Langit di atas H2700 dipenuhi kilatan merah.
Puluhan Blades Crimson terus menyerang Mecha raksasa yang melayang di udara.
TRANG!
BRAK!
ZRAK!
Pisau-pisau baja itu menghantam armor logam mesin tersebut dari berbagai arah. Beberapa bilah bahkan muncul dari distorsi ruang, menyerang dari sudut yang tidak bisa diprediksi.
Percikan logam beterbangan.
Bagian bahu Mecha itu mulai retak.
Salah satu meriamnya bahkan terlihat rusak setelah terkena beberapa tebasan.
Storm berdiri stabil di atas Deathred, mengendalikan seluruh bilah itu dengan satu tangan.
Ia mengamati kerusakan yang mulai muncul di tubuh Mecha.
Namun—
Mesin itu masih bertahan.
Perisai energinya berkedip-kedip, mencoba menahan serangan berikutnya.
Storm menghela napas pelan.
"Sepertinya ini masih belum cukup."
Ia menurunkan tangannya.
Blades Crimson perlahan berhenti menyerang dan kembali melayang di sekelilingnya.
Storm memandang Mecha raksasa itu dengan tatapan serius.
"Kalau begitu… aku selesaikan saja."
Energi merah mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.
Udara di sekitar Storm bergetar.
Langit seolah merespon kekuatan yang mulai muncul.
"Armor Scarlet Skycrimson—"
Namun—
Sebelum kalimat itu selesai—
Jam komunikasi di pergelangan tangannya tiba-tiba menyala.
BIP!
Sebuah hologram kecil muncul di depannya.
Storm mengerutkan kening.
"Siapa lagi sekarang?"
Wajah seseorang muncul di udara.
Rambutnya sedikit berantakan.
Ekspresinya panik.
Storm sedikit terkejut.
"Violys?"
Violys langsung berbicara cepat.
"Storm! Tunggu!"
Ia terlihat benar-benar panik.
"Jangan hancurkan Mecha itu!"
Storm mengangkat alisnya.
"Apa?"
Violys hampir berteriak.
"Aku yang mengendalikannya!"
Storm terdiam beberapa detik.
"Jadi robot ini milikmu?"
Violys mengangguk cepat.
"Ya!"
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Ini hanya pengujian!"
Storm memandang kembali Mecha yang masih melayang di depannya.
Beberapa bagian armornya sudah rusak akibat Blades Crimson.
Violys berbicara dengan nada memohon.
"Storm, tolong jangan menghancurkannya!"
"Mecha itu baru saja aktif setelah sumber dayanya penuh!"
"Kalau kamu menghancurkannya sekarang, seluruh proyek penelitian kami akan hancur!"
Storm menatap hologram Violys dengan ekspresi datar.
Beberapa detik berlalu.
Angin kencang masih berhembus di langit.
Blades Crimson masih melayang di sekelilingnya seperti kawanan bilah tajam.
Storm menghela napas panjang.
"Jadi sejak tadi…"
Ia menunjuk ke arah Mecha itu.
"Kau menyerangku hanya untuk tes?"
Violys terlihat sedikit bersalah.
"Kurang lebih begitu."
Storm memijat pelipisnya.
"Hebat sekali."
Ia menggeleng pelan.
"Ilmuwan X.A.R.A benar-benar tidak punya cara normal untuk menguji senjata."
Violys hanya bisa tersenyum kaku.
Storm kembali menatap Mecha raksasa itu.
Energi merah yang tadi mulai berkumpul di tubuhnya perlahan menghilang.
Ia menurunkan tangannya.
"Baiklah."
Blades Crimson mulai menghilang satu per satu di udara.
Storm akhirnya mengurungkan niatnya.
Armor Scarlet Skycrimson tidak jadi dipanggil.
Storm berkata dengan nada datar,
"Berhentilah menembakku."
Violys langsung mengangguk cepat.
"Ya!"
Beberapa detik kemudian—
Meriam Mecha itu berhenti bersinar.
Langit yang tadi penuh tembakan laser akhirnya mulai tenang.
Storm masih berdiri di atas Deathred, menatap mesin raksasa itu dengan wajah sedikit kesal.
"Lain kali…"
Ia berkata pelan.
"Jangan jadikan aku target uji coba."
