Markas bawah tanah Psywars bergetar halus.
Lampu-lampu strip di lorong baja berkedip sesaat. Layar hologram di ruang kontrol memunculkan lonjakan grafik energi secara liar—merah, biru, emas, dan satu pola geometris transparan yang terus menguat.
Napstylea berdiri di depan layar utama, Armor Silver-nya aktif setengah badan. Wajahnya serius.
"Level energi ini bukan duel biasa…" gumamnya.
Di belakangnya, Jester memutar kartu Arcana Emperor di antara jari-jarinya. Biasanya ia santai, bahkan di tengah bahaya.
Namun kali ini, kartu di tangannya retak tipis oleh tekanan getaran.
"Ah…" ia mendesah ringan.
"Scarlet, es purba, rantai emas… dan pola kubus dimensi."
Ia menoleh pada Napstylea.
"APH turun lengkap."
Napstylea mengepalkan tangan.
"Lgris tidak sendirian."
Monitor memperbesar tampilan langit distrik elite.
Siluet naga raksasa dari kristal es terlihat jelas. Rantai emas menyambar. Struktur kubus transparan menekan ruang.
Dan di tengahnya—
Kilatan merah yang mereka kenal.
"Tuan Rem terkepung," kata Napstylea tegas.
Jester menjentikkan satu kartu ke udara. Kartu itu berubah menjadi proyeksi simbol menara runtuh.
"Sepertinya Tuan Rem menahan diri," gumamnya.
"Kalau tidak… separuh kota sudah hilang."
Napstylea berbalik menuju pintu keluar.
"Kita tidak bisa membiarkannya sendirian."
Jester tersenyum tipis di balik topengnya.
"Ah, akhirnya kau mengatakan kalimat yang dramatis."
Napstylea menatapnya tajam.
"Ini bukan waktu bercanda."
"Justru ini waktu terbaik," jawab Jester ringan, meski nada suaranya kali ini lebih serius dari biasanya.
Ia melempar tiga kartu sekaligus ke udara.
Kartu-kartu itu berubah menjadi lingkaran sihir tipis yang berputar di lantai.
Portal ilusi terbentuk.
Napstylea mengaktifkan Armor Silver sepenuhnya. Lapisan logam mengilap menutup tubuhnya dari kepala hingga kaki, sayap energi tipis terbuka di punggungnya.
"Analisis cepat," katanya. "Lgris dengan Varentha Draco. Rizen Krystoren kemungkinan mengunci ruang. Marika Slayers mengendalikan rantai penyegel."
Jester bertepuk tangan pelan.
"Formasi penangkapan sempurna. Mereka tidak ingin membunuh. Mereka ingin mengekstraksi."
Napstylea terdiam sesaat.
"Kalau mereka memaksa terlalu jauh…"
Jester menyelesaikan kalimatnya dengan tenang.
"Tuan Rem akan menghabisi mereka sepenuhnya."
Hening.
Itulah skenario terburuk.
Monitor kembali bergetar. Gelombang gravitasi melonjak drastis.
Napstylea langsung melangkah ke portal.
"Kalau Tuan Rem jatuh di bawah tekanan tiga pahlawan dan naga purba…"
Jester mengikuti di belakangnya.
"Tuan Rem tidak akan kalah," katanya pelan.
Napstylea menoleh sekilas.
Jester menatap grafik energi yang semakin tak stabil.
"Yang aku khawatirkan," lanjutnya lirih,
"Adalah apa yang terjadi kalau dia berhenti menahan diri."
Portal menyala terang.
Di langit H2700, gelombang energi baru terbentuk—lebih dalam, lebih berat.
Napstylea mengepalkan tangan.
"Tuan Rem, bertahanlah."
Dalam sekejap, keduanya melompat masuk ke dalam cahaya.
