Ficool

Chapter 535 - Meninggalkan Tanah Mati

Di ruang utama —

Ketegangan belum mereda. Kapal asing masih mendekat. Dan keputusan — harus diambil sekarang.

Storm berdiri. Tatapannya lurus ke layar.

"…Terbangkan Nexus."

Semua langsung menoleh. Aryes mengernyit. "…Apa?"

Storm tidak mengulang. "…Menuju kapal itu."

Suasana langsung berubah. Violys melangkah maju. "…Kau serius?" Nada suaranya lebih tajam. "Nexus belum sepenuhnya diperbaiki."

Aryes ikut menimpali. "Kalau kita memaksakan —"

"Kalau kita diam di sini…" Storm memotong. Suaranya tenang. Namun berat. "…kita mati."

Hening. Kalimat itu — terlalu langsung.

Napstylea menatap Storm. "…Apa maksudmu?"

Storm melirik ke arah luar. Ke permukaan Ulra T-34. Yang tampak tenang. Terlalu tenang.

"…Planet ini — tidak hidup."

Lira sedikit terkejut. "…Tapi —"

"Yang kau lihat itu hanya permukaan." Storm melanjutkan. Tatapannya dingin. "…Ini planet mati."

Semua terdiam.

Storm mengangkat sedikit tangannya. Seolah merasakan sesuatu. "…Energinya kosong. Tidak ada siklus alami. Tidak ada kehidupan nyata."

Violys mulai memahami. Matanya menyipit. "…Ilusi stabilitas…"

Storm mengangguk pelan. "…Dan itu tidak akan bertahan lama."

---

Seolah menjawab ucapannya — layar tiba-tiba berubah. Data atmosfer melonjak.

Proxi 5R berbicara cepat: "Deteksi perubahan energi ekstrem. Badai skala besar — muncul dalam radius ratusan kilometer."

Aryes membelalak. "Secepat ini?!"

Arabels langsung melihat ke luar. Di kejauhan — langit mulai berubah. Gelap. Berputar. Petir mulai muncul lagi. Namun kali ini — lebih besar. Lebih liar.

Storm tetap tenang. "…Itu yang kumaksud."

Violys menghela napas pendek. "…Kalau kita tetap di sini —"

Aryes melanjutkan pelan. "…kita tidak akan sempat kabur."

---

Hening sesaat. Lalu — Aryes menatap ke depan.

"Proxi."

Proxi 5R langsung merespon. "Perintah?"

"…Terbangkan Nexus." Sedikit jeda. Lalu Aryes menambahkan — "…Sekarang."

"Perintah diterima."

---

Mesin kapal langsung aktif. Getaran terasa.

Di luar — badai mulai mendekat. Cepat. Sangat cepat.

Nexus perlahan terangkat. Meninggalkan permukaan. Rumput yang tadi tenang — tercabut oleh angin. Tanah mulai retak.

Planet yang terlihat hidup — menunjukkan wajah aslinya. Kehancuran.

Nexus melesat ke atas. Meninggalkan atmosfer — tepat sebelum badai raksasa itu menyapu seluruh area.

---

Di dalam kapal — semua menahan napas.

Aryes menatap layar. "…Hampir saja…"

Violys menatap Storm. "…Kau sudah tahu dari awal."

Storm tidak menjawab. Matanya hanya tertuju ke depan. Ke arah — kapal asing itu.

"…Lebih baik menghadapi musuh — daripada mati tanpa tahu apa-apa."

---

Di luar — Nexus kini melaju di angkasa. Meninggalkan planet mati di belakang.

More Chapters