Ficool

Chapter 772 - Keputusan Sang Ratu

Keheningan menyelimuti aula utama Istana Ursa Major. Semua mata tertuju kepada Ratu Callisto. Rhythm masih duduk santai di kursinya, menunggu jawaban yang akan menentukan nasib seluruh konstelasi.

Beberapa saat berlalu. Callisto menarik napas panjang. Lalu ia berdiri dari singgasananya. Tatapannya menyapu seluruh aula sebelum akhirnya kembali mengarah kepada sang jenderal kekaisaran. "Aku... menerima tawaran Kekaisaran Galaksi. Konstelasi Ursa Major akan tunduk kepada Kaisar Oreons."

Seketika... Seluruh aula dipenuhi ketegangan. Para prajurit kerajaan hanya mampu menundukkan kepala. Begitu pula para pelayan dan para bangsawan yang menghadiri pertemuan itu. Tak seorang pun berani memprotes keputusan sang ratu. Mereka memahami betapa beratnya pilihan tersebut. Namun mereka juga mengetahui kenyataan yang tidak dapat dihindari.

Callisto memandang seluruh rakyatnya dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku mengerti... Banyak di antara kalian yang tidak akan menerima keputusan ini. Tetapi sebagai ratu... Aku harus memilih jalan yang memberi kesempatan bagi rakyat kita untuk tetap hidup." Ia kembali menatap Rhythm. "Kita tidak akan sanggup menghadapi Kekaisaran Galaksi. Jumlah pasukan mereka terlalu besar. Dan yang lebih mengkhawatirkan... Hampir tidak ada prajurit kekaisaran yang lemah."

Ucapan itu menggema di seluruh ruangan.

---

"Tidak!" Suara lantang memecah keheningan. Arcas berdiri dari kursinya. Tatapannya dipenuhi amarah. "Aku menolak! Kita tidak boleh menyerah sebelum bertarung!" Tangannya langsung meraih gagang pedang yang tergantung di pinggangnya. "Kalau mereka ingin menguasai Ursa Major... Biarkan mereka melewatiku lebih dulu!"

Baru saja Arcas hendak menghunus pedangnya... Sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. Arcas menoleh. "Ibu..."

Callisto menggeleng pelan. Sorot matanya lembut, tetapi penuh ketegasan. "Tenanglah. Jangan biarkan amarah menguasaimu."

Arcas masih menggertakkan giginya. "Tapi mereka mengancam kerajaan kita! Aku tidak akan tunduk!"

Callisto menggenggam tangan putranya lebih erat. "Dengarkan aku. Kekaisaran bukan lawan yang mudah. Bahkan jika seluruh pasukan Ursa Major bertempur... Kemenangan tetap belum tentu menjadi milik kita." Ia menghela napas pelan. "Aku tidak ingin melihat rakyat kita menjadi korban perang yang tidak mungkin dimenangkan."

Arcas terdiam. Ia menatap ibunya. Kemudian melirik ke arah Rhythm yang masih duduk dengan santai. Perlahan... Genggamannya pada gagang pedang mulai mengendur. Ia akhirnya melepaskan niatnya untuk menghunus senjata. Meski demikian... Tatapannya tetap dipenuhi tekad. Di dalam hatinya, ia masih ingin menantang Rhythm dalam sebuah pertarungan.

---

Melihat suasana mulai mereda, Rhythm tiba-tiba berdiri. Lalu... *Tep! Tep! Tep! * Ia bertepuk tangan dengan riang. "Hahaha! Ternyata semuanya berjalan lebih mudah dari yang kubayangkan." Senyumnya kembali melebar. "Bagus. Sangat bagus. Aku benar-benar tidak perlu membuang tenaga hari ini." Ia memutar pedangnya dengan santai sebelum menyarungkannya kembali. "Keputusan yang bijaksana, Yang Mulia Callisto. Setidaknya... Konstelasi Ursa Major masih memiliki masa depan."

Rhythm lalu menoleh kepada para prajurit kekaisaran di belakangnya. "Ayo. Kita pulang. Tugasku di sini sudah selesai." Para prajurit segera memberi hormat. Mereka bersiap meninggalkan aula tanpa perlu menumpahkan setetes darah pun.

Di sisi lain, Arcas hanya mampu mengepalkan kedua tangannya. Hari itu... Tidak ada peperangan. Tetapi harga dari kedamaian adalah kebebasan yang harus diserahkan kepada Kekaisaran Galaksi.

More Chapters