Ficool

Chapter 470 - Lemparan Kecil

Langit di atas H2700 masih dipenuhi oleh para pahlawan APH.

Aura mereka memenuhi udara.

Menekan.

Mengunci.

Tidak memberi celah.

Di tengah pengepungan itu—

Storm perlahan turun sedikit.

Kakinya menyentuh salah satu bangunan tinggi yang sudah retak akibat pertempuran sebelumnya.

Namun ia tidak langsung menyerang.

Ia justru menunduk.

Matanya melihat sesuatu di bawah kakinya: Sebuah batu kerikil kecil.

Storm memungutnya.

Gerakan sederhana.

Bahkan terlihat tidak berarti.

Beberapa pahlawan APH memperhatikan dengan bingung.

"Apa yang dia lakukan?"

Namun Storm tidak menjawab.

Ia hanya memegang kerikil itu di antara jarinya.

Lalu—

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Dan melemparkannya.

WHISS!!

Kerikil itu melesat.

Awalnya terlihat biasa.

Namun dalam sepersekian detik—

Kecepatannya meningkat drastis.

Udara di sekitarnya terbelah.

Tekanan tercipta di sepanjang lintasannya.

Kerikil itu berubah menjadi sesuatu yang menyerupai—

Meteor kecil.

Meluncur lurus ke kejauhan.

Menuju satu titik yang jauh dari pusat pengepungan.

Di sana—

Seseorang berdiri.

Matanya menyipit saat melihat sesuatu mendekat dengan kecepatan tidak wajar.

Tanpa berpikir panjang—

Ia langsung menghilang dari tempatnya.

WHUSH!

Dalam sepersekian detik—

Kerikil itu menghantam lokasi tempat ia berdiri sebelumnya.

BOOOOOOM!!!

Ledakan besar terjadi.

Tanah hancur.

Debu dan energi menyebar ke segala arah.

Beberapa bangunan di sekitar ikut retak oleh dampaknya.

Di udara—

Beberapa pahlawan APH menoleh ke arah ledakan itu.

Rizen mengangkat alis.

"Hanya batu...?"

Marika menyipitkan matanya.

"Itu bukan lemparan biasa."

Di sisi lain—

Franskeinsteins muncul kembali di tempat yang lebih jauh.

Ia berdiri diam.

Matanya menatap ke arah Storm.

Debu perlahan turun di sekitarnya.

Ia tidak terluka.

Namun—

Ia tahu satu hal.

Serangan itu bukan untuk membunuh.

Storm kini menatap ke arahnya dari kejauhan.

Tatapan mereka bertemu.

Sunyi sejenak di antara dua titik itu.

Storm berbicara pelan.

"Jadi kau pak tua memang berada di sana."

Franskeinsteins tidak menjawab.

Namun ekspresinya berubah sedikit.

Storm melanjutkan dengan nada datar.

"Mengawasiku."

"Dan melaporkanku."

Ia menyipitkan matanya.

"Kepada Dooms."

Angin malam berhembus di antara mereka.

Franskeinsteins akhirnya berbicara.

Suaranya tenang.

"Ini tugasku."

Storm tidak terlihat terkejut.

Ia sudah menduganya.

"Seperti biasa…"

Ia menghela napas kecil.

"APH tidak pernah bergerak tanpa alasan."

Di langit—

Para pahlawan masih mengepungnya.

More Chapters