Pedang panjang, perisai, cambuk, pakaian... Cara berpakaian Superwoman sangat mirip dengan Diana, bahkan mereka sama-sama cantik.
Yang membedakan mereka berdua adalah temperamen serta penyelarasan mereka. Jika Diana berpihak pada kebakian, maka Superwoman cenderung pada kejahatan.
"Sayang, mari kembali ke kamar." Setelah makan dan minum di perjamuan makan, Yves siap untuk kembali ke kamar.
"Mengapa terburu-buru?" Superwoman nampak sedikit malu, pria ini benar-benar lugas.
"Um, aku ingin kembali dan menghabiskan waktu berduaan denganmu. Perjamuan ini sangat membosankan."
Setelah berkenalan dengan beberapa orang penting di pesta ini, Yves tidak lagi tertarik untuk berkeliaran.
"Oke, penjahat kecil. Ayo, ikut aku." Katharina menarik tangan pria itu lalu membawanya lewat sebuah lorong yang dipenuhi oleh dekorasi baju besi abad pertengahan.
Setelah berjalan selama lima menit, mereka akhirnya sampai di sebuah kamar yang didekorasi dengan alat-alat fitnes serta senjata. Sekilas, kamar ini tidak terlihat seperti kamar wanita.
"Um, apakah ini kamarmu?" Yves memandang ruangan itu dengan rasa bingung.
"Ya, kenapa? Apakah kamu tidak menyukainya?" Katharina mengangkat alisnya.
"Tidak juga. Setiap orang memiliki minat dan hobi berbeda, hanya saja hobimu sedikit istimewa." Yves menggelengkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, bisakah kamu mengajariku seni bela diri? Aku ingin mempelajarinya, hanya saja bingung mau belajar ke siapa." Yves mengungkapkan pemikirannya.
Meskipun dia ahli dalam sihir serta memiliki tubuh sekuat baja, tapi seni bela dirinya masih sangat dipertanyakan. Dia dapat bertarung, tapi tinju jalanan saja tidak cukup.
"Hmm, aku bisa mengajarimu. Sekarang kuatkan tubuh dan mentalmu, jika kamu ingin belajar memukul orang, maka kamu perlu belajar dipukul terlebih dahulu!" Katharina membunyikan buku-buku jarinya sambil tersenyum sadis.
"Huh? Tunggu, aku ingin belajar bertarung, bukan belajar di pukul!" Yves berbalik dan segera berlari dengan tergesa-gesa.
"Hmph, serangan dan pertahanan sama-sama penting. Jangan lari! kamu tidak akan bisa lari dariku!"
Lima jam kemudian, Superwoman kelelahan dan tidak lagi dapat bergerak. Di sisi lain Yves juga tidak lebih baik, wajah dan hidungnya menjadi bengkak!
Nona muda ini benar-benar gila! Dia memukulnya dengan seratus persen kekuatan, sial, seperti sedang meluapkan kemarahan dan dendamnya.
Meskipun tubuhnya terasa agak sakit, tapi Yves tidak terlalu mempermasalahkannya. Jika cara belajar istimewa ini mampu membuatnya kuat, maka dia akan menanggungnya dengan sekuat tenaga.
Berdiri, Yves melepaskan bajunya. Otot-otot sekuat baja terekspos dengan jelas. Berkat Serum serta latihan tubuh yang dia lakukan secara rutin, kini tubuhnya telah bertransformasi menjadi tubuh super kuat khas para Dewa Yunani.
Sambil memijat bahunya, Yves pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan bau badan dan keringatnya.
Setelah mandi, Yves kembali ke kamar lalu melanjutkan berlatih tinju.
Gaya bertarung Amazon sangatlah sederhana dan praktis, sebuah gaya bertarung yang telah berevolusi dan di tempa melalui medan perang.
Setiap gerakannya memerlukan kekuatan yang sangat besar, tujuan utamanya tak lain untuk mengakhiri lawan dalam satu pukulan.
Keahlian bertarung Katharina memang patas dipuji. Yves mulai berpikir bagaimana jadinya jika Superwoman dan Wonder Woman dipertemukan. Apakah mereka akan saling berkelahi?
Setelah dua jam latihan, Yves menarik napas dan menghembuskannya secara teratur. Serum yang dia gunakan mulai beraksi, membuatnya pulih dengan cepat tidak perduli seberapa parah luka atau kelelahan yang dia derita.
