Di atas markas X.A.R.A.
Langit malam terlihat luas dan dingin.
Angin berhembus pelan.
Dari kejauhan, kilatan cahaya pertarungan di Risveyland masih terlihat samar.
Di sana Storm sedang bertarung.
Sendirian.
Melawan banyak pahlawan.
Namun di sini...
Suasananya justru sunyi.
Arabels berdiri sendiri di tepi atap.
Rambutnya tertiup angin.
Matanya menatap langit tanpa berkedip.
Tangannya mengepal pelan.
"Kenapa…"
Suaranya lirih.
Ia menunduk sedikit.
"Kenapa dia dianggap penjahat..."
Arabels mengingat semuanya.
Storm yang datang.
Storm yang bertarung.
Storm yang menyelamatkan kota.
Melawan monster.
Melindungi banyak orang.
Namun sekarang, orang yang sama justru dikejar.
Dikepung.
Dianggap sebagai ancaman.
Arabels menggigit bibirnya.
"Itu tidak adil…"
Angin malam berhembus lebih kencang.
Beberapa detik hening.
Namun tiba-tiba, sesuatu terasa aneh.
Arabels terdiam.
Matanya sedikit melebar.
"…?"
Sebuah suara.
Sangat samar.
Namun jelas.
Bukan dari luar.
Melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Suara itu terdengar dingin.
Dalam.
Dan asing.
"Dia menolak takdirnya sebagai makhluk fana."
Arabels langsung menoleh ke sekeliling.
Namun tidak ada siapa pun.
"Siapa…?"
Tidak ada jawaban dari luar.
Namun suara itu kembali muncul.
Lebih jelas.
"Storm Realms…"
"Memiliki ambisi untuk menentang semesta."
Arabels membeku.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
"A-apa?"
Potongan gambaran asing muncul di pikirannya.
Sekilas.
Tidak jelas.
Namun terasa nyata.
Seorang anak perempuan.
Tertawa bersama Storm.
Kemudian...
Menghilang.
Suara itu kembali berbisik.
"Penyesalan…"
"Itulah yang mengikatnya."
Arabels memegang kepalanya.
"Berhenti…"
Namun suara itu tidak berhenti.
"Dia kehilangan seseorang."
"Jessyca Realms."
Nama itu terdengar jelas.
Arabels terdiam.
"Jessyca?"
Suara itu melanjutkan.
"Bukan darah…"
"Namun lebih berharga dari itu."
Angin berhembus semakin dingin.
Arabels merasakan sesuatu yang aneh.
Seperti ada bagian dari dirinya yang bukan miliknya.
Suara itu semakin pelan.
Namun lebih dalam.
"Selama penyesalan itu ada…"
"Dia tidak akan pernah berhenti menantang Tuhan."
Arabels gemetar.
"Siapa kau…?"
Namun tiba-tiba...
Hening.
Suara itu menghilang.
Seolah tidak pernah ada.
Arabels terdiam.
Napasnya sedikit tidak stabil.
Ia melihat ke tangannya sendiri.
"Apa itu tadi…"
Ia tidak mengerti.
Tidak tahu dari mana suara itu berasal.
Tidak tahu mengapa ia bisa mendengarnya.
Namun satu hal yang tertinggal di pikirannya: nama itu.
Jessyca Realms.
Dan kata-kata itu tentang Storm.
Arabels perlahan menatap kembali ke langit.
Ke arah pertarungan yang jauh di sana.
"Storm…"
Ia bergumam pelan.
Tanpa ia sadari, jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang masih tertinggal:
sisa kesadaran Velora.
