Ficool

Chapter 383 - Bab 382

Eddie tidak perlu melakukan apa-apa untuk melawan monster-monster itu, dia hanya perlu duduk santai sambil menyalin seluruh data ke Hard Disk yang dia bawa.

Salah satu informasi yang dia copy dari komputer pulai ini sangat menarik minatnya, yaitu [bagaimana cara menggunakan kekuatan listrik]. Nampaknya dia akan bermain-main dengan informasi itu setelah misi ini selesai.

Sebagai protagonis, bagaimana mungkin dia tidak memiliki pasangan kuat? Selama dia mau, dia dapat berkata "Istriku, tolong selamatkan aku!", dan foilah, Jessica dan Lisa akan membantai musuh-musuhnya.

*Bang!*

Salah satu Hunter bergegas masuk melewati jendela, dengan fisik serta kulit kuat yang dia miliki. Tubuh fisiknya cukup kokoh untuk menahan pecahan kaca serta benda-benda tajam lainnya.

Sayang sekali dia berhadapan dengan Jessica, sebelum monster itu dapat mendarat, tubuhnya tertinju oleh Jessica.

Alih-alih mengindari Hunter yang mencoba menyerangnya, Lisa meninju kepala monster itu satu per satu.

Saat ini bilah kemajuan komputer menunjukkan angka tujuh puluh persen, perlu waktu sepuluh menit lagi untuk menyelesaikan transfer data ini.

Pintu laboratorium yang telah tertutup rapat digedor-gedor oleh banyak sekali zombie. Pintu itu terbuat dari pelat baja berat, sebuah bahan yang mana tidak dapat digores oleh zombie-zombie itu.

Bahkan jika mereka mencoba membobolnya selama seratus tahun, mereka tidak akan dapat melakukannya.

Satu-satunya musuh yang harus diwaspadai adalah Hunter berkulit merah. "Hati-hati, monster berwarna merah itu sangat beracun."

Ketika Lisa mendengar informasi itu, dia tidak jadi meninju monster merah itu. Menggunakan kemampuan barunya, dia meledakkan kepala lawan hanya dengan gelombang suaranya saja.

Di sisi lain, Jessica menggunakan pistol jenis baru yang tentunya berkaliber tinggi. Dia meledakkan kepala monster beracun itu dalam satu kali tembakan.

Alasan mengapa Jessica tidak menggunakan kemampuan yang sama seperti Lisa tak lain karena kemampuannya tidak terlalu stabil, oleh karena itu dia jarang menggunakannya.

Di sisi lain pulau, Tracker melarikan diri dengan Gatling Gun dan peluncur roket ke arah jembatan baja.

Di tempat itu terdapat banyak Albinoid, ketika Tyrant itu mendekat, dia langsung tersengat listrik bertegangan tinggi sampai menjadi kaku.

Sengatan listrik itu berhasil menghancurkan chip yang tertanam di otaknya, berkat hal ini, Tyrant yang kehilangan sebagian dari kewarasannya menjadi semakin ganas.

Tyrant Nemesis itu menginjak-injak Albinoid mutan sampai mati. Setelah membersihkan jalan, Tyrant itu berlari menuju pusat pulau.

Di pesisir pulau, pasukan Angkatan Laut telah tiba. Ada salah satu kepal selam yang diserang oleh beberapa hiu, meskipun gigi hiu itu patah akibat menggigit kapal selam itu, tapi kapal selam itu menerima kerusakan berat yang mengakibatkannya tenggelam.

Hilangnya kapal selam pada saat-saat penting ini membuat komandan armada menjadi sangat marah.

"Nyalakan radar sonar, konsentrasikan daya tembakmu, lalu hancurkan semua monster sialan yang ada di dalam air!"

Tak lama kemudian, rudal air segera diluncurkan. Hiu yang tak mampu menghindari rudal-rudal itu langsung hancur berkeping-keping.

Sebuah datasemen marinir berjumlah hampir enam puluh orang akhirnya mendarat di pulau.

Sejauh ini, hampir seratus orang menjadi korban, lima belas helikopter hilang serta satu kapal selam hancur. Komandan yang mengetahui hal ini merasakan sakit dalam hatinya.

"Ini Echo Six, kami telah mengambil kendali pesisir pulau, tapi masih ada sejumlah besar biohazard di sini. Tolong beri instruksi lanjutan." Jettingham melapor menggunakan alat komunikasi.

"Dipahami, perintah selanjutnya adalah pergi ke kastil yang ada di pusat pulau. Tangkap komandan pulau bernama Alfred."

"Dapatkan lokasi basis Antartika, lalu kumpulkan bukti kejahatan Umbrella yang ada di pulau." Morgan memberikan arahan baru.

Setelah Jettingham mendapatkan arahan baru, dia berkada kepada semua anggota Echo Six yang telah berkumpul. "Kita akan pergi ke pusat pulau untuk menangkap Alfred. Mari pergi."

Di saat yang sama, komandan armada kapal menerima perintah. "Saya Ingrid Hunnigan, komunikator [Field Operations Support]."

"Dua agen yang bekerja langsung di bawah Presiden telah dikirim ke Pulau Rockfort untuk operasi pengintaian. Diharap untuk tidak menyerang, nomor operasi misi adalah-"

"Tunggu sebentar... Periksa apakah itu benar atau tidak." Komandan menginstruksikan asistennya.

"Markas besar telah menerima pesanan ini, berita itu benar." Segera, asisten itu menjawab.

"Baiklah, tolong beri tahu saya nama kedua agen itu. Kami akan memberitahu para prajurit di bawah." Jawab Komandan.

"Leon dan Kevin."

"Informasi spesifik ada di dokumen." Jawab Hunnigan secara singkat.

Tepat di arah utara pulau, dua orang memanjat tebing dengan alat khusus. Mereka berdua tak lain adalah Kevin dan Leon yang berhasil selamat dari Raccoon City!

Keduanya sekarang menjadi Agen langsung president U.S, dan mereka hanya mematuhi perintah orang tertentu.

"Cuaca mendung ini benar-benar merepotkan, mudah sekali tergelincir di hari hujan. Lebih baik bergegas." Kata Kevin sambil terus memanjat.

"Saya tidak ingin tergelincir, berenang di cuaca dingin akan sangat merepotkan." Leon tersenyum kecut.

Saat keduanya sibuk memanjat, sosok berpakaian merah dengan sepatu hak tinggi memanjat dengan kecepatan yang sangat cepat. Bahkan di cuaca buruk serta lokasi yang tidak menguntungkan seperti ini, kecepatannya tidak melambat sedikitpun.

*Swoosh!*

Sosok Ada Wong yang cantik melintas dengan cepat. Leon yang melihat bayangan orang itu terkejut. "Sepertinya aku baru saja melihat seseorang!"

"Dia gadis mata-mata, jangan terlalu dipikirkan. Selama orang itu tidak mencoba menghentikan kita, maka biarkan saja." Kevin tahu siapa wanita itu, dia telah melihat wanita cantik itu bersama Eddie.

Entah mengapa, melihat sosok wanita itu menghilang, Leon merasa bahwa ada sesuatu yang telah dirampok darinya, perasaan ini benar-benar sangat aneh...

Menggelengkan kepalanya, Leon mencoba menghilangkan perasaan sedih yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Melihat ke atas, Leon terus memanjat tebing dengan hati-hati.

Access 285 extra chapters here: patréon.com/mizuki77

More Chapters