Ficool

Chapter 417 - Ucapan Tak Terbantahkan

Keheningan menyelimuti langit kota H2700.

Puluhan kapal militer Aksrega United masih melayang dalam formasi yang rapi. Lampu mesin mereka memantulkan cahaya di antara serpihan es yang masih melayang di udara.

Di bawah formasi kapal itu—

Storm dan Lgris masih berdiri saling berhadapan.

Lingkaran pemanggilan es raksasa di langit masih berputar perlahan, namun energinya mulai melemah.

Angin dingin berhembus pelan.

Lgris menatap ke arah kapal komando yang melayang tinggi di atas kota.

Tatapannya tajam… namun juga penuh pertimbangan.

Ia mengepalkan tangannya yang memegang Ice Sword.

Selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian—

Lgris menghela napas panjang.

Aura es yang menyelimuti tubuhnya perlahan meredup.

Lingkaran pemanggilan di langit mulai retak.

Simbol kuno yang tadi berputar kini pecah satu per satu seperti kaca yang runtuh.

Energi yang memanggil Varentha Draco perlahan menghilang.

Storm tetap berdiri diam.

Ia memperhatikan perubahan itu dengan tenang.

Akhirnya—

Lingkaran es raksasa itu lenyap sepenuhnya dari langit.

Langit kembali gelap.

Lgris menurunkan pedangnya sedikit.

"Aku mengerti… perintahnya."

Nada suaranya datar.

Meski jelas terlihat bahwa ia tidak sepenuhnya puas.

Ia melirik Storm sebentar.

"Pertarungan ini belum selesai."

Storm menjawab singkat.

"Lain kali aku membunuhmu."

***

Di atas kapal komando—

Pria bermantel militer itu masih berdiri di platform luar.

Tatapannya mengamati seluruh medan perang di bawahnya.

Ia memastikan sendiri bahwa perintahnya dipatuhi.

Beberapa detik kemudian, suaranya kembali terdengar melalui pengeras suara.

"Seluruh unit APH."

"Hentikan operasi pengejaran."

"Tarik pasukan dari wilayah kota H2700."

Perintah itu jelas.

Tidak ada ruang untuk penafsiran lain.

Di udara—

Beberapa pahlawan APH mulai mundur perlahan dari posisi mereka.

Lgris menatap Storm untuk terakhir kalinya malam itu.

Tatapannya tidak lagi penuh amarah seperti sebelumnya.

Namun jelas—

Ia belum melupakan duel mereka.

"Kita akan bertemu lagi, Keparat."

Storm tidak menjawab.

Ia hanya berdiri diam.

Angin malam kembali berhembus melewati kota.

Di langit—

Formasi kapal militer mulai bergerak perlahan, bersiap meninggalkan wilayah tersebut.

More Chapters