Ficool

Chapter 774 - Niat Sang Pemimpin Pemberontak

Di kejauhan, armada Pemberontak Tartanos masih melayang dalam formasi yang rapi. Di atas kapal utama mereka, ruang komando dipenuhi layar holografik yang menampilkan kondisi Konstelasi Draco.

Di bagian depan ruangan... Tyrannons duduk di kursi komandonya. Pedang panjangnya bersandar di sisi kursi, sementara tatapannya tertuju ke arah Nexus S-4473 yang kini menjadi tempat berkumpulnya tim X.A.R.A. Ia terdiam cukup lama. Di benaknya terus terbayang rekaman pertempuran Storm melawan Zyron Dragonvor. Seorang manusia... Mampu mengalahkan pejuang naga dari Konstelasi Draco. Bahkan dalam wujud naga penuhnya.

"Itu benar-benar sulit dipercaya..." gumam Tyrannons pelan. "Seorang manusia mampu menandingi ras-ras terkuat di galaksi." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Bukan karena meremehkan. Melainkan karena rasa penasaran. "Aku ingin mengujinya sendiri. Aku ingin mengetahui seberapa kuat dia sebenarnya."

Di sampingnya... Rea berdiri dengan tenang. Tatapannya segera beralih kepada Tyrannons. "Apa kau serius?"

Tyrannons mengangguk pelan. "Sebuah duel dengannya mungkin akan memberiku jawaban."

Rea langsung menggeleng. "Aku tidak setuju. Jangan menantangnya sekarang."

Tyrannons menatap Rea. "Kenapa?"

Rea mengalihkan pandangannya ke luar jendela kapal. Konstelasi Draco masih dipenuhi sisa-sisa kehancuran akibat duel Storm dan Zyron. "Bukankah kerusakan itu sudah cukup menjadi bukti? Kalau kalian bertarung di sini... Konstelasi ini bisa mengalami kehancuran yang lebih parah." Ia kembali memandang Tyrannons. "Tujuan kita datang bukan untuk menciptakan bencana baru. Kita masih memiliki rencana yang jauh lebih penting."

Tyrannons tidak segera menjawab. Ia memahami kekhawatiran Rea. Namun keinginannya untuk mengukur kekuatan Storm belum juga menghilang.

---

Di bagian belakang ruang komando... Astralon berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia mengembuskan napas panjang. "Sejujurnya... Aku mulai bosan. Kita sudah berhari-hari membahas strategi. Tapi belum melakukan operasi apa pun." Meski begitu, nada suaranya tidak menunjukkan ketidaksabaran. Ia memahami alasan Tyrannons. Menghadapi Kekaisaran Galaksi tanpa persiapan hanya akan berakhir dengan kekalahan.

Astralon kemudian mengaktifkan saluran komunikasi. "Seluruh Armada Orion. Pertahankan formasi. Tingkatkan kewaspadaan. Jangan mengambil tindakan tanpa perintah."

"Perintah diterima," jawab para awak kapal hampir bersamaan. Astralon mematikan komunikasinya. Ia berbeda dengan Tyrannons. Ia memang memilih bergabung dengan pemberontakan, tetapi tetap mengutamakan perhitungan yang matang dalam setiap langkah. Sementara Tyrannons... Ia rela meninggalkan kehidupan sebagai putra mahkota Kekaisaran Galaksi demi memimpin gerakan perlawanan terhadap ayahnya sendiri. Pilihan yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya.

---

Tyrannons kembali menatap ke arah Nexus S-4473. Ia mengepalkan tangan pelan. "Storm Realms... Mungkin suatu hari nanti... Kita akan saling menghunus pedang." Bukan sebagai musuh yang dipenuhi kebencian. Melainkan sebagai dua petarung yang ingin mengetahui batas kekuatan masing-masing. Untuk saat ini... Ia memilih menahan keinginannya. Perjuangan melawan Kekaisaran Galaksi masih jauh dari selesai, dan ia tidak berniat mempertaruhkan tujuan besarnya hanya demi sebuah duel.

More Chapters