Ficool

Chapter 731 - Naga Bersayap Enam

Keheningan yang menyelimuti angkasa tidak berlangsung lama. Sebuah gelombang energi dahsyat meledak dari kejauhan.

*BOOOOOOOOOOOOM!!! *

Ruang angkasa bergetar hebat. Armada Orion langsung kehilangan formasi. Beberapa kapal berguncang keras. Alarm darurat menyala di berbagai bagian armada.

Di dalam kokpit Ginga Stars, Proxi segera memindai sumber ledakan. Layar hologram dipenuhi data yang terus melonjak. "Deteksi energi ekstrem. Sumber berasal dari arah konstelasi Draco."

Storm menoleh ke layar. Arabels ikut berdiri. Dan beberapa detik kemudian — sesuatu muncul dari lautan cahaya ungu yang membelah kegelapan kosmos.

Seekor naga raksasa. Tubuhnya diselimuti sisik hitam keunguan. Enam sayap besar membentang di belakangnya. Setiap kepakan sayap menghasilkan kobaran api ungu yang membakar ruang di sekitarnya. Matanya bersinar seperti dua bintang yang menyala. Dan tekanan yang dipancarkannya membuat banyak kapal armada Orion langsung mundur secara naluriah.

"Seekor naga..." gumam Arabels. Makhluk itu jauh melampaui naga biasa. Ia terlihat seperti bencana hidup. Sebuah makhluk yang lahir untuk menghancurkan.

Astralon yang melihatnya dari kapal utama Orion langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya berubah serius. "Aura seperti itu... Itu bukan makhluk biasa." Para komandan Orion mulai panik. Sensor mereka sama sekali tidak mampu mengukur kekuatan naga tersebut. Bahkan beberapa perangkat pengukur energi mulai rusak akibat tekanan yang terlalu besar.

---

Sementara itu — naga bersayap enam tersebut perlahan menghentikan terbangnya. Matanya menatap lurus ke arah Ginga Stars.

Lalu — cahaya ungu menyelimuti tubuhnya.

*WHOOOOOSH!! *

Tubuh raksasa itu mengecil. Sisik-sisiknya berubah menjadi lapisan armor. Taringnya menghilang. Sayap-sayapnya menyusut. Dan dalam beberapa detik — seekor naga raksasa telah berubah menjadi seorang pria.

Pria itu mengenakan armor hitam keunguan. Api ungu masih menyala samar di sela-sela pelindung tubuhnya. Di tangannya terdapat sebuah senjata aneh. Bentuknya menyerupai pedang besar. Namun bagian gagangnya mirip kapak perang. Di kedua sisi bilahnya terdapat dua celah besar yang memancarkan cahaya ungu. Senjata itu tampak berat. Pria tersebut memegangnya dengan satu tangan. Seolah tidak memiliki bobot sama sekali.

Ia melayang di angkasa. Menatap Ginga Stars tanpa berkedip. Storm merasakan hawa permusuhan yang sangat jelas. Pria itu tidak tertarik pada armada Orion.. Targetnya hanya satu. Ginga Stars.

Akhirnya pria berarmor itu berbicara. Suaranya berat dan dingin. "Itukah benda yang menyerap cahaya Antares?"

Tidak ada yang menjawab. Namun ia seolah tidak membutuhkan jawaban. Matanya terus mengamati tubuh mecha raksasa tersebut. Memperhatikan inti energinya. Memperhatikan lapisan armornya. Dan memperhatikan energi Antares yang masih bergejolak di dalamnya.

Kemudian ia mengangkat senjatanya. Api ungu langsung menyala lebih besar. Ruang di sekitarnya mulai terdistorsi. Beberapa kapal Orion menjauh karena tidak mampu menahan tekanan panas yang muncul.

"Aku bisa merasakannya," ucap pria itu. "Mesin itu bukan mesin biasa."

Storm menyipitkan mata.

Pria itu menatap lurus ke arah kokpit Ginga Stars. Meski terhalang lapisan armor mecha, entah bagaimana ia tahu posisi Storm berada. Dan ketika ia berbicara lagi — niat membunuhnya terasa jelas.

"Sesuatu seperti itu tidak seharusnya ada. Kekuatan seperti itu akan membawa kehancuran."

Api ungu di sekitar tubuhnya meledak.

*BOOOOM!! *

Beberapa asteroid di dekatnya langsung berubah menjadi debu.

"Aku akan menghancurkannya."

Seluruh armada Orion langsung bersiaga. Meriam-meriam mulai diarahkan. Pilot-pilot tempur memasuki posisi tempur. Astralon sendiri menatap layar dengan wajah serius. Ia tahu. Pria itu bukan sedang menggertak. Ia benar-benar berniat menghancurkan Ginga Stars.

---

Di dalam kokpit —

Arabels menggenggam kursinya erat. "Kenapa semua orang selalu ingin menghancurkan kita?" keluhnya.

Proxi menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Karena kita selalu berada di pusat masalah."

Storm justru tersenyum kecil. Lalu berdiri. Tatapannya bertemu dengan pria naga berarmor itu.

"Aku baru saja selesai melawan tiga Zodiac," katanya. "Kalau kau ingin bertarung — ambil nomor antrean."

More Chapters