Ficool

Chapter 735 - Benda Jatuh dari Langit

Di luar Istana Ursa Major. Setelah perang besar berakhir, suasana terasa sedikit lebih tenang. Meski bekas kehancuran masih terlihat di berbagai penjuru konstelasi. Meski banyak planet masih dalam tahap pemulihan. Setidaknya tidak ada ledakan. Tidak ada armada yang saling menyerang. Dan tidak ada Sacred Zodiac yang mengancam menghancurkan wilayah sekitar.

Di atas bebatuan besar yang menghadap ke hamparan angkasa. Tyrannons duduk bersama beberapa rekannya. Rea. Zero. Lira. Dan Jester.

Mereka baru saja menyelesaikan rapat strategi mengenai langkah berikutnya melawan kekaisaran. Namun hasilnya tidak terlalu memuaskan. Semakin banyak informasi yang mereka dapatkan — semakin jelas pula betapa besarnya kekuatan Kekaisaran Galaksi.

Jester memutar sebuah kartu Arcana di antara jarinya. "Kita membutuhkan keajaiban," katanya santai. "Atau setidaknya seseorang yang cukup gila untuk melawan Rangers."

Zero hanya menyandarkan tubuhnya pada batu besar. Armor emas hitamnya memantulkan cahaya bintang. "Kalau ada orang seperti itu — aku ingin bertemu dengannya."

Lira menghela napas panjang. Ia sedang membaca data sejarah galaksi dari perangkat hologram miliknya. "Berdasarkan catatan lama — orang-orang yang cukup gila untuk menantang Rangers biasanya sudah mati."

Jester langsung tertawa. "Itu bukan kabar baik."

---

Sementara itu. Rea duduk dengan kedua tangan menopang dagunya. Tatapannya mengarah ke langit kosmik. Beberapa detik kemudian — ekspresinya berubah.

"Hmm?" Rea menyipitkan mata. Lalu berdiri perlahan. "Apa itu?"

Semua orang menoleh. "Tidak biasanya kau memperhatikan bintang," kata Jester.

Rea tidak menjawab. Ia justru mengangkat tangannya. Menunjuk ke arah langit. "Tunggu. Lihat itu."

Semua orang mengikuti arah yang ditunjuknya. Awalnya hanya sebuah titik cahaya. Sangat jauh. Hampir tidak terlihat. Tapi semakin lama — cahaya itu semakin besar. Dan semakin terang.

Wajah Tyrannons langsung berubah serius. Benda itu jelas bergerak. Dan kecepatannya sangat tinggi. "Itu bukan bintang," gumamnya.

Lira segera mengaktifkan alat pemindainya. Data-data mulai bermunculan. Namun hasilnya membuat wajahnya pucat. "Benda itu menuju ke sini."

"Apa?!" seru Jester.

Lira menelan ludah. "Dan ukurannya — sangat besar."

Kini semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Sebuah objek raksasa. Diselimuti api kosmik. Meluncur menembus ruang angkasa seperti meteor penghancur dunia. Gelombang panasnya bahkan mulai terasa meski masih berada sangat jauh.

Rea membelalakkan mata. "Itu benar-benar meteor?!"

Tyrannons langsung berdiri. Pedangnya keluar dari sarung. *SHRING! * Aura energi mengelilingi tubuhnya. Seketika suasana santai menghilang. Digantikan kesiagaan penuh.

"Mundur," ucap Tyrannons. Suaranya tegas. Semua orang langsung menoleh. "Mundur sekarang."

Rea ingin membantah. Namun ia tahu wajah Tyrannons saat ini. Itu adalah wajah seseorang yang sudah mengambil keputusan.

Zero ikut berdiri. "Aku bisa membantu."

Tyrannons menggeleng. "Belum tentu itu meteor biasa. Lindungi wilayah istana. Kalau benda itu pecah, dampaknya bisa sangat besar."

Jester memasukkan kembali kartunya. Ia terlihat serius. Lira segera menghubungkan pasukan pertahanan Ursa Major. Alarm darurat mulai dikirim ke berbagai sektor.

---

Sementara itu. Tyrannons melangkah ke tepi tebing asteroid tempat mereka berada. Angin kosmik berhembus melewati jubahnya. Matanya tertuju pada benda raksasa yang terus mendekat. Semakin dekat. Semakin cepat. Dan semakin besar.

Kini semua orang di Ursa Major mulai menyadarinya. Prajurit. Penduduk. Armada pertahanan. Mereka semua menatap langit. Melihat sesuatu yang tampak seperti matahari kecil jatuh dari angkasa.

Tyrannons menggenggam pedangnya erat. Energi mulai berkumpul di sekitar tubuhnya. Retakan kecil muncul di bawah kakinya. Ia menarik napas panjang. Lalu menurunkan posisi tubuhnya. Bersiap melompat. Jika benda itu benar-benar mengancam Ursa Major — maka ia akan menghancurkannya sebelum mencapai wilayah mereka. Meski harus mempertaruhkan nyawanya.

"Tyrannons..." gumam Rea pelan.

---

Sebelum Tyrannons bergerak — sesuatu yang aneh terjadi. Meteor itu tiba-tiba berubah arah. Namun cukup untuk membuat Tyrannons menyadarinya.

"Itu..." Matanya menyipit. Untuk sesaat. Ia merasa benda itu tidak jatuh secara acak. Seolah — ada seseorang yang sedang mengendalikannya.

More Chapters