Hanggar utama X.A.R.A kembali sibuk.
Beberapa teknisi berdiri di bawah rangka raksasa Nexus S-4473, memeriksa panel energi dan inti reaktor yang masih terbuka.
Hari itu seharusnya hanya simulasi.
Belum ada aktivasi inti.
Belum ada suplai penuh.
Proyek itu masih kekurangan sumber daya besar untuk benar-benar menyala.
Arabels berdiri di depan panel kendali tambahan bersama Aryes. Matanya berbinar melihat grafik lintasan yang ia sesuaikan.
Storm berdiri sedikit menjauh, mengamati struktur kapal itu dari bawah.
Ia bisa merasakan sesuatu.
Bukan energi kosmik.
Bukan dimensi.
Melainkan pola.
Sistem inti Nexus menggunakan prinsip pelipatan ruang mikro—menciptakan jalur dorong dengan mengompresi ruang di depan kapal.
Mirip.
Tidak sama.
Tapi mirip dengan apa yang pernah ia rasakan ketika mengendalikan tekanan ruang.
"Apa masih belum bisa diaktifkan, Direktur?" tanya Arabels pada Aryes.
Aryes menggeleng tipis.
"Reaktor utama belum stabil. Kita hanya bisa menghidupkan sistem sekunder."
Saat itu—
Seseorang memasuki hanggar dengan langkah cepat.
Seorang wanita dengan jas laboratorium biru gelap, rambut panjang hitam terikat rendah, dan mata tajam penuh rasa ingin tahu.
Violys Delstin. Salah satu petinggi X.A.R.A.
Ilmuwan utama bidang energi propulsi.
Ia berhenti ketika melihat Storm berdiri dekat modul inti.
"Kau siapa?" tanyanya langsung, nada suaranya lebih analitis daripada kasar.
Arabels segera menjawab, "Dia kekasihku, Kak Rem. Dia menemaniku disini."
Violys menatap Storm dari ujung kepala sampai kaki.
Tatapan seorang ilmuwan yang terbiasa membedah fenomena.
Storm tidak bereaksi.
Ia melangkah sedikit mendekati struktur inti.
"Mesin ini tidak sepenuhnya mati," katanya pelan.
Violys mengangkat alis.
"Tentu saja mati. Tanpa suplai reaktor utama, tidak ada resonansi dorong."
Storm menatap panel kristal transparan di dalam modul.
"Bukan mati," ulangnya.
"Hanya… belum dipicu."
Aryes memperhatikan dari kejauhan.
Storm memajukan tangannya perlahan.
Bukan dengan aura mencolok.
Bukan dengan cahaya dramatis.
Ia hanya melepaskan—
Sedikit tekanan ruang.
Sangat kecil.
Sangat terkendali.
Tekanan mikro itu menyentuh inti pelipatan ruang Nexus.
Sejenak—
Tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
Panel di dalam modul berkedip.
Garis cahaya biru menyala tipis, mengalir sepanjang saluran energi kapal seperti urat nadi yang mulai berdenyut.
Suara dengungan halus terdengar.
Layar-layar kontrol tiba-tiba aktif.
Arabels tertegun.
"Direktur… itu—"
Violys melangkah cepat ke konsol.
"Mustahil," gumamnya.
Ia memindai data dengan cepat.
"Tidak ada suplai bahan bakar tambahan. Tidak ada lonjakan energi eksternal. Tapi inti pelipatan ruang… beresonansi."
Cahaya biru di tubuh Nexus semakin terang.
Bukan untuk bergerak.
Bukan untuk lepas landas.
Namun sistemnya hidup.
Seolah jantung raksasa itu baru saja berdetak untuk pertama kalinya.
Storm menurunkan tangannya.
Cahaya tetap stabil beberapa detik sebelum perlahan meredup kembali ke kondisi siaga.
Hanggar sunyi.
Teknisi berhenti bekerja.
Semua mata tertuju pada Storm.
Violys menatapnya tajam.
"Kekuatan apa itu?" tanyanya langsung.
Storm menjawab datar.
"Bukan kekuatan. Hanya penyesuaian tekanan."
"Penyesuaian tekanan?" ulang Violys.
"Kau menyelaraskan medan pelipatan ruang dengan tubuhmu?"
Ia terlihat bukan marah—
Melainkan… takjub.
Arabels berbalik ke Storm dengan mata berbinar.
"Kamu menghidupkannya…"
Storm menggeleng kecil.
"Aku hanya membangunkannya sebentar."
Aryes berjalan mendekat, ekspresinya tetap tenang meski jelas ia menyadari betapa sensitifnya kejadian ini.
"Mesin tidak bergerak," katanya hati-hati.
"Tidak ada pelanggaran protokol."
Violys masih menatap Storm.
"Tidak bergerak, ya," katanya pelan.
"Tapi inti pelipatan ruang meresponsnya. Itu berarti tubuhnya menghasilkan pola resonansi yang selaras dengan sistem Nexus."
Ia mendekat satu langkah lagi.
"Kami membutuhkan bertahun-tahun untuk menstabilkan frekuensi itu."
Storm menatap kapal raksasa itu sekali lagi.
"Aku tidak melakukannya dengan sengaja."
Violys tersenyum tipis, campuran antara rasa ingin tahu dan ambisi ilmiah.
"Itulah yang membuatnya lebih menarik."
Arabels menggenggam tangan Storm tanpa sadar.
"Kamu luar biasa sayang," bisiknya pelan.
Storm hanya menatap Nexus.
Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tekanan ruang yang ia lepaskan secara alami cocok dengan inti pelipatan ruang kapal.
Artinya—
Teknologi manusia perlahan mendekati sesuatu yang telah menjadi bagian dari dirinya.
Violys kembali ke konsol, namun tatapannya sesekali melirik Storm.
"Direktur Aryes," katanya,
"Kita perlu diskusi tertutup tentang ini."
Aryes mengangguk pelan.
Namun sebelum mereka bergerak—
Sirene kecil berbunyi sekali.
Bukan alarm bahaya.
Melainkan notifikasi sistem.
Satelit orbital mendeteksi fluktuasi mikro di atas hanggar.
