Ficool

Chapter 780 - Pengamatan dari Nexus

Di dalam ruang komando Nexus S-4473... Seluruh anggota tim X.A.R.A memperhatikan situasi yang sedang terjadi di luar. Layar holografik menampilkan dua armada besar yang saling berhadapan. Di satu sisi berdiri armada Pemberontak Tartanos. Di sisi lain, armada Kekaisaran Galaksi yang dipimpin oleh Maxtis Xorgat. Suasana begitu tegang. Hingga saat ini, belum ada satu pun pihak yang memulai serangan.

Aryes berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok Tyrannons dan Maxtis. Setelah beberapa saat mengamati, ia mengembuskan napas pelan. "Kalau pertarungan benar-benar terjadi... Tyrannons tidak akan mudah menandingi Maxtis."

Roxis R-5 segera menampilkan data analisis di layar. "Analisis mendukung pernyataan tersebut. Maxtis Xorgat termasuk salah satu jenderal utama dengan tingkat kemampuan tempur tertinggi di Kekaisaran Galaksi. Probabilitas kemenangan Tyrannons dalam duel langsung masih rendah."

Aryes hanya mengangguk pelan. Ia tidak meremehkan Tyrannons. Tetapi pengalaman dan reputasi Maxtis memang berada pada tingkat yang berbeda.

Di sisi lain ruangan, Violys memperhatikan rekaman pertempuran Tyrannons yang tersimpan dalam basis data. Ia tersenyum tipis. "Meski begitu... Aku tetap mengaguminya." Semua menoleh ke arahnya. "Tyrannons memiliki keberanian yang luar biasa. Kalian masih ingat pertempuran di Ursa Major?" Ia memperbesar rekaman tersebut. "Dia bahkan mampu menandingi Thraxor. Meskipun tidak menang, dia tetap mampu bertahan menghadapi salah satu jenderal utama."

Lira menganggukkan kepala pelan. "Itu bukan pencapaian yang bisa dilakukan sembarang orang."

Suasana kembali hening. Kemudian... Zero yang sejak tadi bersandar di dinding akhirnya membuka suara. "Aku rasa... Yang paling berat bukanlah menghadapi Maxtis. Tetapi menghadapi kenangan." Semua memandangnya. Zero tetap menatap layar. "Tyrannons sebenarnya masih merindukan Istana Urco Tastarius."

Violys sedikit mengernyit. "Apa kau yakin?"

Zero mengangguk pelan. "Orang yang benar-benar telah memutuskan hubungan dengan masa lalunya tidak akan menunjukkan keraguan. Tapi tadi... Saat Maxtis menyebut nama Kaisar Oreons dan Yllarxa. Dia sempat menundukkan kepalanya."

Lira perlahan menutup buku yang berada di pangkuannya. "Aku juga melihatnya. Hanya sesaat. Tapi ekspresinya berubah." Ia mengingat kembali momen itu. "Bagi Tyrannons... Kaisar Oreons bukan hanya seorang kaisar. Melainkan ayahnya. Dan Yllarxa... Adalah seseorang yang pernah tumbuh bersamanya di istana."

Arabels ikut memandang ke arah layar. "Jadi... Dia masih memikirkan mereka?"

Zero menjawab dengan tenang. "Menurutku... Ya. Namun rasa rindu tidak selalu mampu mengubah keyakinan seseorang. Terkadang seseorang tetap melangkah meski harus meninggalkan orang-orang yang paling berarti baginya."

Storm yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. "Karena dia sudah memilih jalannya." Semua menoleh kepadanya. Storm terus memandang ke arah Tyrannons. "Aku tidak tahu apakah keputusannya benar atau salah. Tapi... Dia tidak terlihat seperti seseorang yang akan mundur."

Aryes menganggukkan kepala. "Itulah yang membuatnya berbahaya. Bukan hanya karena kekuatannya. Melainkan karena tekadnya."

Di luar Nexus S-4473... Tyrannons dan Maxtis masih saling berhadapan tanpa menghunus pedang. Namun semua orang yang menyaksikan memahami satu hal. Di balik ketenangan itu, tersimpan konflik yang jauh lebih dalam daripada sekadar pertarungan antara kekaisaran dan pemberontak. Itu adalah pertarungan antara kewajiban, keluarga, dan keyakinan yang tidak lagi berada di jalan yang sama.

More Chapters