Ficool

Chapter 485 - Warisan Tesseract

Dimensi itu bergetar. Tekanan terus meningkat. Semua orang merasakan sesuatu yang berbeda. Ini bukan lagi pertarungan melawan pahlawan biasa — ini adalah benturan dua kekuatan yang melampaui batas.

Di tengah ruang kosong itu, Storm berdiri menghadap Dooms. Matanya tajam. Tubuhnya tanpa armor. Namun auranya — jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.

Storm mengangkat tangannya perlahan. "…Kalau begitu."

Ruang di sekitarnya mulai berubah. Retak. Melengkung. Seolah realitas itu sendiri mulai dipelintir.

"Kekuatan ini…" suara Storm terdengar dalam, "…pernah kugunakan untuk mengalahkan seseorang."

Dooms tetap diam. Tatapannya tidak berubah.

Storm melanjutkan. "Dia adalah Tesseract."

Dalam sekejap — WHOOOOOM!!!

Dimensi di sekitar Dooms mulai terdistorsi. Ruang terlipat. Arah berubah. Atas dan bawah kehilangan makna. Puluhan retakan dimensi muncul, membuka celah-celah kecil di sekitarnya.

Lalu — serangan dimulai.

CRACK! CRASH! WHOOOM!!

Fragmen dimensi meluncur dari berbagai arah. Seperti pecahan realitas itu sendiri. Menyerang Dooms tanpa pola, tanpa arah pasti. Sulit diprediksi. Mustahil dihindari secara normal. Serangan itu datang bertubi-tubi — dari depan, belakang, atas, bahkan dari dalam celah ruang.

Bombardir Dimensi.

Di kejauhan, Rizen menyipitkan mata. "…Itu…"

Lgris terlihat terkejut. "Kekuatan makhluk dimensi keempat…"

Mereka semua tahu nama itu. Makhluk dimensi yang hampir tidak bisa disentuh, bahkan ditangkap. Dan sekarang — kekuatan itu ada di tangan Storm.

Serangan terus berlanjut. Tanpa henti. Tanpa celah.

Namun — di tengah semua itu — Dooms tidak bergerak.

Ia tetap berdiri di tempatnya. Tenang. Tidak menghindar. Tidak menyerang balik. Fragmen dimensi menghantamnya, namun seolah tidak memberi efek berarti. Seperti realitas di sekitarnya tidak berlaku padanya.

Storm menyadarinya. Matanya menyipit. "…Kau bahkan tidak bergerak?"

Dooms akhirnya berbicara. Suaranya tetap tenang. "Aku mengenal kekuatan ini."

Satu serangan dimensi melintas di sampingnya, namun tidak menyentuhnya. "Tesseract." Ia menatap Storm. "Makhluk dimensi yang merepotkan."

Sedikit jeda. "Bahkan aku — kesulitan memburunya."

Semua orang terdiam mendengar itu. Jika Dooms saja mengakui kesulitan, berarti Tesseract bukan musuh biasa.

Namun — Dooms melanjutkan. "Namun…" Ia mengangkat tangannya sedikit. Energi aneh muncul di sekitarnya. "…kau bukan Tesseract."

Dalam sekejap — WHOOOM!!!

Semua distorsi dimensi di sekitarnya — terhenti. Bukan hancur. Namun — ditekan. Dikendalikan.

Storm terkejut sesaat. "…Apa?"

Serangan yang ia lepaskan tidak lagi bergerak bebas. Seolah ada sesuatu yang lebih kuat — yang mengendalikan ruang itu.

Dooms menatapnya lurus. "Kau — belum memahami sepenuhnya kekuatan itu."

Suasana menjadi lebih berat. Serangan Storm yang seharusnya tidak bisa dihindari — kini tidak memberi hasil. Dan itu berarti satu hal: Dooms berada di level yang berbeda.

Namun — Storm tidak mundur. Matanya tetap tajam.

Karena baginya — ini baru permulaan.

More Chapters