Aula Istana Ursa Major yang sebelumnya tenang mendadak menjadi jauh lebih serius. Semua perhatian tertuju pada Astralon. Pemimpin Armada Orion itu berdiri dengan tenang di tengah ruangan. Tatapannya menyapu seluruh orang yang hadir.
Lalu ia melanjutkan laporannya. "Kabar ini berhubungan dengan seseorang yang mungkin sudah dikenal sebagian dari kalian." Astralon berhenti sejenak. Kemudian menyebutkan satu nama. "Storm Realms."
Seketika beberapa orang langsung bereaksi. Aryes yang tadinya bersandar di kursinya langsung menegakkan badan. "Storm?" Di sampingnya, Violys menghentikan semua data hologram yang sedang dianalisis. Lira menutup buku digital yang sedang dibacanya. Jester menjatuhkan satu kartu Arcana miliknya. Sementara Roxis R-5 memiringkan kepalanya. Sistem robotnya memproses informasi tersebut dengan cepat.
Astralon mengangguk. "Benar. Storm Realms. Dan saat ini dia berada di Konstelasi Draco."
Ruangan langsung menjadi lebih hening. Kalimat berikutnya jauh lebih mengejutkan. "Dia sedang bertarung melawan ras naga yang ada di sana."
Beberapa orang langsung berdiri dari tempat duduk mereka. "Apa?!" seru Jester. "Dia memang gila pertarungan!"
Violys terlihat benar-benar terkejut. "Bahkan armada besar biasanya menghindari Draco."
Lira menambahkan. "Konstelasi itu terkenal berbahaya bahkan dalam catatan kuno."
Aryes menghela napas panjang. Kali ini ada sedikit kelegaan di wajahnya. "Setidaknya mereka masih hidup," gumamnya. Sejak lama. Tidak ada satu pun komunikasi yang berhasil diterima dari Ginga Stars. Jarak yang terlalu jauh membuat semua jalur komunikasi menjadi tidak stabil. Mereka bahkan sempat khawatir sesuatu terjadi pada Storm dan Arabels. Kini setidaknya mereka tahu. Keduanya masih hidup. Meski situasinya terdengar sangat berbahaya.
Di sudut aula. Napstylea tetap berdiri dengan ekspresi datarnya. Namun sesaat. Tatapannya berubah. Ia lega. Storm masih hidup. Dan itu adalah kabar yang membuat beban di pikirannya berkurang. Namun begitu mendengar nama Arabels disebut oleh Astralon. Ekspresinya kembali dingin. Napstylea menoleh ke arah lain. Berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia memang senang mengetahui Storm baik-baik saja. Tetapi setiap kali mengingat Arabels selalu berada di sisi Storm. Ada perasaan yang sulit dijelaskan muncul di dalam dirinya. Perasaan yang tidak ia sukai. Namun ia memilih diam. Tidak mengatakan apa pun.
---
Sementara itu. Di sisi lain aula —
Tyrannons perlahan berdiri dari kursinya. Ekspresinya jauh lebih serius dibanding yang lain. "Storm... Realms..." gumamnya pelan. Nama itu tidak asing baginya. Ia pernah mendengarnya dari Astralon. Tapi ini pertama kalinya ia mendengar laporan langsung tentang tindakan orang tersebut.
Dan yang langsung membuatnya terdiam adalah satu hal. Draco. Bukan sembarang wilayah. Itu adalah sarang para naga. Tempat yang bahkan banyak armada kekaisaran enggan masuki. Tempat yang dijaga oleh makhluk-makhluk mengerikan.
Tyrannons menatap Astralon. "Dia masih hidup setelah memasuki Draco?" tanyanya.
Astralon mengangguk. "Bukan hanya hidup. Dia bahkan sedang bertarung."
Kalimat itu membuat Tyrannons terdiam cukup lama. Entah kenapa. Firasat aneh muncul di dalam dirinya. Perasaan yang sama ketika ia pertama kali melihat kekuatan para jenderal kekaisaran. Atau ketika ia merasakan tekanan dari para Zodiac. Storm terasa berbeda.
"Dia bukan manusia biasa," ucap Tyrannons pelan. Beberapa orang menoleh kepadanya. Tyrannons tetap memandang lurus ke depan. "Setidaknya bukan manusia biasa yang pernah kutemui."
Arcas yang duduk tidak jauh darinya hanya diam. Jauh di dalam pikirannya. Ia merasakan hal yang sama. Kemarin ia memikirkan Xyros. Hari ini ia mendengar tentang Storm. Dan keduanya memiliki satu kesamaan. Mereka tidak terasa normal.
Arcas mengenal Tyrannons cukup baik. Jika Tyrannons sampai mengucapkan hal seperti itu. Berarti firasatnya benar-benar kuat. "Aku juga berpikir begitu," kata Arcas akhirnya.
Tyrannons menoleh. Keduanya saling memandang beberapa saat. Tanpa perlu banyak kata. Mereka mengerti apa yang dipikirkan satu sama lain.
---
Sementara itu. Astralon melanjutkan penjelasannya. Tetapi suasana aula telah berubah. Nama Draco saja sudah cukup membuat banyak orang tegang. Kini mereka mendengar ada manusia yang bertarung di sana. Melawan ras naga. Bahkan mungkin melawan ancaman yang lebih besar.
Ruangan kembali hening. Tidak ada yang berbicara. Semua orang memikirkan hal yang sama. Jika situasi di Draco semakin memburuk — maka bukan tidak mungkin. Konstelasi Draco akan menjadi medan perang besar berikutnya. Dan jika itu benar terjadi. Dampaknya mungkin akan jauh lebih berbahaya daripada perang yang pernah terjadi di Ursa Major.
