Ficool

Chapter 786 - Harga Diri Seorang Manusia

Di tengah Konstelasi Draco... Keheningan yang menyelimuti tiga armada tiba-tiba pecah.

"Hahahaha...!" Tawa Maxtis menggema begitu keras hingga ruang angkasa seolah bergetar. Gelombang energi dari suaranya menyebar ke segala arah, membuat kapal-kapal di sekitarnya sedikit berguncang. Senyum lebar menghiasi wajah sang jenderal. Tatapannya tertuju lurus kepada Storm.

"Jadi... Kaulah orangnya. Orang yang membuat Yang Mulia Kaisar Oreons mulai memberi perhatian." Ia melangkah perlahan ke depan. "Tekanan yang mengguncang galaksi itu... Berasal darimu."

Maxtis mengingat kembali laporan yang diterimanya. Seorang petarung misterius yang melepaskan kekuatan luar biasa di Konstelasi Draco. Kekuatan yang dikenal sebagai Xyrares Vonalys. Itulah alasan sebenarnya ia datang ke tempat ini. Namun... Semakin lama ia mengamati Storm, semakin sulit ia mempercayainya.

"Kau... Benar-benar manusia?"

Storm tidak menjawab. Maxtis kembali tersenyum sinis. "Dan kau berasal dari... Bumi." Nada suaranya berubah meremehkan. "Planet kecil yang nyaris tidak memiliki arti. Di mata Kekaisaran... Ras manusia dari sana hanyalah ras paling lemah di galaksi."

Beberapa prajurit Kekaisaran ikut tersenyum tipis. Mereka memiliki pandangan yang sama. Bumi hanyalah planet biasa. Tidak pernah dianggap sebagai ancaman.

---

Storm mengangkat tangan kanannya. Cahaya merah berkumpul di telapak tangannya. Perlahan, Pedang Ashura terbentuk dari energi merah gelap. Storm menggenggamnya erat. Lalu menghunuskannya lurus ke arah Maxtis. Tatapannya tetap tenang. Tetapi suaranya terdengar tegas.

"Benar. Manusia memang lemah." Ia tidak membantah kenyataan itu. Namun genggamannya pada Pedang Ashura semakin erat. "Tapi... Selama aku masih berdiri. Aku akan menantang siapa pun yang berani melawanku." Matanya menatap lurus ke arah Maxtis. "Bahkan... Tuhan sekalipun."

Keheningan langsung menyelimuti ruang angkasa. Senyum di wajah Maxtis perlahan memudar. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ucapan Storm membangkitkan kenangan yang telah lama ia pendam. Pertempuran di masa lalu. Saat ia menantang para dewa galaksi. Dan berakhir dengan kekalahan. Bukan karena kurang berani. Melainkan karena kekuatan mereka benar-benar berada di luar jangkauannya saat itu. Tatapan Maxtis berubah lebih tajam.

Di samping Storm... Napstylea melangkah maju satu langkah. Ia dapat merasakan perubahan tekanan energi di sekitar mereka. "Storm," panggilnya pelan. Storm tidak menoleh. Napstylea kembali berbicara. "Jangan terpancing emosimu. Kalau pertarungan dimulai sekarang... Dampaknya akan sangat besar."

Storm tetap mengarahkan Pedang Ashura ke depan. Namun napasnya perlahan menjadi lebih tenang. Ia memahami maksud Napstylea. Konstelasi Draco baru saja porak-poranda akibat pertarungannya melawan Zyron. Jika kini ia kembali bertarung habis-habisan dengan salah satu jenderal utama Kekaisaran... Maka kehancuran yang terjadi bisa jauh lebih besar.

---

Di kejauhan... Tyrannons, Rea, Astralon, dan seluruh armada yang hadir hanya bisa menyaksikan. Tak seorang pun berani menyela. Karena mereka tahu... Percakapan itu telah berubah menjadi adu harga diri antara seorang jenderal terkuat Kekaisaran Galaksi dan seorang manusia dari Bumi yang berani menantang siapa pun, bahkan para dewa.

More Chapters