Ficool

Chapter 361 - Tiga Lambang APH

Langit H2700 telah berubah menjadi pusaran es dan cahaya merah.

Varentha Draco melingkar di udara seperti badai hidup. Setiap kepakan sayapnya menciptakan gelombang dingin yang meretakkan atmosfer. Di bawahnya, Storm berdiri dalam balutan Scarlet Skycrimson, retakan tipis di bahunya masih memancarkan pijar merah.

Lgris melayang di sisi naga purba itu.

Ia mulai menyadari satu hal—

Storm belum benar-benar menyerang dengan niat menghancurkan.

Namun Varentha juga belum mampu menjatuhkannya.

Sinar pembekuan kembali ditembakkan.

Storm memutar gravitasi, membelokkannya ke langit terbuka. Namun tekanan purba naga es itu membuat udara terasa berat. Scarlet Skycrimson bergetar lebih keras dari sebelumnya.

Lgris mendecih kesal.

"Energinya terus meningkat…"

Tiba-tiba—

Dua gelombang energi baru muncul di atmosfer.

Bukan es.

Bukan gravitasi.

Langit terdistorsi oleh bentuk geometris transparan—kubus-kubus cahaya berlapis yang berputar dalam dimensi tak stabil.

Dan dari arah barat, kilatan emas menembus awan seperti petir vertikal.

Storm merasakannya lebih dulu.

Velora berbisik lirih.

"Bukan satu lagi. Dua pahlawan muncul."

Sebuah kubus raksasa terbentuk di udara, lalu runtuh menjadi serpihan cahaya.

Di tengahnya berdiri seorang pria berambut perak dengan mantel panjang putih. Di sekeliling tubuhnya, kubus-kubus kecil transparan terus berputar, membentuk perisai geometris.

Rizen Krystoren.

Pahlawan APH dengan julukan Supercube Immortality.

Matanya tajam namun tenang.

"Kau benar-benar memanggil Varentha, Lgris?" katanya datar.

Di sisi lain langit, cahaya emas membentuk lingkaran sihir besar.

Rantai-rantai emas raksasa keluar dari lingkaran itu, berkilau seperti matahari terbelah.

Seorang wanita berambut hitam panjang melayang turun dengan tatapan tegas.

Marika Slayers.

Tangannya terangkat, dan ratusan segel emas berputar di belakangnya.

"Kota ini hampir membeku total," ucapnya.

"Kau kewalahan, Lgris."

Lgris tidak membantah.

"Target kita menunjukkan reaksi entitas non-manusia. Aku membutuhkan penguncian penuh."

Storm berdiri di bawah mereka bertiga.

Tiga lambang APH kini melayang di langit.

Varentha meraung pelan, seolah mengenali tekanan baru.

Rizen memandang Storm dengan seksama.

"Kau pusat anomali itu," katanya.

"Energi gravitasi tak dikenal. Resonansi kehancuran dimensi. Dan sekarang naga purba."

Storm tidak menjawab.

Scarlet Skycrimson berdenyut stabil, namun ia bisa merasakan tekanan meningkat.

Marika mengangkat tangannya.

"Maaf," katanya singkat.

Rantai emas raksasa meluncur turun.

Cepat.

Presisi.

Rantai itu bukan sekadar logam—ia memancarkan segel penahan energi, dirancang untuk mengunci mecha raksasa dan monster kelas nasional.

Storm mengangkat tangan.

Gravitasi memelintir lintasan rantai, namun Marika memutar pergelangan tangannya.

Rantai bercabang.

Sepuluh.

Dua puluh.

Mereka datang dari segala arah.

Rizen juga ikut menyerang.

Kubus-kubus di sekelilingnya membesar, membentuk struktur geometris raksasa yang mengunci ruang di sekitar Storm.

"Dimensional Compression," gumam Rizen.

Ruang di sekitar Storm mengeras.

Gerakannya terasa tertahan, bukan oleh es—melainkan oleh geometri ruang yang dipadatkan.

Lgris memanfaatkan momen itu.

Varentha menukik turun, badai es terkondensasi di rahangnya.

Storm mengepalkan tangan.

Scarlet Skycrimson menyala terang.

Ia memecah kompresi ruang dengan ledakan gravitasi internal, namun satu rantai emas berhasil melilit lengannya.

Segel emas menyala.

Energinya sedikit teredam.

Marika memperkuat ikatan.

"Dia lebih kuat dari laporan!" serunya.

Rizen memperbesar struktur kubus, mempersempit ruang gerak Storm.

Varentha menembakkan sinar pembekuan langsung dari atas.

Ledakan cahaya merah dan biru memecah malam.

Tanah retak.

Udara bergetar.

Storm terdorong ke permukaan jalan beku, lututnya menghantam aspal yang langsung hancur.

Tiga pahlawan APH kini membentuk segitiga di udara.

Lgris dengan kendali es purbanya.

Rizen dengan geometri abadi yang mengunci dimensi.

Marika dengan rantai emas penyegel energi.

"Menyerahlah," kata Rizen tenang.

"Kami tidak ingin membunuhmu. Kami ingin kau menyerahkan dirimu."

Velora berbisik dalam kesadaran Storm.

"Mereka tidak sepenuhnya salah."

Storm perlahan bangkit.

Rantai emas masih melilit satu lengannya.

Es mulai membentuk kristal di kaki.

Kubus-kubus transparan menekan ruang di sekelilingnya.

Namun di balik helm crimson—

Matanya menyala lebih terang.

"Aku tidak bersembunyi," ucapnya pelan.

Gravitasi di sekitar tubuhnya mulai bergetar tidak stabil. Bukan seperti sebelumnya.

More Chapters