Ficool

Chapter 782 - Menuju Medan Ketegangan

Di koridor utama Nexus S-4473... Storm berjalan menuju hanggar dengan langkah tenang. Tatapannya lurus ke depan, seolah telah mengambil keputusan. Arabels yang menyadari tujuannya segera menyusul.

"Storm, tunggu!"

Storm menghentikan langkahnya dan menoleh. Arabels berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kekhawatiran. "Kamu tidak perlu pergi. Situasi di luar terlalu berbahaya."

Storm hanya tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi aku tetap harus keluar."

Arabels menggeleng pelan. "Kenapa? Kita bahkan tidak mengenal Tyrannons. Mengapa kamu ingin ikut campur?"

Storm memandang ke arah jendela hanggar, tempat armada Kekaisaran dan Pemberontak masih saling berhadapan. "Aku memang tidak mengenalnya. Tapi aku tahu satu hal." Tatapannya berubah serius. "Jenderal Kekaisaran itu bukan lawan biasa. Dan... Aku ingin melihat sendiri seberapa kuat mereka."

Bukan karena ingin mencari masalah. Melainkan karena naluri seorang petarung. Setelah menghadapi Zyron Dragonvor, Storm menyadari bahwa galaksi masih menyimpan banyak lawan yang jauh lebih kuat. Jika suatu hari nanti ia harus berhadapan dengan mereka, ia tidak ingin datang tanpa persiapan.

Arabels menggenggam lengan Storm. "Tolong... Jangan memaksakan dirimu. Kamu baru saja pulih."

Storm menatap Arabels beberapa saat. Lalu ia melepaskan genggaman Arabels dengan hati-hati. "Percayalah. Aku hanya ingin memastikan keadaan."

Arabels terdiam. Ia tahu... Sekali Storm mengambil keputusan, sangat sulit mengubah pikirannya.

---

Tak lama kemudian, pintu hanggar perlahan terbuka. Cahaya bintang memenuhi ruangan. Storm mengangkat tangan kanannya. Cahaya merah menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, Armor Skycrimson kembali membungkus seluruh tubuhnya. Helm merah itu menutup wajahnya. Mesin pendorong di punggungnya mulai menyala.

Storm menoleh untuk terakhir kalinya. "Aku akan kembali."

Sebelum Arabels sempat menjawab...

*Wuusshh! *

Storm melesat keluar dari hanggar dengan kecepatan tinggi. Jejak cahaya merah membelah ruang angkasa, menuju ke arah dua armada yang masih berada dalam ketegangan.

Arabels hanya mampu berdiri memandang kepergiannya. Wajahnya dipenuhi kecemasan. "Storm..." Ia menundukkan kepalanya sejenak. Harapan kecil terus ia panjatkan dalam hati. "Semoga semuanya berakhir tanpa pertarungan besar."

Ia masih mengingat dengan jelas kehancuran yang ditinggalkan duel Storm melawan Zyron. Planet-planet hancur. Asteroid berubah menjadi debu. Sebagian wilayah Konstelasi Draco porak-poranda. Jika sekarang Storm kembali bertarung... Terlebih melawan salah satu jenderal utama Kekaisaran Galaksi... Maka Konstelasi Draco mungkin akan berubah menjadi medan perang yang lebih mengerikan daripada sebelumnya.

More Chapters