Ficool

Chapter 707 - Mode Ashura

Di tengah lautan bintang merah Antares. Storm berdiri sendirian. Di belakangnya, Ginga Stars terus bergerak menuju pusat sistem. Sementara di hadapannya — tiga Sacred Zodiac menghalangi jalan. Scorpios. Cancer. Dan Pisces.

Perbedaan ukuran mereka sangat tidak masuk akal. Storm terlihat seperti titik kecil. Sedangkan ketiga Zodiac menjulang seperti gunung kosmik yang hidup.

Namun anehnya. Storm tidak mundur. Tidak pula menunjukkan rasa takut. Sebaliknya. Ia mengangkat kedua tangannya.

*WHOOOMMMM!! *

Armor Skycrimson mulai berubah. Lapisan-lapisan energi merah gelap bergerak seperti cairan. Bagian bahu melebar. Punggungnya terbuka. Kemudian enam lingkaran cahaya muncul di belakang tubuhnya.

Arabels yang melihat dari kokpit Ginga Stars langsung membelalak. "Itu..."

Proxi menghentikan analisisnya sejenak. "Transformasi armor terdeteksi."

Energi merah tua mulai membentuk lengan tambahan. Satu pasang. Lalu dua pasang. Dan akhirnya tiga pasang. Enam tangan. Masing-masing diselimuti aura yang sama kuatnya.

Di belakang Storm. Bayangan samar menyerupai sosok raksasa berlengan enam muncul sesaat. Lalu menghilang kembali. Mode Ashura. Salah satu mode tempur paling berbahaya yang dimiliki Skycrimson.

Storm mengepalkan keenam tangannya. "Sekarang lebih baik," gumamnya.

Meski demikian. Ia tidak sedang meremehkan lawannya. Justru sebaliknya. Ia tahu betul siapa yang berdiri di hadapannya. Tiga Sacred Zodiac. Makhluk-makhluk yang mampu mengguncang konstelasi hanya dengan benturan kekuatan mereka. Bahkan dengan Mode Ashura. Storm tidak yakin bisa menang. Namun itu bukan tujuannya. Ia hanya perlu bertahan. Sampai Ginga Stars mencapai Antares.

---

Sementara itu —

Scorpios memperhatikan perubahan tersebut. Lalu — tertawa keras. "HAHAHAHAHA!" Suara tawanya mengguncang ruang angkasa. "Jadi itu rencanamu? Menahan kami sendirian?"

Storm mengangkat bahu. "Itu benar."

Scorpios semakin tertawa. "Manusia benar-benar makhluk yang menarik."

Di sisi lain. Cancer mendecakkan salah satu capitnya. "Cih. Kau pikir enam tangan akan mengubah sesuatu?" Capit raksasanya mulai bersinar. "Bahkan serangan terlemah Zodiac pun cukup untuk menghancurkan armormu." Tatapan Cancer penuh keraguan. Manusia tidak seharusnya mampu menghadapi tiga Zodiac sekaligus.

---

Pisces tidak ikut tertawa. Ia justru terus mengamati. Matanya tertuju pada armor merah yang dikenakan Storm. Bukan pada bentuknya. Bukan pada kekuatannya. Melainkan pada perasaan aneh yang muncul saat melihatnya. Seolah armor itu menyimpan sesuatu. Sesuatu yang sangat tua. Sangat jauh. Dan sulit dijelaskan.

Pisces mengernyitkan dahi. "Sepertinya aku salah lihat..." gumamnya.

Scorpios menoleh. "Apa yang kau pikirkan?"

Pisces tidak langsung menjawab. Ia terus menatap Storm. Lalu perlahan berkata. "Armor itu — aku merasa pernah membaca sesuatu yang mirip."

Cancer mendengus. "Hanya armor."

"Tidak," jawab Pisces. "Rasanya berbeda." Dua ikan penjaganya mulai berenang gelisah di sekelilingnya. Sesuatu yang jarang terjadi.

Pisces kembali menatap Storm. Lalu sebuah pemikiran muncul. Pemikiran yang bahkan terdengar tidak masuk akal. "...armor dewa perang?"

Cancer langsung tertawa. "Mustahil."

Scorpios juga menggeleng. "Dewa perang? Itu hanya manusia."

Pisces tahu mereka benar. Secara logika. Itu memang mustahil. Storm hanyalah manusia. Tidak memiliki aura dewa. Tidak memiliki status ilahi. Tidak memiliki ciri-ciri makhluk surgawi. Namun instingnya tetap memperingatkan sesuatu. Sesuatu tentang armor itu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

---

Sementara itu. Storm memperhatikan ketiga Zodiac tersebut. "Sudah selesai berdiskusi?" tanyanya santai.

Scorpios menyeringai. "Berani juga kau."

Cancer mengangkat capit raksasanya. Pisces mulai mengumpulkan aliran energi air kosmik. Ketiga Zodiac bersiap menyerang secara bersamaan. Tekanan energi langsung meningkat berkali-kali lipat. Bahkan ruang di sekitar Antares mulai bergetar.

Jauh di belakang. Ginga Stars terus bergerak menuju bintang merah raksasa itu. Sementara Storm melayang sendirian di depan tiga Sacred Zodiac. Enam tangannya perlahan mengepal. Tatapannya tetap tenang.

Meski jauh di dalam dirinya. Ia tahu satu kenyataan. Jika ia membuat satu kesalahan saja — maka pertarungan ini akan berakhir dalam sekejap. Dan jika ia berhasil bertahan — maka jalan menuju Antares akan tetap terbuka.

More Chapters