Ficool

Chapter 375 - Tatapan di Bawah Kubah Bintang

Hanggar Nexus S-4473 dipenuhi gema langkah dan dengungan mesin yang belum sepenuhnya aktif.

Arabels masih menatap kapal raksasa itu dengan mata berbinar ketika Aryes memberi isyarat pada salah satu stafnya.

"Lira," panggilnya.

Seorang wanita muda dengan tablet holografik di tangannya mendekat cepat. Seragam X.A.R.A berwarna putih-biru membalutnya rapi.

"Tolong dampingi Nona Arabels berkeliling fasilitas utama. Ruang kendali orbit, ruang simulasi lintasan, dan laboratorium navigasi kuantum."

Lira mengangguk hormat.

"Dengan senang hati, Direktur."

Arabels menoleh ke Storm sebentar.

"Aku tidak lama, Kak."

Storm tersenyum tipis.

"Aku di sini."

Arabels mengikuti Lira keluar dari hanggar, langkahnya ringan penuh antusias.

Pintu logam besar tertutup perlahan.

Dan kini—

Hanya tersisa Storm dan Aryes Wilston di bawah bayangan Nexus.

Beberapa detik hening.

Aryes tidak langsung berbicara. Ia berjalan pelan mengitari Storm, bukan dengan sikap mengintimidasi—melainkan seperti ilmuwan yang sedang mengamati fenomena langka.

"Aku sedikit bingung," ujar Aryes akhirnya.

Storm menatapnya datar.

"Bingung tentang apa?"

Aryes berhenti beberapa meter di depannya.

"Menurut laporan yang masuk ke pusat analisis dini hari tadi… kau sedang berduel melawan Lgris Harrenheal."

Nada suaranya tetap santai.

Bukan tuduhan.

Bukan ancaman.

Namun jelas berdasarkan data.

"Domain Endless Frost aktif selama delapan menit," lanjut Aryes.

"Lalu hancur."

Ia menatap Storm lebih tajam.

"Setahuku, seseorang yang bertarung dalam Domain tingkat itu… tidak akan berdiri santai keesokan paginya di hanggar kami."

Storm tidak menjawab langsung.

Ia tahu.

X.A.R.A bukan lembaga militer.

Namun semua fasilitas besar Aksrega United memiliki akses ke satelit pemantau energi.

Dan duel semalam terlalu besar untuk tidak tercatat.

"Lgris masih hidup," kata Storm singkat.

Aryes mengangguk kecil.

"Ya. Itu juga tercatat."

Keheningan kembali turun.

Storm menyilangkan tangan ringan.

"Apa maksudmu?"

Aryes menghela napas tipis.

"Aku hanya mencoba menyelaraskan dua fakta yang bertentangan."

"Fakta pertama: terjadi duel skala tinggi antara entitas anomali dan pahlawan APH."

"Fakta kedua: entitas anomali itu kini berdiri di fasilitas ilmiah paling sensitif di dunia."

Ia menatap langsung ke mata Storm.

"Dan tampak… sangat terkendali."

Storm membalas tatapan itu tanpa gentar.

"Aku tidak datang untuk berperang."

"Aku tahu," jawab Aryes cepat.

Jawaban itu justru membuat Storm sedikit waspada.

Aryes melanjutkan dengan nada lebih pelan.

"Kalau kau berniat menyerang, kau tidak akan berdiri diam seperti ini."

Ia melirik sekilas ke arah Nexus.

"Kau tahu, Kapal apa ini?"

"Kapal antar bintang," jawab Storm.

"Lebih dari itu," kata Aryes.

"Ini adalah langkah pertama umat manusia untuk tidak lagi bergantung pada satu dunia."

Ia kembali menatap Storm.

"Dan ironisnya… pada saat kami mencoba menjangkau bintang, entitas dari luar justru datang ke sini."

Storm memahami maksud tersembunyi itu.

"Kau menganggapku bagian dari ancaman luar?" tanyanya datar.

Aryes terdiam beberapa detik.

"Secara administratif… ya."

"Secara pribadi?"

Aryes memiringkan kepala sedikit.

"Aku belum punya cukup data."

Jawaban jujur.

Tidak menyenangkan, tapi tidak bermusuhan.

Storm mengepalkan tangan perlahan, lalu melepaskannya lagi.

"Aku di sini karena Arabels," katanya akhirnya.

"Bukan karena kapalmu. Bukan karena fasilitasmu."

Aryes memperhatikan ekspresi Storm.

Tidak ada kebohongan yang mudah terbaca.

"Jadi begitu." gumamnya pelan.

"Kalau begitu izinkan aku bertanya langsung."

Tatapannya kini benar-benar serius.

"Kenapa kau bisa berada di sini seolah tidak terjadi apa-apa… setelah menghancurkan Domain Lgris?"

Angin dari ventilasi hanggar berhembus pelan.

Storm menjawab tenang.

"Karena pertarungan itu sudah selesai."

"Dan jika belum?"

Storm menatap Aryes tanpa berkedip.

"Kalau belum selesai… kau tidak akan menanyakan pertanyaan ini dengan santai."

Keheningan berat menyelimuti mereka.

Beberapa detik terasa panjang.

Lalu—

Aryes tersenyum tipis.

Bukan senyum mengejek.

Melainkan senyum seseorang yang menemukan variabel tak terduga dalam persamaan rumit.

"Baiklah," katanya akhirnya.

"Untuk hari ini… kau adalah tamu."

Ia berbalik perlahan.

"Tapi kau harus tahu satu hal, Tuan Rem Scraster."

Ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Semakin besar energimu tercatat di sistem dunia… semakin sulit bagiku untuk berpura-pura tidak melihatnya."

Storm memahami makna itu.

Ini bukan ancaman langsung.

Ini peringatan.

Aryes melangkah menjauh menuju ruang kontrol.

Storm tetap berdiri di bawah bayangan Nexus S-4473.

More Chapters