Ficool

Chapter 388 - Badai Lima Mahkota

Kawah besar di tengah Risveyland masih berasap.

Retakan tanah memancarkan pijar merah sisa benturan terakhir.

Di dasar kawah—

Naga berkepala lima itu perlahan bangkit.

Sisiknya retak di beberapa bagian, namun justru semakin bercahaya. Petir kini tidak lagi hanya menyambar dari mulutnya—ia mengalir di sepanjang tubuhnya, seperti pembuluh darah bercahaya biru-putih.

Kelima kepalanya menengadah ke langit.

Auman mereka tidak lagi sekadar marah.

Itu panggilan.

Langit Risveyland berubah.

Awan hitam berkumpul dalam pusaran raksasa tepat di atas medan perang. Kilat menyambar tanpa henti, membentuk lingkaran badai yang terus mengecil… tepat di atas Storm.

***

Di udara, Storm melayang dengan enam tangan baja terbuka.

Velora bersuara pelan.

"Atmosfer terionisasi total. Ia tidak hanya menyerangmu… ia menguasai cuaca."

Naga itu mengepakkan sayapnya.

Badai turun.

Bukan satu sambaran.

Bukan satu pilar.

Ribuan petir jatuh bersamaan seperti hujan cahaya mematikan, menutup seluruh ruang gerak Storm.

***

Di kejauhan, kilatan itu terlihat jelas dari H2700.

Langit barat seperti terkoyak oleh cahaya yang tak wajar.

Orang-orang terdiam melihat cakrawala yang menyala terus-menerus.

Beberapa anak kecil bertanya pada orang tuanya.

Beberapa orang dewasa hanya bisa berbisik,

"Itu bukan badai biasa…"

***

Kembali ke Risveyland—

Storm tidak mundur.

Enam tangan Ashura bergerak cepat.

Dua tangan atas menciptakan kubah tekanan ruang, menangkis sambaran yang turun lurus.

Dua tangan tengah menepis petir yang datang menyilang.

Dua tangan bawah menanamkan gaya gravitasi ke tanah, menjaga tubuhnya tetap stabil di tengah hantaman bertubi-tubi.

Namun badai itu terlalu luas.

Petir menghantam dari segala arah.

Satu sambaran menembus pertahanan samping dan menghantam bahu armornya.

Ledakan cahaya merah dan biru beradu.

Storm terdorong mundur beberapa meter di udara.

"Kak Rem!" suara Arabels terdengar panik dari komunikasi jarak jauh.

Cluster 29-334 terguncang hebat meski berada ratusan meter dari pusat badai.

Zero menggertakkan gigi.

"Medan elektromagnetiknya kacau total!"

Jester mengepalkan tangannya di atas kapal Arkananya.

"Naga itu membuat arena sendiri…"

Napstylea melayang lebih rendah, siap bergerak kapan saja.

Namun mereka tetap menahan diri.

Karena Storm belum memberi izin.

Di tengah badai—

Naga itu membuka kelima mulutnya bersamaan.

Badai petir yang semula acak kini terpusat.

Semua kilatan di langit tertarik ke satu titik—tepat di atas Storm.

Membentuk tombak petir raksasa yang berputar.

Udara menjerit.

Tanah Risveyland bergetar seperti akan terbelah.

Velora berbicara lebih serius dari sebelumnya.

"Energi setara dengan serangan pemusnah wilayah. Jika terkena langsung—"

"Aku tahu itu."

Storm menarik napas panjang.

Enam tangan bajanya menyatu membentuk satu formasi.

Tiga pasang lengan itu bersilang di depan tubuhnya, membentuk simbol seperti bunga baja yang terkunci.

Energi merah mengalir semakin pekat.

Mode Ashura meraung dalam resonansi mekanis.

Tombak petir itu jatuh.

Langit seolah runtuh bersama cahaya putih menyilaukan.

Benturan terjadi.

Ledakan menggetarkan Risveyland hingga puluhan kilometer.

Gelombang cahaya menyapu dataran, membuat debu dan batu terangkat seperti lautan.

***

Dari kejauhan, kilatan itu terlihat seperti matahari yang meledak sesaat di cakrawala.

Di pusatnya—

Cahaya perlahan meredup.

Asap dan debu berputar dalam pusaran panas.

Sesosok bayangan masih berdiri.

Armor Scarlet Skycrimson retak lebih banyak kini, beberapa bagian memercikkan percikan energi.

Namun enam tangan baja itu masih terangkat.

Storm perlahan menurunkan lengannya.

Di balik helmnya, napasnya berat.

More Chapters