Ficool

Chapter 346 - Naluri yang Tak Bisa Dijinakkan

Dimensi kembali sunyi.

Retakan-retakan tipis masih terlihat di beberapa sudut ruang, bekas benturan kekuatan yang bahkan hukum realitasnya sendiri hampir tak mampu menahan.

Storm berdiri dengan napas berat. Tubuhnya dipenuhi luka energi, retakan hitam masih menjalar samar di kulitnya. Namun matanya—tetap menyala.

Di kejauhan, Tesseract mengamati.

Entitas itu tidak menunjukkan emosi. Namun struktur dimensinya berdenyut pelan, seperti jantung yang terganggu.

"Kau masih berdiri," gumamnya datar.

Storm menyeka darah di sudut bibirnya. "Apa kau takut?"

Tesseract tidak menjawab. Ia mengangkat tangan.

Ruang di sekitar Storm langsung terlipat. Atas menjadi bawah. Kiri menjadi kanan. Gravitasi berubah arah secara acak.

BOOM!

Tubuh Storm terhempas ke dinding dimensi yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

Namun sebelum tekanan berikutnya datang, Storm bergerak.

Bukan dengan teknik. Bukan dengan pola.

Ia menerjang.

Seperti binatang buas yang tak peduli pada rasa sakit.

Tinju, tendangan, tebasan energi—semuanya dilepaskan tanpa ritme yang bisa dibaca. Gerakannya kacau, liar, tidak terduga.

Tesseract memiringkan kepala.

"Kau bertarung tanpa struktur."

"Memangnya itu perlu?" Storm menyeringai.

Serangan bertubi-tubi menghantam perisai tak terlihat. Sebagian terpental. Sebagian lagi berhasil membuat gelombang di permukaan dimensi.

Tesseract meningkatkan tekanan ruang sepuluh kali lipat.

Normalnya, manusia akan hancur.

Storm justru melesat lebih cepat.

Tulangnya berderak. Ototnya terkoyak oleh tekanan. Tapi ia tidak berhenti.

Ia tidak memikirkan teknik terbaik. Tidak menghitung peluang.

Ia hanya bergerak maju.

Naluri.

Seperti hewan liar yang menolak dijinakkan.

Tesseract merasa kesulitan membaca pola serangan.

"Kau tidak memiliki logika pertarungan," ucapnya.

"Logika tidak pernah menyelamatkanku," balas Storm.

Tesseract menciptakan ribuan bilah dimensi, tajam seperti konsep kehampaan. Semua melesat bersamaan.

WHUSSH!

Tubuh Storm tertusuk di beberapa titik. Darah memercik di ruang tanpa gravitasi.

Namun ia menangkap salah satu bilah itu dengan tangan kosong.

Energi hitam di telapak tangannya menelan struktur dimensi bilah tersebut.

Lalu—

Storm melemparkannya kembali.

TRANG!

Bilah itu menghantam inti ruang, menciptakan retakan panjang.

Tesseract terdiam sepersekian detik.

"Menarik."

Ia memperluas kesadarannya ke seluruh dimensi. Menganalisis setiap gerakan Storm. Setiap denyut energinya.

Kekuatan Tesseract masih jauh di atas.

Ia bisa menghapus Storm kapan saja… jika mau mengorbankan stabilitas dimensinya sendiri.

Namun di situlah masalahnya.

Storm tidak bertarung untuk menang cepat.

Ia bertarung untuk bertahan.

Setiap kali dipukul jatuh, ia bangkit.

Setiap kali ditekan, ia menyesuaikan diri.

Seperti makhluk yang berevolusi di tengah pertarungan.

"Kau tidak takut mati?" tanya Tesseract.

Storm tertawa pendek. "Takut. Tapi aku lebih takut tidak mencoba."

Dalam sekejap, Storm menghilang dari penglihatan.

Bukan teleportasi.

Ia bergerak begitu cepat hingga ruang di sekitarnya terkoyak.

Muncul di sisi Tesseract—

BOOM!

Pukulan telak mengenai perisai.

Retakan kali ini lebih dalam.

Dimensi bergetar hebat.

Tesseract terdorong beberapa meter ke belakang.

Itu kecil. Hampir tak berarti.

Namun bagi penjaga dimensi, itu adalah gangguan.

"Kau seperti binatang liar," ucap Tesseract pelan.

"Sulit dijinakkan. Sulit diprediksi."

Storm tersenyum lebar, napasnya berat.

"Bagus. Karena aku tidak pernah berniat jadi hewan peliharaan takdir."

Tesseract akhirnya menggerakkan kakinya.

Langkah pertama sejak pertarungan dimulai.

Seluruh dimensi berubah warna menjadi gelap kebiruan.

"Kau memaksaku untuk lebih serius."

Ruang mengeras. Hukum-hukum fisika dipadatkan. Energi Storm mulai terasa berat, ditekan dari segala arah.

Kali ini, bahkan gerakannya melambat.

Tesseract berdiri tepat di depannya.

"Kekuatanmu menarik. Nalurimu tajam."

Ia mengangkat tangan dan menekan udara di depan Storm.

BOOM!

Tubuh Storm terhantam langsung ke lantai dimensi, menciptakan kawah retakan yang luas.

"Kau kuat," lanjut Tesseract, "tapi aku tetap lebih unggul di wilayahku."

Storm batuk darah. Tubuhnya gemetar. Energinya mulai tidak stabil.

Namun matanya—masih menatap tajam.

Perlahan, ia tertawa.

"Kalau begitu… aku tinggal bertahan sampai wilayahmu tak sanggup lagi menahanku."

Dimensi bergetar lagi.

More Chapters