Berkat bantuan Serum itu, kini tubuhnya hampir mencapai batas yang dapat dicapai oleh manusia. Berlari maraton tanpa kehilangan napas adalah masalah sepele dengan fisiknya yang sekarang, heck, dia bahkan bisa melubangi 'gunung' dengan pinggulnya selama berjam-jam! Ahem, tentunya Anda tahu apa yang dia maksud, hehe.
Melihat ke arah sekeliling ruangan, sungguh sulit dibayangkan bahwa kamar ini adalah kamar perempuan. Mengapa istri-istrinya sangat suka berkelahi dan membunuh? Yah, kecuali para pembantu dengan karakter lembut yang dia pekerjakan di rumah, tentu saja.
***
Pagi-pagi keesokan harinya, Katharina bangun dengan senyum manis ditemani oleh rasa bingung dari dalam hatinya.
Dia sendiri tidak terlalu menyayangi Yves, tapi bukan berarti dia membenci pria itu, bahkan dia merasa sedikit manis ketika ditemani olehnya.
Apakah Yves benar-benar pasangan masa depannya? Meskipun dia ingin jatuh cinta, tapi tujuan utamanya sekarang tak lain untuk menyelamatkan Ibunya.
Jika bukan karena Ayahnya, mustahil bagi mereka berdua untuk bertemu di sini.
Semua pemikiran ini membuatnya mendesah.
Tak lama setelah Katharina bangun, Yves juga bangun.
"Sayang, aku harus pergi ke Kamar-Taj untuk menghadiri pertemuan Master sihir. Aku mungkin tidak akan bisa kembali selama beberapa hari, apakah kamu mau ikut bersamaku?" Tanya Yves.
"Pertemuan di Kamar-Taj? Hmm, tidak, aku akan menunggumu di sini. Ingat, aku tidak akan menjadi kekasihmu sebelum kamu menyelesaikan misimu."
"Untuk sekarang anggap saja aku sebagai asisten. Ingat misimu dan jangan lupa untuk berhati-hati di jalan." Katharina yang sebelumnya terlihat linglung kini telah kembali ke temperamen sombongnya. Dia menjawab sambil melambaikan tangannya, acuh tak acuh.
"Oke, kalau begitu aku akan pergi. Ketika urusanku selesai, aku akan menyusulmu dan membawamu ke rumah. Semua orang akan menyambut kedatanganmu di sana." Yves tersenyum lembut. Adapun dengan sikap cepat marah Katharina, dia tidak akan terlalu khawatir. Selama ada Bibi Sarah, wanita ini akan dapat membiasakan diri lebih cepat, toh Sarah sangat ahli dalam bergaul.
Membuka Portal, Yves masuk dan segera diteleportasi.
Pagi-pagi begini Sindella masih belum bangun. Entah mengapa, semenjak Sindella mengikutinya, dia menjadi sedikit lebih malas. Apakah dia terlalu memanjakannya? Mungkin.
Setelah mengobrol dengan Santana, Yves pergi ke perpustakaan sebelum keberangkatan ke Kamar-Taj.
"Teks Olympus, teks Olympus... Apakah teks Olympus ada di perpustakaan?" Yves bergumam sambil mengelilingi rak buku.
Ketika sampai pada rak berisi buku antologi klasik, Yves menerbangkan buku-buku itu ke udara kamudian membawanya ke meja baca.
Lima buku yang telah menguning itu terbuka secara bersamaan, mengandalkan Devine Power, Yves membaca kelima buku itu dengan konsentrasi penuh.
Jika salah satu buku itu tidak mengandung infomasi tentang teks Olympus, maka buku itu akan terbang kembali ke rak buku seperti sediakala.
Efisiensi ini jauh lebih cepat dari pada memeriksanya secara manual. Ketika menemukan buku terkait, maka buku itu akan langsung diletakkan di atas meja.
Satu demi satu, buku-buku yang sebelumnya tertata rapi di rak buku mulai berterbangan.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sekitar seratus lima puluh buku telah di tarik dan dikembalikan secara otomatis ke rak buku!
Dari seratus lima puluh buku tersebut, kurang dari sepuluh buku yang cocok dengan apa yang dia inginkan.
Accesss 230 extra chapters here: patréon.com/mizuki77
