Dimensi keempat berguncang hebat.
Bukan karena tekanan.
Bukan karena benturan.
Melainkan karena sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh fondasi ruang itu sendiri.
Storm melayang di tengah kehampaan hitam yang terus meluas. Retakan di tubuhnya semakin jelas, namun auranya kini jauh lebih sunyi—terlalu sunyi.
Di hadapannya, Tesseract berdiri tegak.
Ia masih mampu menstabilkan wilayahnya. Masih mampu memperbaiki struktur yang rusak. Jika ini hanya pertarungan melawan Storm, ia tidak akan kesulitan.
Namun ini bukan hanya Storm.
Zona kehampaan di belakangnya berdenyut pelan.
"Kau memaksakan keberadaan yang tak seharusnya berada di sini," suara Tesseract terdengar lebih berat dari sebelumnya.
Storm tidak menjawab.
Namun Velora menjawab melalui dirinya.
"Bukan aku yang memaksakan diri."
"Dimensimu terlalu rapuh."
Sekejap—
Satu garis hitam tipis melintas di udara.
Tak ada ledakan.
Tak ada cahaya.
Hanya satu bagian ruang yang tiba-tiba… hilang.
Struktur geometris Tesseract terpotong bersih.
Entitas itu mundur beberapa langkah. Bentuknya tidak stabil. Garis-garis sudutnya bergelombang.
Tesseract segera membangun ulang dirinya.
Ia mengeraskan hukum eksistensi. Menutup jalur kehampaan dengan lapisan dimensi berlapis-lapis.
"Kau tidak bisa menghapusku," ucapnya tegas.
"Aku adalah fondasi tempat ini."
Velora tertawa.
"Fondasi pun bisa runtuh."
Storm mengangkat tangannya perlahan.
Saat ujung jarinya menunjuk ke arah Tesseract—
Dimensi membeku.
Bukan waktu yang berhenti.
Melainkan keberanian ruang untuk bergerak.
Tesseract mencoba mengaktifkan "Dimensional Collapse".
Tidak terjadi apa-apa.
Ia mencoba memutar ulang sebab-akibat.
Tidak merespons.
Ia mencoba memindahkan Storm ke koordinat lain.
Ruang menolak perintahnya.
Sejak diciptakan—
Tesseract tidak memiliki kendali penuh atas dimensinya sendiri.
"Kau…" suaranya bergetar tipis.
"Makhluk Grivver…"
Storm melangkah maju.
Setiap langkah membuat wilayah Tesseract kehilangan warna. Persegi-persegi cahaya memudar, berubah menjadi abu-abu, lalu hampa.
"Aku masih bisa mengimbanginya," gumam Tesseract dalam kesadarannya.
Ia masih memiliki kekuatan.
Namun kekuatan itu tidak bisa menyentuh Velora.
Setiap serangan berbasis ruang akan dihapus sebelum terbentuk.
Setiap hukum yang ia ciptakan akan kehilangan makna.
Ini bukan pertarungan kekuatan.
Ini pertarungan otoritas eksistensi.
Di hadapan kehancuran mutlak—
Otoritas Tesseract tidak berlaku.
Storm kini berdiri tepat di depannya.
Tidak ada perisai.
Tidak ada lapisan dimensi.
Tesseract mencoba membentuk rantai pikirannya—
Rantai itu menghilang sebelum sempat terbentuk.
Velora berucap.
"Kau terlalu bergantung pada ruang."
Storm mengangkat tangannya dan menyentuh geometris Tesseract.
Tak ada ledakan besar.
Hanya suara halus seperti kaca retak.
Garis-garis pada tubuh Tesseract mulai pudar.
Ia masih sadar.
Masih memiliki kekuatan.
Namun tak mampu menggunakannya.
Bukan karena lemah.
Melainkan karena setiap upaya disangkal oleh kehampaan yang berdiri di depannya.
Untuk pertama kalinya—
Penjaga dimensi itu tak berdaya.
"Berhenti…" ucapnya rendah.
"Jika kau teruskan, keseimbangan dimensi akan runtuh."
Storm terdiam.
Velora hendak melanjutkan.
Namun Storm menahan.
Cahaya hitam di sekelilingnya sedikit meredup.
"Aku tidak ingin menghancurkan segalanya," ucap Storm pelan.
"Aku hanya ingin kau menjauh dari duniaku."
Tesseract menatap manusia itu.
Kini ia mengerti.
Bukan kekuatan Storm yang membuatnya berlutut.
Melainkan entitas di dalamnya.
Entitas itu—memilih untuk menahan diri.
Velora berbisik, hampir terdengar seperti desahan angin kosmik.
"Kau beruntung, penjaga ruang."
Kehampaan perlahan menyusut.
Dimensi Tesseract mulai mendapatkan kembali warnanya, meski retakan masih jelas terlihat.
Storm terhuyung.
Energi itu terlalu besar untuk ditahan lama.
Namun sebelum ia benar-benar jatuh, ia menatap Tesseract untuk terakhir kalinya.
"Ingat ini," katanya lirih.
"Bumi bukan wilayahmu."
Tesseract tidak menjawab.
Ia hanya diam—
Ia menyadari bahwa ada eksistensi di semesta ini yang bahkan tidak bisa ia kendalikan di dalam dimensinya sendiri.
Dan itu… bukan dirinya.
