Ficool

Chapter 487 - Batas yang Terlewati

Dimensi itu retak. Tidak stabil. Sisa-sisa es yang membekukan ruang masih terlihat di beberapa sisi. Namun yang paling terasa — adalah keheningan.

Sesaat sebelumnya, pertarungan masih berlangsung. Namun kini — sesuatu telah berubah.

Di tengah ruang itu, Storm berdiri. Pedang esnya masih aktif. Namun auranya — berbeda. Lebih gelap. Lebih dalam.

Di sekelilingnya, ruang terlihat terlipat. Seperti diremas oleh kekuatan yang tidak terlihat.

Dan di sana — tidak ada lagi dua sosok.

Rizen. Lgris.

Mereka — telah lenyap. Bukan jatuh. Bukan terpental. Namun — terhancurkan oleh lipatan ruang. Serangan Storm melipat dimensi di sekitar mereka — dan menghapus keberadaan mereka dalam sekejap.

Beberapa pahlawan APH terdiam.

Marika menggenggam erat tangannya. "…Tidak mungkin…" Matanya menatap ke arah Storm, tidak percaya.

Di sampingnya, Deathrays yang masih dalam kondisi terpisah hanya tertawa pelan — namun kali ini, bahkan dia pun menyadari sesuatu. "…Dia benar-benar — tidak menahan diri lagi."

Herena The Magics menatap dengan serius. "Ruang itu sendiri dilipat — tidak ada cara bertahan."

Sementara itu, Slash – Wind of Destruction hanya diam. Namun auranya berubah. Lebih tajam. Lebih siap bertarung.

Di kejauhan, Aryes memperhatikan semuanya. Matanya menyipit. "…Jadi seperti ini." Ia menghela napas pelan. "Bukan hanya ambisi…" Tatapannya tertuju pada Storm. "…Dia sudah melewati batas."

Aryes menyadari sesuatu yang penting. Storm tidak lagi sekadar bertarung untuk bertahan. Ia mulai — menghabisi lawan tanpa ragu. Tanpa mempertimbangkan siapa mereka. Tanpa menahan kekuatan.

Dan itu — berbahaya.

Di sisi lain — Arabels berdiri diam. Matanya tidak lepas dari Storm. Namun ekspresinya berubah. Bukan hanya khawatir. Namun — takut.

"…Storm…" Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar.

Ia melihat aura Storm yang berubah. Melihat cara ia bertarung. Melihat apa yang ia lakukan pada Rizen dan Lgris. Arabels menggenggam tangannya sendiri. "…Itu bukan Storm…"

Namun jauh di dalam dirinya — sesuatu berbisik. Samar. Dingin. "Dia bukan sepenuhnya."

Arabels membeku. Matanya sedikit melebar. Ia kembali menatap Storm. Ia merasakan satu hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya terhadapnya.

Keraguan.

"…Apa Storm kehilangan kesadarannya…"

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun jawabannya sudah terasa.

More Chapters