Ficool

Chapter 400 - Nama yang Tersisa

Lobi utama X.A.R.A terasa lebih sunyi dari biasanya.

Langkah Storm bergema pelan di lantai marmer putih. Violys berjalan setengah langkah di belakangnya, memperhatikan sosok pria yang berdiri dekat jendela besar menghadap kota.

Pria itu mengenakan jas hitam rapi.

Kacamata hitam menutupi matanya meski berada di dalam ruangan.

Tangannya terlipat di depan.

Aryes berdiri beberapa meter darinya, ekspresinya netral namun waspada.

"Akhir," pria itu bersuara saat Storm mendekat. "Akhirnya."

Storm berhenti tiga langkah darinya.

"Kau mencariku."

Pria itu tersenyum tipis.

"Nama saya Rasar."

Nada bicaranya sopan.

"Aku tidak merasa mengenalmu," jawab Storm datar.

"Itu tidak perlu," kata Rasar ringan. "Saya datang bukan untuk memperkenalkan diri… tapi untuk menyampaikan sesuatu."

Keheningan menggantung.

Bahkan Aryes memilih diam.

Rasar mengeluarkan sebuah amplop putih tebal dari dalam jasnya.

"Tentang ibumu."

Jantung Storm seperti berhenti satu detik.

Violys sedikit mengernyit.

Storm tidak bergerak.

"Apa maksudmu?"

Rasar menundukkan kepala sedikit, nada suaranya berubah lebih serius.

"Olive Wilson telah meninggal dunia beberapa hari lalu."

Kalimat itu jatuh tanpa gema.

Tanpa efek dramatis.

Justru karena terlalu sederhana—ia terasa lebih berat.

Storm terdiam.

Wajahnya tetap datar.

Namun tangannya perlahan mengepal.

Ingatan yang jarang ia sentuh muncul begitu saja—

Rumah kecil di Kota Nirvana.

Hidup sendirian sedari kecil, setelah neneknya pergi selamanya meninggalkannya sendirian di dunia ini. 

"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Storm akhirnya.

"Sakit mendadak," jawab Rasar tenang. "Ia tidak menderita lama."

Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai penghiburan.

Namun Storm hanya menatap kosong ke depan.

Beberapa detik terasa seperti ruang hampa.

Rasar melangkah maju dan menyerahkan amplop itu.

"Ini surat resmi warisan keluarga Wilson. Semua aset, properti, dan hak keluarga… kini atas namamu."

Storm menatap amplop itu.

Nama Wilson.

Nama yang tidak ia gunakan.

"Aku tidak membutuhkannya," katanya pelan.

Rasar tidak langsung menarik tangannya.

"Ini bukan soal kebutuhan. Ini hakmu."

Storm akhirnya mengambil amplop itu—bukan dengan rasa ingin memiliki, tapi dengan kesadaran bahwa itu adalah satu-satunya hal fisik yang tersisa dari ibunya.

Ia membukanya perlahan.

Dokumen resmi.

Tanda tangan notaris.

Semuanya sah.

Storm menutup kembali amplop itu.

"Aku menolaknya."

Aryes dan Violys saling berpandangan.

Rasar sedikit mengangkat alis di balik kacamatanya.

"Kau yakin anak muda?"

"Ya."

Storm menatapnya langsung.

"Apa pun yang tersisa dari keluarga Wilson… biarkan tetap seperti itu. Aku tidak akan kembali ke Nirvana. Aku tidak akan mengambil apa pun."

"Kenapa?" tanya Rasar, kali ini benar-benar ingin tahu.

Storm menjawab tanpa ragu.

"Karena tujuanku bukan hidup nyaman."

Angin dari pintu otomatis berhembus pelan.

"Aku masih memiliki musuh yang belum selesai kuhadapi."

Suaranya tidak meninggi.

Tidak penuh emosi.

Justru karena datar—terdengar lebih tegas.

"Jika aku menerima semua itu, aku hanya akan mengikat diriku pada masa lalu. Dan masa lalu tidak akan membantuku menghadapi apa yang akan datang."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Rasar akhirnya menarik kembali amplop itu.

"Saya sudah menduga jawabannya."

"Setidaknya cukup untuk memastikan pesan ini sampai."

Ia berbalik, melangkah menuju pintu keluar.

Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti.

"Terlepas dari keputusanmu… ibumu selalu menyebut namamu dengan bangga sebelum dia pergi selamanya."

Pintu otomatis terbuka.

Rasar keluar tanpa menoleh lagi.

Lobi kembali sunyi.

Aryes menghela napas pelan.

"Tuan Rem, Tidak. Tuan Storm…"

Namun Storm sudah berbalik.

"Aku saat ini butuh udara."

Ia berjalan melewati mereka tanpa menunggu jawaban.

Di atap gedung X.A.R.A.

Langit siang terlihat terlalu terang.

Storm berdiri sendirian.

Tidak ada armor.

Tidak ada kekuatan.

Hanya dirinya.

Ia membiarkan matanya terpejam cukup lama.

"Ibu…"

Kata itu hampir asing di bibirnya.

Ia tidak menangis.

Namun napasnya terasa lebih berat dari biasanya.

Angin berhembus melewati rambutnya.

Di kejauhan, kota H2700 tetap hidup seperti biasa.

More Chapters