang yang menjadi lambang kekuasaan tertinggi atas seluruh ras naga di konstelasi itu. Begitu pedang itu terhunus... Tekanan emas memenuhi medan perang.
Maxtis menatap senjata tersebut dengan penuh minat. Senyumnya justru semakin lebar. "Bagus. Akhirnya... Kau mengeluarkan senjata yang layak."
Dargon mengangkat Eternal Golden Dragon Sword hingga sejajar dengan tubuhnya. Tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Di hadapannya berdiri salah satu Jenderal Utama Kekaisaran yang terkenal sebagai petarung paling haus pertempuran. Namun Dargon tetap tenang. "Aku adalah Raja Naga Draco. Aku tidak akan mundur hanya karena lawanku adalah seorang jenderal Kekaisaran."
Di bawah cahaya Gamma Draconis... Dua sosok terkuat itu saling berhadapan. Aura emas milik Raja Naga dan aura gelap milik Maxtis mulai berbenturan, menandai dimulainya duel yang dapat mengguncang seluruh konstelasi.
