Di ruang hampa — cahaya mulai meredup. Ledakan tidak lagi seintens sebelumnya.
Pertarungan — telah berubah.
Napstylea tergeletak di atas pecahan asteroid. Tubuhnya hampir tidak bergerak. Armor peraknya — retak. Redup. Sistemnya masih berbunyi lemah. "Energi kritis…"
Ia mencoba bangkit — namun gagal. "…Belum…" Namun tubuhnya tidak merespon.
---
Di sisi lain —
Jester terduduk di atas sebuah komet kecil. Napasnya berat. Kartu-kartu Arkana di sekelilingnya — hanya tersisa sedikit.
"…Hah…" Ia tertawa kecil. Namun lemah. "…Itu… terlalu banyak…"
Memanggil ribuan kartu — menguras semuanya. Ia menatap ke depan. Gyroll — masih berdiri. Tanpa luka berarti.
Jester menggeleng pelan. "…Ini curang…"
---
Di tengah semua itu —
Hanya satu yang masih berdiri tegak.
Zero.
Armor emas-hitamnya masih menyala. Meski penuh goresan. Ia berdiri di antara — Napstylea yang tumbang — dan Jester yang kelelahan.
Tatapannya lurus ke depan. Ke arah — Gyroll.
Hening. Tidak ada kata-kata. Hanya tekanan.
Zero mengangkat tangannya sedikit. Bersiap. Meski sendirian — ia tidak mundur.
---
Di kejauhan —
Gyroll menatapnya.
"…Yang terakhir." Nada suaranya datar. "…Kau masih berdiri."
Zero menjawab singkat. "Aku saja sudah cukup."
Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa takut. Hanya satu hal — bertahan.
---
Di dalam Nexus —
Aryes melihat itu semua. Tangannya mengepal. "…Tinggal dia…"
Lira menatap layar. Wajahnya tegang. "…Violys harus cepat…"
Karena jika tidak — Zero — tidak akan bisa menahan lebih lama.
---
Ruang hampa kembali sunyi.
