Ficool

Chapter 724 - Pedang Kembar Sang Pemburu Kekuatan

Malam menyelimuti Urco Tastarius. Di luar jendela istana yang megah, lautan bintang membentang tanpa batas. Galaksi-galaksi berputar perlahan. Nebula berkilauan seperti lukisan kosmik yang hidup. Namun keindahan itu tidak mampu menenangkan pikiran Oreons.

Di dalam kamar kekaisaran yang luas dan mewah. Oreons berdiri sendirian di depan jendela raksasa. Jubah panjangnya menjuntai hingga lantai. Tatapannya terus mengarah ke langit. Diam. Tidak bergerak. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.

Sudah cukup lama ia berdiri di sana. Bahkan sejak kembali dari aula rapat. Pikirannya tetap tidak tenang.

Tekanan itu. Tekanan mengerikan yang sempat mengguncang galaksi. Ia masih mengingatnya dengan jelas. Meski hanya sesaat. Meski muncul dari tempat yang sangat jauh. Namun keberadaannya cukup untuk membuat para petinggi galaksi kehilangan ketenangan.

Oreons menyipitkan mata. "Makhluk seperti apa — yang mampu menghasilkan tekanan sebesar itu?" gumamnya pelan. Ia tidak takut. Itu bukan sifatnya. Tetapi rasa penasaran terus mengganggunya. Baginya, kekuatan sebesar itu tidak mungkin muncul begitu saja. Entah itu manusia. Entah itu monster. Entah itu dewa. Keberadaannya harus diketahui.

---

Tak jauh dari sana. Di atas ranjang besar berwarna putih keemasan. Yllarxa perlahan membuka mata. Gadis itu terbangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya pelan. Lalu menoleh. Dan menemukan Oreons masih berdiri di dekat jendela.

Yllarxa terdiam beberapa saat. Kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Langkahnya pelan. Hingga akhirnya ia berdiri di samping Oreons.

"Yang Mulia belum tidur?" tanyanya lembut.

Oreons tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke luar jendela. "Aku tidak bisa tidur," ucapnya akhirnya.

Yllarxa sudah menduga jawaban itu. "Apa karena tekanan tadi?"

Oreons mengangguk. "Ya. Aku terus memikirkannya." Ia mengepalkan tangannya perlahan. "Entah kenapa — aku merasa sesuatu yang besar sedang bergerak di semesta ini."

Yllarxa mendengarkan dengan tenang. Oreons jarang memperlihatkan pikirannya kepada orang lain. Bahkan para jenderal sekalipun. Tetapi kepada Yllarxa. Ia tidak pernah menyembunyikan hal seperti itu.

"Tekanan itu terlalu besar," lanjut Oreons. "Seolah seseorang sengaja memperlihatkan kekuatannya." Ia menatap ke arah salah satu galaksi di kejauhan. "Dan aku ingin tahu siapa pemiliknya."

Yllarxa berpikir beberapa saat. Lalu akhirnya memberanikan diri menyampaikan pendapatnya. "Kalau begitu — kirim seseorang untuk menyelidikinya."

Oreons menoleh. "Siapa dia?"

Yllarxa tersenyum kecil. "Ada satu orang yang menurutku cocok."

Oreons mulai tertarik. "Katakan siapa?"

Yllarxa menjawab tanpa ragu. "Maxtis Xorgat."

Oreons terlihat sedikit terkejut. Lalu perlahan tersenyum. "Maxtis..." gumamnya.

---

Nama itu memang tidak asing. Salah satu jenderal utama Kekaisaran. Pria yang memiliki bekas luka panjang di wajahnya. Selalu membawa dua pedang kembar. Dan dikenal sebagai petarung yang sangat sulit dikendalikan.

Saat ini. Maxtis sedang bertugas sebagai pelatih utama di Akademi Kekaisaran. Melatih generasi baru prajurit elit. Di balik tugas itu. Semua orang mengetahui satu hal. Maxtis sangat menyukai pertarungan. Bahkan terlalu menyukainya. Jika mendengar ada lawan kuat. Ia akan menjadi orang pertama yang datang.

Yllarxa melanjutkan. "Dia kuat. Berpengalaman. Dan dia tidak akan menyerah sebelum menemukan jawaban."

Oreons tertawa kecil. "Itu benar." Ia bahkan bisa membayangkan reaksinya. Jika Maxtis mengetahui keberadaan seseorang yang mampu menghasilkan tekanan sebesar itu. Pria itu pasti akan langsung berangkat. Dan kemungkinan besar — mencari pertarungan.

"Dia memang cocok," kata Oreons.

Yllarxa mengangguk pelan. "Setidaknya dia bisa mengumpulkan informasi."

Oreons menyilangkan kedua tangannya. "Tidak."

Yllarxa berkedip.

Oreons tersenyum tipis. "Kalau Maxtis yang pergi — dia pasti tidak akan berhenti pada sekadar mengumpulkan informasi."

Keduanya sama-sama memahami maksud kalimat itu. Jika bertemu seseorang yang cukup kuat. Maxtis akan langsung menghunus pedangnya. Itulah sifatnya. Itulah alasan mengapa banyak jenderal lain menganggapnya gila. Tapi justru karena itulah. Oreons mempercayainya.

---

Akhirnya Kaisar Galaksi itu berbalik dari jendela. Keputusan sudah dibuat.

"Besok," ucapnya. "Aku akan memanggil Maxtis." Tatapannya kembali menjadi serius. "Jika memang ada seseorang di balik tekanan itu — maka Maxtis pasti akan menemukannya."

More Chapters