Ficool

Chapter 802 - Tekad yang Tak Dapat Digoyahkan

Di bawah cahaya Gamma Draconis... Ketegangan terus meningkat. Ribuan naga masih memenuhi ruang angkasa, sementara armada Kekaisaran, armada Tartanos, dan Nexus S-4473 tetap berada dalam posisi siaga.

Di garis paling depan... Storm menggenggam Pedang Ashura dengan erat. Aura merah dari Armor Skycrimson perlahan menyelimuti tubuhnya. Saat ia hendak melangkah maju... Sebuah tangan menyentuh lengannya. Storm menoleh. Napstylea berdiri di sampingnya. Tatapannya yang biasanya tenang kini dipenuhi kekhawatiran.

"Storm... Hentikan."

Storm terdiam. Napstylea melanjutkan, "Kalau kau bertarung sekarang... Konstelasi ini akan benar-benar berubah menjadi medan perang." Ia mengalihkan pandangannya ke arah ribuan naga yang memenuhi angkasa. "Mereka terlalu banyak. Dan pemimpin mereka bukan lawan biasa. Aku mohon... Jangan hadapi mereka sendirian."

Untuk pertama kalinya, nada suara Napstylea terdengar seperti sebuah permohonan. Ia tidak takut pada pertarungan. Tetapi ia memahami satu hal. Jika Storm kembali mengeluarkan kekuatan besarnya... Draco yang telah hancur akibat pertarungan sebelumnya mungkin tidak akan mampu bertahan lagi.

Beberapa saat... Storm hanya diam. Kemudian ia tersenyum tipis. "Napstylea. Tak perlu mengkhawatirkanku." Nada suaranya tetap tenang. "Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri."

Napstylea menggenggam tangannya lebih erat. "Tapi—"

Storm perlahan melepaskan genggaman itu. Ia melangkah ke depan. Tatapannya kembali mengarah kepada Dargon dan ribuan naga. Aura merah mulai berdenyut dari seluruh tubuh Armor Skycrimson. Gelombang energinya menyebar ke segala arah. Ruang di sekitarnya tampak bergetar.

Storm mengangkat Pedang Ashura. "Lawan yang datang membawa ancaman... harus dihentikan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan tempat ini." Suaranya menggema di seluruh medan perang. Ribuan naga langsung menoleh ke arahnya. Sebagian mulai memperlihatkan taring mereka. Yang lain mengepakkan sayap, bersiap menerima perintah.

Di belakang Storm... Napstylea hanya dapat menatap punggungnya. Ia menghela napas pelan. Ia tahu... Begitu Storm mengambil keputusan, hampir tidak ada siapa pun yang mampu mengubah tekadnya.

Di kejauhan... Dargon memperhatikan manusia itu tanpa mengubah ekspresi. Sorot matanya menjadi semakin tajam. Sementara Zyron menyeringai. "Manusia... Keberanianmu memang pantas dipuji. Tapi keberanian saja tidak cukup untuk menghadapi ras naga."

Storm tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya lebih tinggi. Aura merah yang menyelimuti tubuhnya terus meningkat, seolah menjadi jawaban atas semua ancaman yang berada di hadapannya. Perang besar di Gamma Draconis kini terasa semakin dekat.

More Chapters