Ficool

Chapter 733 - Konstelasi Draco

Ketegangan di antara Ginga Stars dan Zyron masih terasa pekat. Aura naga ungu milik Zyron terus membakar ruang di sekitarnya. Sementara energi Antares di dalam Ginga Stars masih berdenyut seperti matahari yang hidup.

Storm memandang layar komunikasi. Wajah Astralon muncul di sana. Di belakangnya terlihat para perwira Orion yang masih bersiaga.

Storm menarik napas pelan. "Kau."

Astralon mengangguk. "Ada apa?"

Storm menatap ke arah luar kokpit. Tatapannya tertuju pada hamparan angkasa yang luas. "Aku ingin kau membawa armada Orion menuju Ursa Major."

Astralon sendiri hanya diam mendengarkan.

Storm melanjutkan. "Ursa Major baru saja selamat dari perang besar. Terlalu banyak sistem bintang rusak. Terlalu banyak korban. Aku tidak ingin tempat itu kembali menjadi medan tempur."

Astralon menyilangkan kedua tangannya. "Lalu kau?"

Storm tersenyum tipis. "Aku akan menghadapinya." Tatapannya mengarah kepada Zyron. "Kami akan bertarung di tempat lain."

Hening beberapa detik. Lalu Astralon tertawa. "Tapi memang itu yang akan kau lakukan."

Storm hanya mengangkat bahu.

Astralon akhirnya mengangguk. "Baik. Aku akan menuju Ursa Major. Dan aku akan menyampaikan semuanya kepada Tyrannons."

Storm mengangguk. "Itu sudah cukup."

---

Tak lama kemudian — armada Orion mulai bergerak. Ribuan kapal perang perlahan mengubah arah. Mesin-mesin warp mulai aktif. Cahaya biru memenuhi angkasa. Di dalam kapal utama Orion, Astralon masih memperhatikan Ginga Stars untuk terakhir kalinya. Lalu komunikasi terputus.

Zyron yang melihat semua itu sama sekali tidak menunjukkan niat menghentikan mereka. Sebaliknya — ia tampak santai. "Boleh juga," katanya. "Aku tidak tertarik pada armada lemah itu."

Api ungu kembali muncul di ujung jarinya. Zyron menyeringai. Lalu menjentikkan jarinya.

*SNAP! *

Seketika — ruang di seluruh area pecah.

*CRRRRRRKKKKK!! *

Hamparan bintang berubah menjadi lautan cahaya. Arabels langsung berpegangan pada kursinya. "Apa yang terjadi?!" teriaknya.

Proxi segera memeriksa semua sistem. Namun sensor-sensornya kacau. "Kesalahan koordinat! Kesalahan ruang! Kesalahan—" Kalimatnya terputus.

Dalam sekejap semuanya kembali tenang. Sunyi. Tidak ada lagi armada Orion. Tidak ada lagi sistem bintang sebelumnya. Tidak ada lagi wilayah dekat Ursa Major. Yang tersisa hanyalah kegelapan kosmik yang sangat luas.

Proxi membelalakkan sensor optiknya. "Lokasi berubah."

Arabels menatap layar navigasi. Lalu ia ikut terdiam. Koordinat yang muncul membuatnya sulit percaya. "Konstelasi Draco..." gumamnya. "Kita benar-benar berada di Draco."

Zyron menyeringai bangga. "Bukankah lebih mudah seperti ini?"

Storm sedikit terkejut. Meskipun ia pernah melihat teleportasi tingkat tinggi — apa yang dilakukan Zyron jauh berbeda. Ia tidak memindahkan satu orang. Tidak memindahkan satu kapal. Melainkan memindahkan seluruh area pertempuran sekaligus. Dan melakukannya hanya dengan satu jentikan jari.

---

Arabels memandang ke luar. Mata gadis itu dipenuhi kekaguman. "Hebat... Benar-benar hebat..."

Di sekeliling mereka terbentang wilayah yang berbeda dari konstelasi lainnya. Draco terasa aneh. Luas. Kosong. Sunyi. Tidak terlihat jalur perdagangan. Tidak terlihat armada sipil. Tidak terlihat koloni besar. Bahkan planet-planet di sana tampak sangat sedikit. Seolah seluruh galaksi sengaja menghindari tempat ini.

Proxi segera mengaktifkan pemindaian. Berbagai hologram muncul di sekeliling kokpit. Ia mengumpulkan data sebanyak mungkin. Namun hasil yang didapat justru membuatnya semakin waspada. "Tingkat aktivitas kehidupan sangat rendah," lapornya. "Tidak ditemukan lalu lintas antarbintang. Tidak ditemukan armada. Tidak ditemukan pemukiman besar."

Arabels mengerutkan dahinya. "Seperti wilayah terlarang."

Storm tidak menjawab. Ia sedang mengamati langit Draco. Di kejauhan terlihat nebula gelap. Bintang-bintang berwarna merah keunguan. Dan sesekali muncul bayangan raksasa yang bergerak sangat jauh di antara kabut kosmik. Sulit dipastikan apa itu. Namun keberadaannya saja membuat suasana terasa menekan.

Storm perlahan menggerakkan Ginga Stars. Mesin mecha raksasa itu menyala pelan. Bukan untuk menyerang. Melainkan beradaptasi dengan lingkungan baru. Energi Antares mulai menyesuaikan diri dengan gravitasi serta medan energi Draco.

More Chapters