Cahaya merah melesat menembus ruang angkasa. Beberapa saat kemudian... Storm menghentikan lajunya tepat di depan kapal utama Armada Tartanos. Armor Skycrimson yang menyelimuti tubuhnya memancarkan cahaya merah redup di tengah gelapnya Konstelasi Draco. Kedatangannya segera menarik perhatian seluruh armada pemberontak.
Di ruang komando kapal utama... Rea dan Astralon memandang layar holografik dengan ekspresi terkejut. "Itu..." gumam Rea. "Tekanan energi yang luar biasa."
Astralon menyipitkan matanya. "Sulit dipercaya. Dia benar-benar manusia?" Tatapannya tidak lepas dari sosok Storm. "Dengan kekuatan seperti itu... Dia hampir setara dengan ras-ras terkuat di galaksi."
Sementara itu... Tyrannons melangkah keluar menuju dek utama kapalnya. Ia berdiri berhadapan dengan Storm yang melayang beberapa meter di depannya. Untuk sesaat... Keduanya hanya saling menatap. Lalu Tyrannons tersenyum tipis. "Namaku Tyrannons Galactive. Pemimpin Pemberontak Tartanos."
Storm menganggukkan kepala sebagai tanda menghormati. "Aku Storm Realms."
Tyrannons mengamati Skycrimson yang dikenakan Storm. "Kekuatanmu benar-benar luar biasa. Kalau keadaan sedang berbeda... Aku ingin menantangmu berduel." Ia melirik sekilas ke arah armada Kekaisaran. "Tapi bukan sekarang. Saat ini aku harus menghadapi Paman Maxtis."
Storm mengikuti arah pandangan Tyrannons. Di kejauhan, kapal utama Kekaisaran masih berdiri tanpa bergerak. Sosok Maxtis Xorgat masih terlihat berdiri di haluan kapal.
Storm kembali menatap Tyrannons. "Aku tidak terlalu memikirkan duel," ucapnya tenang. "Tapi... Aku masih sulit memahami keputusanmu."
Tyrannons mengernyit. "Apa maksudmu?"
Storm menjawab tanpa mengubah nada suaranya. "Kau rela meninggalkan Istana. Meninggalkan keluargamu. Dan menjadi pemberontak. Semua demi keyakinanmu." Ia menggeleng pelan. "Itu bukan keputusan yang mudah."
Tyrannons terdiam. Namun ia tidak membantah. Ia hanya menatap ruang angkasa yang luas di hadapannya. Setelah beberapa saat, ia berkata pelan. "Ada sesuatu yang lebih penting daripada takhta."
---
Belum sempat Storm menanggapi... Sebuah cahaya perak melesat dari arah belakang.
*Wuusshh! *
Sosok itu berhenti tepat di samping Storm. Storm sedikit menoleh. "...Napstylea?"
Napstylea yang mengenakan Armor Silver menganggukkan kepala pelan. "Aku menyusulmu."
Storm tampak sedikit terkejut. "Aku tidak menyangka kau akan datang."
Napstylea mengalihkan pandangannya ke arah armada Kekaisaran. Tatapannya menjadi lebih serius. "Jangan lengah. Kita sedang berhadapan dengan orang-orang dari Istana Urco Tastarius." Ia memperhatikan Maxtis yang berdiri di kejauhan. "Setiap jenderal utama memiliki kemampuan yang berbeda. Meremehkan mereka adalah kesalahan."
Storm ikut memandang ke arah Maxtis. Ia dapat merasakan tekanan besar yang dipancarkan sang jenderal, meski mereka masih dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh.
Suasana kembali dipenuhi keheningan. Di satu sisi... Storm dan Napstylea. Di sisi lain... Tyrannons bersama armada pemberontaknya.
